Pentingnya keseimbangan hidup

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3: 23

Kemarin saya mengakhiri perjalanan saya ke luar negeri. Badan lelah, tetapi pikiran lebih cerah karena apa yang saya lihat, alami dan nikmati selama perjalanan bersama sekitar 30 peserta. Kelihatannya, setiap orang dalam tour ini juga mengalami pengalaman yang serupa. Semua merasa bersyukur karena berkat dan penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan.

Bagi kebanyakan orang, akhir dari liburan berarti mulainya saat untuk bekerja lagi dan ini mungkin bisa mendatangkan rasa sebal. Memang, jika orang sering membayangkan betapa enaknya jika mereka bisa hidup tanpa harus bekerja. Tetapi, Alkitab menyebutkan bahwa bekerja untuk Tuhan adalah kewajiban setiap manusia (Kejadian 1: 28).

Walaupun demikian, karena kejatuhan manusia dalam dosa seringkali orang tidak mempunyai gaya hidup yang seimbang antara bekerja dan beristirahat. Ada orang yang selalu ingin bekerja dan tidak mau beristirahat (workaholic) tetapi ada juga orang yang selalu ingin bersukaria tetapi enggan untuk bekerja. Selain itu, karena dosa juga, seringkali manusia ingin bekerja atau bersukaria hanya untuk kepentingan diri sendiri.

Mereka yang enggan bekerja mungkin bisa belajar dari semut yang biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, menyediakan rotinya di musim panas dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen (Amsal 6: 6 – 8).

Pada pihak yang lain, mereka yang selalu ingin bekerja mungkin disebabkan oleh kebiasaan atau keharusan. Memang ada bangsa-bangsa tertentu yang terbiasa untuk bekerja lebih keras dari bangsa lain. Tetapi ada juga masyarakat yang harus bekerja keras setiap hari untuk mencukupi kebutuhan. Dalam hal ini, mereka yang bekerja keras seharusnya menyadari baik jasmani maupun rohani memerlukan istirahat, seperti prinsip beristirahat yang sudah diberikan Tuhan kepada umat Israel.

“Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah.” Keluaran 23: 12

Dengan demikian, setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, karena itu juga adalah pemberian Allah (Pengkhotbah 3: 13).

Jelas bahwa baik liburan maupun pekerjaan adalah pemberian Tuhan yang harus disyukuri. Sebagai pemberian Allah kita tidak boleh memakainya menurut kehendak kita sendiri, tetapi untuk kemuliaan Tuhan. Biarlah dalam memasuki tahun 2020 ini kita dapat mempunyai keseimbangan dalam bekerja dan beristirahat sehingga nama Tuhan makin dibesarkan.

Satu pemikiran pada “Pentingnya keseimbangan hidup

  1. Selalu menarik membaca renungan2 singkat Anda pak. Tuhan berkati kita sllu. Amin.
    Sy sdh migrasi blog sy pak, mkanya sdh agak jarang baca2 tulisan bpk. Senang pd hr ini bs baca2 lg.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s