Jangan malu atau ragu dalam mengabarkan Injil

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” 2 Timotius 2: 15

Baru-baru ini saya membeli sebuah baterai yang bisa diisi ulang dari sebuah penjual di luar negeri melalui internet. Baterai ini diiklankan dengan garansi 3 tahun, namun setelah 6 bulan sudah mati dan tidak bisa dipakai lagi. Saya berusaha menghubungi si penjual, tetapi pesan saya tidak pernah mendapat sambutan. Si penjual mengabaikan permintaan saya untuk mengembalikan uang saya. Dengan rasa kesal, saya kemudian menulis surat ke forum pembeli dan memperingatkan orang lain untuk berhati-hati dan jangan terjebak dalam masalah yang sama. Seorang pembaca forum yang membaca surat saya menanggapinya dengan sarkastik dan mengajukan pertanyaan apa gunanya saya mengingatkan orang  lain, jika saya tidak membaca peringatan orang lain mengenai hal yang serupa sebelum membeli.  Pertanyaan yang sederhana, dan agak berbau negatif, tetapi membuat saya berpikir dalam-dalam.

Dalam usaha mengabarkan Injil, orang Kristen sering menghadapi reaksi dunia yang dengan sarkastik mempertanyakan apa yang mendorong mereka untuk mengingatkan orang lain agar memilih cara hidup yang baik jika mereka sendiri tidak dapat sepenuhnya menjalani hidup yang tidak bercela. Bukankah Alkitab sudah mengingatkan mereka untuk menempuh hidup suci, tetapi mereka tetap saja gagal melaksanakannya? Mengapa mereka masih mengharapkan orang lain untuk mau mendengarkan pesan mereka? Orang Kristen adalah orang yang sok pandai dan munafik, begitu ujar dunia. Usaha penginjilan adalah usaha yang tidak berguna selama orang Kristen tetap terlihat sebagai orang yang kurang berpengalaman dan sering melakukan kekeliruan, begitu pendapat negatif sebagian orang.

Paulus dalam suratnya kepada rekannya yang jauh lebih muda, Timotius, mungkin melihat gejala yang serupa. Timotius karena masih muda dan belum berpengalaman, mungkin mengalami kesulitan untuk meyakinkan orang lain yang banyak makan asam-garam kehidupan tentang keselamatan dalam Kristus. Mungkin saja ada kalanya Timotius merasa ragu dan bahkan melakukan kekeliruan dalam usaha mengabarkan injil. Mungkin juga Timotius merasa malu karena adanya kelemahan dan kekurangan yang dimilikinya. Tetapi, Paulus mengingatkan Timotius bahwa sebagai pekerja Tuhan, ia tidak perlu ragu. Timotius harus tetap bekerja untuk Tuhan dalam segala ketidak-sempurnaannya, tetap berusaha untuk hidup baik yang sesuai dengan firmanNya, dan dengan jujur dan terus terang mengabarkan apa yang benar menurut firman Tuhan.

Pagi ini, adakah keraguan kita untuk mengabarkan injil kepada orang-orang di sekitar kita? Adakah rasa malu dan kuatir dalam hati kita karena adanya orang-orang yang menuduh kita munafik dan bodoh? Adakah orang-orang yang marah kepada kita karena menganggap kita menggurui mereka yang sudah lebih berpengalaman dalam hidup? Adakah keraguan dalam hati kita akan arti semua jerih payah kita jika banyak orang yang ada sebelum kita kelihatannya tidak berhasil untuk mengubah kehidupan masyarakat di sekeliling kita?

Firman Tuhan berkata bahwa sebagai seorang pekerja yang baik, kita hanya melakukan apa yang diminta oleh majikan kita. Kita harus tetap mau berusaha untuk hidup lebih baik dan bekerja lebih giat untuk menyampaikan kebenaran Tuhan tanpa menguatirkan apa yang akan diperbuat atau dikatakan orang lain. Tuhan sendiri yang akan menyertai kita dan Ia juga yang bekerja dalam hidup orang lain untuk menyempurnakan apa yang sudah kita lakukan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s