Mengatasi kekecewaan hidup

Dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana.” Ulangan 34: 4

Kemarin saya mengunjungi Gunung Nebo (bahasa Arab: Jabal Nibu. bahasa Ibrani: Har Nevo; bahasa Inggris: Mount Nebo) yaitu sebuah tebing yang menjulang di wilayah Yordania sekarang, sekitar 817 meter di atas permukaan laut, yang disebut dalam Alkitab sebagai tempat di mana Musa diizinkan untuk memandang “Tanah Perjanjian”, yaitu Tanah Kanaan, sebelum ia meninggal tanpa sempat memasukinya.

Hampir berhasil berarti gagal. Itulah yang mungkin dirasakan Musa yang sudah mengembara bersama umat Israel selama 40 tahun, dan hampir mencapai tanah perjanjian, hanya untuk menerima keputusan Tuhan bahwa ia tidak akan masuk ke tempat itu. Dengan demikian, Yosua dan Kaleb serta orang Israel lainnya bisa melanjutkan perjalanan mereka dengan penuh harapan, tetapi bagi Musa saat meninggalkan dunia sudah tiba.

Mungkin di antara kita ada yang pernah mengalami hal yang serupa. Bertahun-tahun berusaha untuk mencapai keberhasilan, tetapi pada saat terakhir hanya kegagalan yang terlihat di depan mata. Itu bisa terjadi dalam rumah-tangga, sekolah, pekerjaan atau apa pun yang sudah menyita cinta, tenaga, uang, dan air mata. Tuhan nampaknya kejam.

Musa sebagai manusia tentunya merasa kecewa. Walaupun demikian, ia tidak perlu mempersalahkan orang lain. Sebaliknya, ia bisa berharap bahwa segala usahanya akan membawa kebaikan kepada orang lain. Sebagai seorang pemimpin, Musa bukan pemimpin yang sempurna tetapi ia dihormati dan dikasihi umatnya. Musa berumur seratus dua puluh tahun ketika ia mati; tetapi matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang. Dengan kematiannya, orang Israel menangisinya di dataran Moab tiga puluh hari lamanya.

Sebelum mati, Musa sudah mempersiapkan Yosua sehingga ia bisa memimpin umat Israel dengan kebijaksanaan, dan Musa telah memberikan restunya kepada dia. Sebab itu orang Israel mendengarkan Yosua dan melakukan apa yang perlu seperti yang diperintahkan Tuhan kepada Musa. Musa bisa meninggalkan dunia ini dengan perasaan lega bahwa tanah perjanjian akan jatuh ke tangan keturunannya.

Seperti Musa, kita pun bisa menghapus rasa kecewa dari hati kita kalau kita meyakini bahwa Tuhan mempunyai rencana yang baik untuk orang-orang yang dikasihiNya. Jika kita berjuang bukan hanya untuk diri sendiri, “kegagalan” kita tidak akan sia-sia karena pasti ada orang lain yang masih bisa menggunakan apa saja yang berasal dari jerih-payah, kesetiaan dan kasih kita. Memang, selagi hidup di dunia tidak ada seorang pun yang sempurna. Kegagalan adalah bagian dari kehidupan, tetapi belum tentu membawa hasil yang buruk jika kita bisa melihat ke hari depan dan berharap kepada Tuhan.

Jika Tuhan berjanji untuk membawa kebaikan kepada umatNya, Ia akan melakukannya. Mungkin apa yang kita alami saat ini terasa pahit, tetapi itu bisa juga merupakan bagian rencana Tuhan untuk mendidik agar di masa depan semua umatNya tidak hidup untuk mencapai kesuksesan diri sendiri, tetapi selalu bekerja untuk kemuliaan bagi Tuhan dan kepentingan sesama kita.