Hidup harmonis dengan Tuhan dan sesama

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Heran bin ajaib, belakangan ini saya mulai gemar memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang, terutama mereka yang seumur saya atau yang lebih tua. Saya tidak tahu apakah orang lain juga mengalami hal yang serupa, tetapi salah satu yang selalu menarik perhatian saya adalah adanya pasangan yang sudah berumur yang nampaknya sudah menikah cukup lama, tetapi tetap terlihat mesra dan serasi. Apa kunci kebahagiaan rumah tangga mereka?

Dari beberapa tulisan yang saya pernah baca dan juga dari penelitian saya sendiri rupanya hubungan antara suami dan istri yang harmonis itu sering dihubungkan dengan kemauan masing-masing untuk berkurban untuk yang lain dan menerima pasangannya sebagaimana adanya. Hidup rumah tangga yang sedemikian biasanya diisi dengan rasa syukur dan komunikasi yang baik sekalipun situasi dan kondisi hidup tidak selalu berjalan mulus. Hal ini juga sering dikemukakan oleh banyak penasihat dan pembina perkawinan (marriage counsellor) yang membantu pasangan yang mengalami kesulitan dalam hidup pernikahan mereka. Benarkah ini kunci ketenteraman hidup?

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose memberikan nasihat-nasihat mengenai hubungan antar anggota keluarga dalam Kolose 3: 18 – 25, dan ayat 18 dan 19 sudah sering dibahas dalam konteks hubungan antara suami dan istri. Tetapi, ayat 17 di atas yang mendahuluinya mungkin bisa dipakai sebagai sebuah pedoman dari ayat-ayat sesudahnya. Ayat 17 memegang kunci keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Mengapa begitu?

Paulus menasihati jemaat di Kolose, dan juga kita yang tergolong umat Tuhan, untuk menjalani hidup kita dengan rasa syukur kepada Tuhan. Jika kita selalu ingat untuk pengurbanan Yesus bagi kita, segala sesuatu yang kita lakukan dengan perkataan atau perbuatan akan dapat dipakai untuk memuliakan Yesus. Dengan demikian, situasi, kondisi dan orang-orang di sekitar kita bukanlah faktor yang menentukan hidup kita.

Pagi ini firman Tuhan menyatakan pentingnya bagi kita untuk mengingat bahwa keharmonisan hidup bisa tercapai jika kita sadar bahwa hidup kita dari Tuhan, karena Tuhan dan untuk Tuhan. Mereka yang bisa mensyukuri hidup yang sedemikian, lebih mudah untuk mengerti bahwa apa yang mereka lakukan atau katakan dalam hidup sehari-hari haruslah untuk kemuliaanNya. Dengan demikian, apa pun yang terjadi dalam hidup kita tidak akan menentukan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama kita.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s