Siapakah saudara-saudara Yesus?

Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Matius 12: 48 – 50

Sesudah melakukan perjalanan ke Israel, rasa kagum saya kepada apa yang sudah dikerjakan Tuhan untuk keselamatan manusia bertambah besar. Sejarah umat Israel dan apa yang dilakukan Yesus selama di dunia membuat saya takjub melihat bagaimana Tuhan merencanakan segala sesuatu dari awalnya, sehingga manusia bisa melihat bahwa Ia adalah Tuhan yang mahasuci, mahakuasa dan mahakasih. Saya bersyukur bahwa karena begitu besar kasih Tuhan kepada manusia, sehingga Ia mengaruniakan AnakNya supaya barangsiapa yang percaya kepadaNya menerima hidup yang kekal (Yohanes 3: 16).

Pengalaman di atas tentunya bisa dirasakan oleh banyak orang Kristen yang yakin bahwa Tuhan sudah memilihnya untuk dapat melihat jalan kebenaran melalui Yesus, dan kemudian menerima uluran kasih Allah. Pada pihak yang lain, ada orang yang merasa bahwa Tuhan agaknya berlaku kurang adil dengan memilih bangsa Israel dan orang-orang tertentu untuk berperan dalam rencanaNya. Rasa tidak adil juga muncul karena Tuhan ternyata tidak menyelamatkan seisi bumi.

Tetapi benarkah Tuhan hanya memberikan keselamatan kepada orang Kristen yang menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat mereka? Bukankah ada banyak orang yang hidupnya terlihat lebih saleh dari kebanyakan orang Kristen? Bukankah ada banyak orang yang bisa menunjukkan kasih kepada sesamanya dan berkurban untuk mereka melalui berbagai kegiatan sosial yang luar biasa besarnya? Bukankah mereka sudah melakukan kehendak Allah yang di sorga, dan dengan demikian menjadi saudara-saudara Yesus sekalipun mereka bukan orang Kristen?

Memang kepercayaan bahwa hanya orang yang percaya kepada Yesus yang akan diselamatkan adalah sulit diterima banyak orang. Mereka yang bukan orang Kristen tentunya percaya bahwa iman mereka juga membawa keselamatan. Mereka yang Kristen mungkin juga mengharapkan agar sanak saudara dan teman yang belum percaya juga bisa diselamatkan karena hidup mereka yang terlihat cukup baik. Tidaklah mengherankan bahwa adanya banyak agama kemudian terasa sebagai unsur pemecah belah manusia saja. Karena itu jugalah ada orang-orang yang mengajarkan bahwa keselamatan tersedia untuk semua orang yang baik hidupnya. Paham yang sedemikian dikenal dengan nama universalisme.

Apakah ayat pembukaan di atas mempersatukan manusia dalam usaha mereka untuk mencapai hidup yang kekal dengan berbuat baik? Ataukah ayat di atas mempunyai arti yang berbeda? Itu bergantung pada arti kata “melakukan kehendak BapaKu”.

Apa kehendak Allah yang harus dilakukan oleh manusia agar diselamatkan? Alkitab jugalah yang bisa memberikan jawaban.

“Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” Yohanes 6: 38 – 40.

Jelas bahwa Yesus berkata bahwa kehendak Bapa ialah agar setiap orang, yang melihat Yesus dan yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal, dan Yesus akan membangkitkannya pada akhir zaman. Dengan demikian, kita bisa melihat kasih dan keadilan Allah yang masih memberikan kesempatan kepada manusia berdosa untuk memilih jalan yang benar menurut Allah, bukan jalan manusia yang sia-sia. Melalui Yesus mereka yang sudah menerima panggilanNya akan menjadi saudara-saudara Yesus dan diselamatkan.