Orang Kristen dan rasa empati

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15

Perayaan hari Natal dan segala kemeriahannya mungkin sudah berakhir dan banyak orang yang sekarang mulai menantikan datangnya tahun baru dengan berbagai harapan. Tetapi, bagi sebagian penduduk Australia yang mengharapkan turunnya hujan mungkin harus tetap bersabar untuk waktu yang tidak dapat dipastikan. Jika ramalan cuaca tidak menunjukkan kemungkinan turunnya hujan, bahaya kebakaran hutan justru dapat dipastikan akan tetap ada.

Kebakaran hutan di akhir tahun 2019 memang luar biasa. Beberapa orang sudah tewas dan ratusan rumah habis terbakar, dan banyak orang yang mengalami kemalangan ini sekarang harus hidup dengan bantuan negara dan masyarakat. Kebanyakan reaksi orang terhadap mereka yang ditimpa bencana ini adalah perasaan simpati dan juga empati. Kedua kata ini bunyinya serupa tapi memiliki perbedaan arti. Simpati menggambarkan perasaan belas kasihan atas kejadian yang menimpa seseorang, sedangkan empati berarti dapat menempatkan diri pada posisi orang tersebut dan merasakan secara langsung kesedihannya.

Walaupun kebanyakan orang mudah merasa simpati atas kesedihan orang lain, rasa empati mungkin lebih sukar dirasakan. Karena itu, dalam setiap malapetaka, selalu ada orang-orang yang membuat komen yang agaknya bisa terasa kejam atau kurang berperasaan. Ada orang yang berpendapat bahwa kemalangan seseorang adalah sehubungan dengan dosanya, atau sesuatu yang sudah ditentukan Tuhan. Ada pula yang menertawakan orang lain karena anggapan bahwa kebodohan orang itu yang menjadi sebab malapetaka yang dialaminya. Tetapi bagaimana orang Kristen seharusnya bereaksi atas kemalangan orang lain?

Ayat di atas menyatakan bahwa sebagai orang Kristen, kita seharusnya bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan ikut menangis dengan orang yang menangis. Ini lebih mudah untuk dikatakan daripada untuk dilakukan. Bagaimana kita bisa bersukacita dengan orang yang tidak kita sukai? Dan bagaimana pula untuk menangis dengan orang yang menderita karena kesalahannya sendiri? Alkitab jelas mengajarkan bahwa kita tidak boleh bersukacita ketika melihat orang yang tidak kita senangi mengalami kemalangan!

“Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok” Amsal 24: 17

Hari ini, firman Tuhan mengajarkan kita untuk mempunyai hati bagi orang-orang yang ditimpa kemalangan dan bisa menempatkan diri kita pada situasi dan kondisi yang mereka alami. Ini bukan hanya untuk saudara-saudara seiman, tetapi juga untuk orang-orang yang tidak kita sukai atau mereka yang membenci kita. Sebagai orang Kristen, jika kita tidak memiliki rasa simpati dan empati kepada orang lain, nama Tuhan akan dipermalukan. Tetapi, jika kita mempunyai kasih dan empati kepada sesama kita, nama Tuhanlah yang akan dimuliakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s