Menghadapi badai kehidupan

“Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” Matius 7: 25

Pagi ini saya sibuk sekali membersihkan balkoni apartemen saya di Gold Coast. Kemarin siang 128 mm hujan turun dalam waktu satu jam. Banyak daerah yang kebanjiran, dan ribuan rumah terputus aliran listriknya. Untunglah daerah saya tidak mengalami banjir, sekalipun daun dan lumpur dari taman menutupi lantai balkoni.

Menurut badan meteorologi, hujan kemarin termasuk besar, mungkin hujan sedemikian hanya terjadi sekali tiap 50 tahun. Tetapi memang perubahan iklim yang terjadi di Australia sering membuat hujan besar dan badai terjadi di saat yang tidak terduga, sekalipun di banyak tempat hujan jarang sekali turun. Mereka yang tidak siap menghadapi kedatangan hujan besar seperti itu tentu saja bisa mengalami kebocoran atap, tumbangnya pohon atau kebanjiran. Itu masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan kerusakan rumah yang disebabkan badai.

Mereka yang tidak pernah membayangkan bahwa badai besar bisa terjadi, tentunya tidak merasakan perlunya persiapan khusus. Rumah yang berada di daerah yang tidak pernah dilanda badai tentunya tidak perlu mempunyai desain dan cara pemeliharaan yang khusus.

Hidup manusia dalam ayat di atas dibayangkan sebagai rumah yang dilanda badai. Datangnya masalah kehidupan yang besar tentunya menggoncang hidup siapa saja. Badai sebesar itu mungkin belum sering terjadi, dan setiap orang berdoa dan berharap agar tidak terjadi, tapi jika terjadi itu tidak dapat ditolak atau dihindari.

Dalam dunia yang sudah tercemar dosa, siapa saja bisa mengalami masalah hidup yang besar. Tetapi, bagi umat Kristen penderitaan yang lebih besar sering terjadi karena dunia membenci mereka. Lebih dari itu, orang Kristen juga sering mengalami serangan iblis yang ingin memisahkan mereka dari Tuhan.

Kapankah kita akan mengalami badai kehidupan di masa depan? Tentu saja tidak ada orang yang bisa menjawabnya. Hanya Tuhan yang tahu, sekalipun Dia bukan penyebabnya. Dalam hal ini, kita yang percaya kepada Tuhan harus yakin bahwa apa pun yang terjadi, Tuhan akan menyertai kita. Tetapi ini bukan berarti bahwa kita tidak perlu berbuat apa-apa.

Seperti mempersiapkan sebuah rumah untuk menghadapi badai yang akan datang, kita harus memohon agar Tuhan memperkuat iman kita hari demi hari, dan memusatkan hidup kita kepadaNya. Dengan demikian, jika badai kehidupan datang, kita akan tetap dapat berdiri teguh dalam iman sampai akhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s