Memimpin dengan kasih

Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” Matius 20: 25 – 27

Salah satu hal yang menarik perhatian turis di Tiongkok adalah banyaknya kamera monitor CCTV yang bertebaran di berbagai tempat. Menurut kabar, kamera ini ada yang digunakan untuk memonitor tingkah laku atau perbuatan setiap orang siang dan malam. Dengan demikian, orang-orang yang melakukan kejahatan atau perbuatan yang salah bisa dicari dan ditemukan oleh yang berwajib dengan mudah, untuk kemudian dihukum atau dikenakan “denda sosial” sehingga mereka tidak bisa keluar negeri atau mendapat kemudahan dari pemerintah.

Bagi mereka yang terbiasa dengan kebebasan demokrasi a la dunia barat, cara pemerintah Tiongkok memperlakukan rakyatnya mungkin dianggap represif atau bersifat tangan besi. Tetapi bagi pemerintah setempat, itu mungkin satu-satunya cara untuk bisa “menertibkan” hampir 1400 juta penduduknya. Manusia dalam keterbatasannya, secara umum tidak bisa mengatur orang lain dengan kelemahlembutan.

Bukan hanya pemerintah saja yang sering mengatur rakyatnya dengan tangan besi, dalam kehidupan sehari-hari pun orang sering merasa bahwa mereka hanya dapat mengatur orang lain dengan cara otoriter. Mungkin pengalaman pahit di masa lalu, orang merasa kurang yakin untuk dapat memimpin orang lain dengan cara yang lebih lunak. Karena itu ada direktur yang bertingkah laku seperti seorang diktator, dan ada orangtua yang mendidik anak-anaknya dengan keras.

Adakah cara lain untuk mengatur orang lain agar mereka bisa bekerja dengan baik? Bagaimana kita bisa membuat orang lain mau untuk menurut aturan atau standar kehidupan tanpa membuat mereka merasa tertekan? Ayat di atas menyatakan bahwa siapa yang ingin menjadi pemimpin, hendaklah ia menjadi pelayan, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka, hendaklah ia menjadi hamba. Orang yang ingin agar orang lain untuk tunduk kepada kepemimpinannya, harus bisa menyatakan kasihnya dalam segala tindak-tanduk dan keputusannya.

Menjadi pemimpin yang baik dan yang dicintai bawahannya tidaklah mudah. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana caranya atau bisa melaksanakannya dengan benar, jika tidak pernah menyadari bagaimana Yesus, Anak Allah, sudah merendahkan diriNya untuk turun ke dunia sebagai manusia biasa. Seperti Yesus sudah menjadi gembala yang baik bagi umatNya dengan mau berkurban bagi mereka, kita pun harus mau menunjukkan kasih kita kepada mereka yang kita pimpin.

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” Yohanes 10: 11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s