Keadilan sosial adalah kehendak Tuhan dari dulu

Jawabnya: “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.” Lukas 3: 11

Perjalanan ke Tiongkok sudah berakhir kemarin, namun saya masih saja memikirkan kehidupan masyarakat di sana. Ada banyak kemajuan ekonomi dan teknologi yang saya lihat, dan itu tentunya diketahui siapa saja. Walaupun demikian, orang mungkin kurang memahami tantangan hidup rakyat jelata di sana.

Adalah kenyataan bahwa rakyat Tiongkok sekarang ini tidak jauh berbeda dengan rakyat negara barat yang bersifat kapitalis. Dalam hal ini, untuk mendapatkan seorang istri, kaum pria mempunyai banyak tantangan. Secara tradisional, seorang pria yang ingin menikah harus memenuhi 3 persyaratan. Pada tahun 70an, persyaratan itu adalah memiliki sebuah sepeda, sebuah jam tangan dan sebuah mesin jahit. Sepuluh tahun sesudahnya, persyaratan itu berubah menjadi sebuah lemari es, sebuah TV dan sebuah mesin cuci pakaian. Sekarang, seorang pria yang ingin menikah harus mempunyai rumah, mobil dan penghasilan yang cukup. Dari ketiga syarat itu, rumah adalah yang paling penting, tanpa itu seorang pria tidak akan bisa menikah.

Apakah semua orang bisa membeli rumah di Tiongkok? Jawabnya sudah tentu tidak. Karena itu lebih banyak orang yang terpaksa hidup di rumah atau apartemen yang sangat kecil dan kotor, daripada yang bisa membeli atau mengangsur rumah. Keadilan sosial di negara yang pernah bersemboyan sama rata sama rasa itu agaknya belum bisa tercapai, dengan jurang perbedaan antara yang kaya dan miskin yang menjadi semakin besar seperti halnya di berbagai negara barat.

Dalam negara mana pun yang keadaan ekonominya maju dengan pesat, selalu timbul ekses negatif dimana yang kaya akan menjadi semakin kaya, dan mereka yang miskin menjadi semakin miskin. Ini bukan saja bisa membuat ketidakseimbangan sosial dan politik, tetapi juga bisa membuat orang Kristen menjadi batu sontohan. Bagaimana prinsip kasih kepada sesama selalu didengungkan jika mereka yang menderita tidak pernah melihat adanya uluran tangan dari umat percaya? Bagaimana gereja-gereja yang besar semakin jaya dan mempunyai pimpinan yang kaya raya, sedangkan gereja-gereja kecil harus bisa bertahan untuk hidup?

Ajaran Yohanes Pembaptis mengenai kasih dan keadilan sosial jelas nampak dalam ayat di atas. Apa yang dikatakannya tidaklah sulit untuk dimengerti, tetapi sulit untuk dilaksanakan oleh orang Kristen. Yohanes mengajarkan bahwa orang yang mempunyai dua helai baju haruslah membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, haruslah ia berbuat juga demikian. Apakah ajaran Yohanes ini sudah tidak berlaku di zaman ini? Apakah ajaran ini hanya berlaku dalam keadaan tertentu? Tentu saja tidak.

Ajaran Yohanes itu memang untuk orang percaya, tetapi bukan untuk berbuat baik kepada kaum sendiri atau kepada mereka yang kita anggap “pantas” untuk ditolong. Kita harus ingat bahwa Tuhan sudah menunjukkan kasihNya ketika kita belum menjadi umatNya dan sewaktu kita masih hidup dalam kecemaran dosa. Dengan demikian, Tuhan kita adalah Tuhan yang menghendaki kita untuk melaksanakan prinsip keadilan sosial dimana saja dan kapan saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s