Tuhan tidak pernah berubah

“Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.” Maleakhi 3: 6

Mereka yang membandingkan Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sering mendapat kesan bahwa Tuhan yang ada dulu, berbeda dengan Tuhan yang ada sekarang. Tuhan dalam Perjanjian Lama adalah Tuhan yang kejam dan menyebabkan kematian banyak orang, sedangkan Tuhan dalam Perjanjian Baru adalah Tuhan yang mahakasih dan mahasabar, yang membenci segala bentuk kezaliman. Tuhan sudah tentu adalah Oknum Ilahi yang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan zaman, begitulah pikiran sebagian orang.

Tidak dapat disangkal bahwa di sepanjang sejarah manusia dan peradabannya sudah berubah, dan dengan itu apa yang dulu bisa diterima, sekarang mungkin dianggap sebagai hal yang tidak etis atau tidak baik, dan begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, ada orang yang berpendapat bahwa Tuhan pasti juga berubah sesuai dengan kemajuan zaman. Tuhan tidak mungkin ketinggalan zaman, begitu pikir mereka. Tetapi, jika Tuhan berubah sedemikian, Tuhan yang “makin pandai” bukanlah Tuhan yang sempurna dari awalnya.

Menurut Alkitab dan sesuai dengan ayat di atas, Tuhan adalah Oknum Ilahi yang mahasempurna sejak mulanya. Pengakuan Iman Westminster yang sering dipakai sebagai bahan katekisasi lebih lanjut menegaskan bahwa Tuhan tidak berubah dalam eksistensi, kebijaksanaan, kuasa, kesucian, keadilan, kebaikan dan kebenaranNya (Ibrani 1: 10 – 12). Sebagai Tuhan, Ia tidak dapat bertambah atau berkurang dalam segala kebesaranNya.

Jika manusia berubah-ubah cara hidupnya, Tuhan selalu menghadapinya dengan standar kesucian dan kemurnian yang sama. Sebagai contoh, jika dulu orang Kristen memandang pernikahan antara pria dan wanita sebagai sesuatu yang selayaknya diberkati Tuhan, sekarang tidak bisa mengharapkan bahwa Ia akan menyesuaikan diri dengan gaya kebebasan manusia modern yang sering membuat definisi baru tentang pernikahan.

Jika sifat hakiki Tuhan tidak pernah berubah, adakah perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru? Sudah tentu ada! Dalam Perjanjian Lama, Tuhan membimbing umat Israel untuk menggenapi penyelamatanNya; dalam Perjanjian Baru, Ia sudah menggenapi semuanya dengan pengurbanan Yesus Kristus. Tetapi dalam semuanya, kasih dan kuasa Tuhan tidak berubah.

Jika Tuhan dulu membimbing umat Israel sebagai umat pilihanNya, dengan kematian Yesus di kayu salib, setiap orang secara pribadi sekarang bisa menjadi umatNya (Yohanes 3: 16). Dengan demikian, setiap orang bisa mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan. Setiap orang juga harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan dan tingkah lakunya secara pribadi kepada Tuhan.

Tuhan kita yang mahakuasa, mahatahu, mahahadir, mahasuci dan mahakasih tidak pernah berubah untuk selama-lamanya. Karena itu, kitalah yang harus berubah, makin lama makin bisa menuruti firmanNya selama kita hidup di dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s