Pernikahan adalah sebuah pilihan dan tanggung jawab setiap insan

“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” 2 Korintus 6: 14

Pernikahan antara seorang pria dan wanita adalah apa yang diperintahkan Tuhan setelah penciptaan manusia (Kejadian 1: 28). Berbeda dengan hewan yang berhubungan dengan lawan jenisnya melalui dorongan naluri saja, manusia mempertimbangkan berbagai faktor sebelum memutuskan untuk menikah. Walaupun demikian, di zaman modern ini banyak orang yang berpendapat bahwa konsep pernikahan itu sudah kuno dan karena itu ada orang yang percaya bahwa hubungan intim antara pria dan wanita adalah untuk memenuhi kebutuhan jasmani saja, dan oleh karena itu seringkali didasarkan pada naluri dan perhitungan untung-rugi.

Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa pernikahan adalah sesuatu pilihan yang dilakukan manusia bukan saja untuk melakukan hubungan jasmani, tetapi juga menyangkut soal rohani. Memang, ikatan pernikahan yang diberkati Tuhan dari awalnya adalah ikatan dua insan yang berlainan jenis yang berjanji saling mengasihi untuk seumur hidup dan dalam setiap keadaan, dan dengan demikian melambangkan hubungan kasih antara Allah dan gerejaNya (Efesus 5: 22 – 25).

Manusia dapat memilih untuk menikah atau tidak menikah, tetapi rasul Paulus menganjurkan mereka yang ingin melayani Tuhan dengan sepenuhnya agar memilih hidup membujang. Walaupun demikian, jika orang merasa dapat tergoda untuk melakukan hal yang salah, lebih baik mereka menikah (1 Korintus 7: 9). Ini pun adalah keputusan yang harus diambil manusia, dan bukan yang ditentukan Tuhan.

Mereka yang ingin menikah, harus memikirkan bagaimana dengan pernikahan mereka, nama Tuhan akan makin dimuliakan. Karena itu, jika pasangan mereka justru membuat mereka menjauhi Tuhannya, ada pertanyaan apakah keputusan yang diambil sudah sesuai dengan kehendakNya. Sekali lagi, setiap manusia harus bertanggung jawab atas siapa yang dipilih sebagai pasangannya, bukan Tuhan.

Mereka yang ingin menikah tetapi tidak atau belum juga mendapatkan pasangan yang sesuai, mungkin sering memikirkan mengapa Tuhan yang menghendaki manusia untuk berkeluarga agar bisa saling tolong menolong, tidak membuka jalan bagi mereka. Dalam hal ini, sudah tentu setiap orang percaya bisa menyampaikan permohonan kepada Tuhan sambil mengakui bahwa pada akhirnya kehendak Tuhanlah yang harus terjadi.

Jika orang menemukan jodoh yang sepadan dan mempunyai keturunan, itu adalah berkatNya yang harus dihargai untuk kemuliaanNya. Keluarga adalah unit terkecil dimana setiap orang Kristen bisa mempraktikkan hukum kasih. Tetapi, jika seorang akhirnya hidup sendirian atau tidak mempunyai anak, itu pun berkat Tuhan yang tetap bisa dipakai untuk lebih dapat memuliakan Tuhan dan melayani sesama.

Baik hidup berumahtangga maupun sendirian adalah memiliki berbagai tantangan. Tidak semua orang bisa berhasil mengatasinya. Tetapi tiap orang yang mau memuliakan Tuhan harus berusaha untuk taat kepada firman Tuhan dan senantiasa memohon kekuatan dan bimbinganNya. Itu pun hal yang harus diputuskan dalam hidup setiap orang percaya.

Bagi anda yang belum menikah, baru menikah, tidak menikah, atau sudah lama menikah, pernikahan adalah sebuah pilihan dan tanggung jawab anda, tetapi adanya iman seharusnya membuat anda memiliki perspektif yang berbeda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s