Hal memberi nasihat

“Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia.” 1 Timotius 1: 5 – 6

Ada ungkapan terkenal yang berbunyi “Tujuan menghalalkan cara” yang dalam bahasa Inggris ditulis sebagai “The ends justify the means“. Ungkapan ini mungkin bisa diartikan: “Tidak menjadi soal apa cara kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, selama kita bisa mendapatkannya”. Jika diartikan sedemikian, ungkapan ini agaknya bernada negatif atau jahat, tetapi ini memang sering terjadi di dunia bisnis dan politik. Pada pihak yang lain, mereka yang bermaksud baik bisa saja mengartikannya sebagai “Cara apa pun adalah baik selama tujuannya baik”.

Bagaimana pandangan orang Kristen mengenai ungkapan ini? Bolehkah kita menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang baik? Sebelum anda menjawabnya, mungkin anda perlu mengetahui bahwa para misionaris yang datang ke Australia dan beberapa gereja di Australia pernah mempraktikkan pengambilan dengan paksa anak-anak yang dilahirkan oleh wanita yang tidak menikah. Tujuannya kelihatannya baik, yaitu untuk memberikan pendidikan dan pemeliharaan yang mungkin bisa lebih baik dari apa yang bisa diberikan oleh sang ibu, tetapi caranya tentu tidak dapat dibenarkan.

Apakah Tuhan kita juga memakai segala cara untuk mencapai tujuanNya? Ini adalah hal yang sering diperdebatkan umat Kristen. Bagi sebagian orang, Tuhan yang mahakuasa tentunya berhak memakai cara apa saja, termasuk menciptakan kejahatan, untuk memperoleh apa yang dikehendakiNya. Tetapi, orang yang lain mungkin berpendapat bahwa Tuhan tidak dapat mencapai tujuanNya dengan cara yang bertentangan dengan hakikiNya sebagai Tuhan yang mahakasih, mahaadil dan mahasuci. Cara apa pun yang dipakai Tuhan untuk membimbing umatNya, itu selalu berdasarkan hakikiNya, sekali pun kita sering tidak dapat memahaminya.

Ayat di atas menjelaskan bahwa seperti Tuhan yang selalu memakai cara yang baik dan efektif untuk membimbing kita, kita pun harus memakai cara yang baik untuk membimbing dan menasihati orang lain. Jika kita mempunyai tujuan yang baik untuk menyadarkan atau menolong orang lain, cara yang kita pilih haruslah sesuai dengan tujuan itu. Cara yang kita pilih haruslah mencerminkan apa yang menjadi hakiki Tuhan kita.

Jika kita ingin memberi nasihat, itu adalah tujuan yang baik. Tetapi itu harus timbul dari kasih yang ada dalam hati kita, yang suci, yang dari hati nurani yang murni, dan dari iman yang tulus ikhlas. Itu tidaklah mudah. Karena itu, ada banyak orang yang tidak dapat mencapai tujuan baiknya karena cara yang dipilih adalah cara yang keliru, yang hanya akan menghasilkan hal yang sia-sia.

“…tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1: 15 – 16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s