Jadilah seperti Abraham

“Peliharalah kasih persaudaraan! Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” Ibrani 13: 1 – 2

Sewaktu saya masih bekerja di Parramatta, sebuah pusat bisnis di sebelah barat Sydney Australia, saya tinggal di sebuah apartemen yang terletak tidak jauh dari kantor saya. Setiap hari saya berjalan kaki ke kantor dan ini hanya memakan waktu sekitar 15-20 menit saja jika saya berjalan cepat. Seperti kebanyakan orang di Australia, saya merasa senang dapat berjalan ke kantor tanpa harus mengendarai mobil atau motor. Berjalan kaki, terutama melewati pusat bisnis dan pertokoan adalah kesempatan untuk berolahraga sambil menikmati suasana. Dan pada saat menjelang Natal seperti sekarang, tentunya  segala sesuatu terlihat lebih berkesan dengan berbagai hiasan dan lagu-lagu Natal yang ada di kompleks pertokoan Westfield yang saya lewati.

Cara yang terbaik untuk menikmati pemandangan kota adalah dengan berjalan kaki, begitu banyak orang berpendapat.  Saya setuju, tetapi dengan catatan bahwa dengan berjalan kaki kita harus siap untuk melihat bukan saja apa yang nyaman tetapi juga apa yang menyedihkan. Parramatta yang terlihat sibuk dengan berbagai kantor dan restoran ternyata mempunyai banyak orang yang tidak mempunyai tempat tinggal (homeless people). Mereka yang mulai muncul sekitar jam 8.00 pagi dan makin banyak terlihat sesudah tengah hari, pergi ke pusat kota untuk meminta-minta. Terkadang hati saya tergerak untuk memberi satu atau dua dollar kepada mereka yang jelas nampak menderita. Pada pihak yang lain, seorang teman segereja saya selalu siap memberikan uang kecil kepada siapa saja yang ditemuinya di jalan. Mengapa demikian? Teman saya itu percaya akan ayat di atas secara harafiah.

Ayat di atas adalah salah satu ayat alkitab yang agak sulit diartikan. Bagi kita orang Kristen, sudah tentu kita percaya adanya malaikat. Malaikat adalah ciptaan Tuhan yang bekerja melayani Tuhan dan juga, atas perintah Tuhan, melindungi dan menolong umat Tuhan atau menyampaikan pesan Tuhan. Malaikat (angels) bukanlah hanya di cerita khayal, tetapi sesuatu yang nyata ada. Walaupun demikian, kita tahu bahwa tidak banyak orang yang pernah melihat malaikat dalam hidupnya secara nyata. Ada orang yang percaya bahwa setiap manusia secara permanen disertai malaikat penjaga (guardian angels), tetapi ini tentunya tidak alkitabiah. Malaikat hanya bertindak atas perintah Tuhan yang mengetahui keadaan setiap manusia.  Malaikat tidak selalu ada di antara kita karena mereka bertugas untuk melayani dan siap menjalankan perintah Tuhan. Tuhan yang mahakuasa bisa bertindak di antara manusia dengan atau tanpa malaikat, dan karena itu kita tidak boleh bergantung kepada malaikat tetapi kepada Tuhan.

Mengenai ayat di atas, ada orang Kristen yang percaya bahwa mereka harus siap untuk menolong orang lain dengan adanya kemungkinan bahwa mereka yang membutuhkan pertolongan adalah malaikat-malaikat Tuhan. Kepercayaan ini mungkin didasarkan atas apa yang terjadi pada Abraham dan Lot (Kejadian 18 dan 19). Walaupun demikian, banyak penafsir Alkitab yang menyatakan bahwa ayat di atas tidak dapat ditafsirkan secara harafiah. Sudah tentu malaikat tetap dapat muncul di antara kita seperti mereka menunjukkan diri kepada Abraham dan Lot, tetapi itu bukanlah kejadian yang sering terjadi. Lebih dari itu, Tuhan yang mahatahu tentunya tidak perlu mengirimkan malaikatNya untuk menguji kesetiaan kita kepada firmanNya.

Apa yang lebih tepat untuk mengartikan ayat di atas adalah pengertian bahwa seperti Abraham sudah menjamu malaikat-malaikat yang datang ke tempat kediamannya, kita pun harus mempunyai kebaikan yang sama kepada semua orang yang membutuhkan bantuan kita. Kapan saja dan dimana saja, selagi kita bisa. Memelihara kasih persaudaraan (Ibrani 13: 1) bukanlah satu perintah bagi umat Kristen untuk menolong orang-orang tertentu saja, tetapi untuk siapa saja, termasuk orang yang tidak kita kenal. Seperti Tuhan mengasihi semua manusia ciptaanNya dan mau memelihara seisi dunia, orang Kristen harus mau ikut memikirkan adanya kemungkinan bahwa mereka yang kita jumpai adalah orang-orang yang membutuhkan bantuan kita.

Saat ini hari Natal sudah mendekati. Mungkin apa yang kita lihat sekarang selalu memberi kesan yang indah karena setiap tahun kita merasakan besarnya kasih Allah yang sudah mengirim AnakNya ke dunia. Pohon-pohon Natal, lagu-lagu dan hiasan Natal ada dimana-mana. Tetapi, apakah mata kita masih dapat melihat adanya orang-orang yang duduk di sudut kota, yang tinggal dalam bayang-bayang kegelapan, dan yang hidup dalam penderitaan? Siapakah mereka? Kita tidak tahu, tetapi yang sudah pasti adalah adanya panggilan bagi kita untuk bisa meniru apa yang dilakukan Abraham. Dalam iman kita harus mengakui bahwa Tuhan menghendaki kita untuk menghormati Dia dan mengasihi sesama kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s