Menghadapi kenyataan hidup

“Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.” 1 Korintus 4: 11 – 13

Pagi ini saya membaca adanya peringatan yang diberikan oleh negara-negara tertentu kepada warganya tentang adanya ancaman di negara lain. Travel warning ini menyuruh warga mereka untuk mempertimbangkan lagi rencana kunjunngan ke negara tertentu. Hal ini pasti bisa membuat gundah mereka yang mempunyai rencana untuk bepergian.

Jika pertentangan antar negara kadang-kadang terjadi dan menimbulkan berbagai persoalan serius, pertentangan antar individu lebih sering terlihat dalam hidup sehari-hari. Sebagai makhluk yang beradab, manusia mungkin merasa bahwa mereka adalah jauh lebih bisa untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesamanya. Tetapi, dalam kenyataannya banyak masalah yang timbul dalam hidup sehari-hari yang disebabkan karena kegagalan manusia dalam hidup bersosial.

Hidup bermasyarakat memang bukanlah mudah. Dari mulanya kita bisa membaca di Alkitab bahwa perbedaan yang ada di antara manusia, kelompok dan suku sering menimbulkan pergesekan, pertentangan dan perseteruan. Tidaklah heran, Paulus dalam ayat-ayat di atas menulis bahwa ia pernah merasakan berbagai hal seperti dimaki, difitnah dan bahkan dianggap seperti sampah oleh orang lain.

Paulus juga menulis bahwa dalam hidupnya ia sudah mengalami hal yang tidak enak seperti kelaparan, kehausan, telanjang, dipukuli dan hidup mengembara, dan ia juga melakukan pekerjaan tangan yang berat. Semua itu adalah kenyataan hidup yang bisa dialami setiap manusia dan umat Kristen tidaklah imun darinya. Sekalipun mungkin tidak sebanding dengan apa yang pernah dialami Paulus, kita mungkin sering mengalami hal yang serupa.

Bagaimana seharusnya kita bertindak jika kita mengalami hal yang tidak menyenangkan dari orang lain? Paulus menulis bahwa ketika ia dan rekannya dimaki, mereka justru memberkati; kalau mereka dianiaya, mereka malah bersabar; dan kalau mereka difitnah, mereka tetap menjawab dengan ramah. Paulus bisa melakukan hal itu karena ia benar-benar mengikut Yesus yang sudah mengalami penderitaan yang jauh lebih besar. Bagaimana pula dengan kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s