Tuhan adalah tempat perlindunganku

“Demikianlah TUHAN adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak, tempat perlindungan pada waktu kesesakan.” Mazmur 9: 9

Kemarin saya sempat mengunjungi tembok besar China (the Great Wall of China) untuk kali yang kedua. Tembok besar China adalah salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Ini merupakan bangunan terpanjang yang pernah dibuat oleh manusia (lebih dari 8 km), sekalipun merupakan gabungan tembok-tembok pendek yang mengikuti pegunungan di utara China.

Pada awalnya tembok itu mulai dibangun sekitar 900 tahun sebelum Masehi dan bertujuan untuk menahan serangan musuh dan suku-suku dari utara Tiongkok. Dengan berjalannya waktu, tembok itu rusak dan mengalami perbaikan oleh berbagai penguasa suku. Apa yang dapat dikunjungi saat ini adalah sebagian kecil dari tembok yang sudah diperbaiki oleh pemerintah Tiongkok modern untuk memenuhi syarat keamanan dan kenyamanan turis.

Jika suku-suku bangsa di China pada zaman dulu berharap untuk bisa menahan serangan musuh dengan membangun tembok yang tinggi, bangsa-bangsa lain di dunia juga memakai taktik yang sama. Tembok Yerikho misalnya, adalah tembok pertahanan suku Kanaan yang sebenarnya sudah mulai dibangun pada tahun 8000 sebelum Masehi.

Pada zaman modern, tembok pertahanan kota semacam ini sudah tidak dijumpai karena tidak praktis atau pun berguna. Walaupun begitu, untuk bisa bertahan atau survive manusia modern mempunyai tembok-tembok pertahanan yang lain, seperti kedudukan, kepandaian, kekayaan dan sebagainya. Tanpa bentuk pertahanan seperti itu, banyak manusia merasa lemah karena mudah dipermainkan dan dihancurkan orang lain.

Bagi mereka yang lemah dan mengalami penderitaan karena perlakuan orang lain, seringkali perhatian orang lain dan perlindungan hukum yang dibutuhkan terasa tidak ada. Tanpa kedudukan, pengaruh dan uang, hidup orang kecil bisa terasa berat. Mereka yang sudah jatuh, seringkali terhimpit tangga.

Kemana kita harus mengadu jika orang lain tidak peduli atas nasib kita? Apakah yang dapat kita lakukan untuk membendung serangan musuh-musuh kita? Ayat di atas mengingatkan kita bahwa jika usaha kita untuk mencari perlindungan dari dunia seringkali sia-sia, Tuhan di surga adalah satu-satunya harapan kita. Ia yang mahakuasa dan mahakasih adalah tempat perlindungan orang yang berharap kepadaNya, sekarang dan selamanya.

“Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara.” Mazmur 9: 18

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s