Apakah iman bisa memindahkan gunung?

Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17: 20

Pada kesempatan mengunjungi Mesir, saya sempat mampir di sebuah gereja besar berkapasitas 20000 orang yang dikenal di Indonesia sebagai “Gereja Sampah”. Nama yang agaknya mempunyai konotasi yang kurang baik itu sebenarnya muncul karena gereja itu didirikan di daerah Bukit Mokattam dimana penduduknya mencari nafkah dengan mengumpulkan dan mengolah sampah untuk dijual sebagai bahan daur ulang. Nama resmi gereja ini sebenarnya Gereja Santa Perawan Maria dan juga dikenal sebagai gereja St. Simon the Tanner (Simon penyamak kulit).

Di gereja ini saya mendengar dari guide saya bagaimana warga Mesir pada zaman yang silam menyaksikan suatu mukjizat yakni gunung yang berpindah tempat karena doa orang percaya. Alkisah, ada seorang imam yang ditantang untuk memindahkan sebuah gunung oleh raja Mesir sehubungan dengan bunyi ayat di atas. Sang imam kemudian berpuasa tiga hari dan bertemu dengan Bunda Maria. Sang imam diminta mencari seseorang bernama Simon. Bersama tukang sepatu inilah sang imam berdoa. Mukjizat pun terjadi dan gunung itu berpindah sehingga kini ada gereja di puncaknya.

Memang ada orang yang percaya bahwa ayat di atas harus ditafsirkan secara harafiah, yaitu jika kita mempunyai iman sebesar biji sesawi segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Jika memindahkan gunung belum terjadi, itu karena belum ada manusia yang mempunyai iman yang cukup. Dengan demikian, banyak orang Kristen yang merasa sangat terpukul ketika apa yang mereka doakan tidak terjadi dan orang lain mempersalahkan iman mereka.

Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Yesus itu adalah kiasan. Manusia sudah tentu tidak diharapkan Tuhan untuk bisa secara fisik memindahkan gunung yang sudah diciptakanNya – sekalipun mempunyai iman sebesar apa pun. Tetapi, manusia mampu menghadapi persoalan sebesar gunung jika ia mau percaya bahwa Tuhan bisa menolongnya pada saat dan dengan cara yang sesuai dengan kehendakNya. Iman kita bukanlah diukur dengan apa yang terjadi yang sesuai dengan pengharapan kita, tetapi dengan kepercayaan dan penyerahan bahwa Tuhanlah yang membuat itu terjadi.

Sebagian orang mungkin juga berpikir bahwa memiliki iman yang besar itu tidak perlu, karena biji sesawi menggambarkan sesuatu yang sangat kecil. Tetapi ini juga tidak benar karena Yesus menegur muridNya karena mereka gagal melaksanakan tugas mereka sebab kurang percaya. Mereka seharusnya meminta Tuhan untuk memberikan mereka iman yang besar, karena iman datang bukan karena usaha manusia tetapi karena karunia Tuhan (Efesus 6: 23). Iman tidak dapat diperoleh manusia dengan berbuat baik atau taat kepada Tuhan. Sebaliknya, jika kita memperoleh iman dari Tuhan, kita akan bisa menjalankan kehendakNya.

Iman diberikan Tuhan kepada manusia agar mereka bisa memuliakan Tuhan. Iman bukannya untuk membawa keuntungan duniawi yang bersifat pribadi. Dengan demikian, mereka yang berdoa meminta iman yang besar agar dapat memindahkan “gunung” masalah hidup mereka sebenarnya tidak menyadari bahwa iman yang besar berarti kepercayaan yang besar bahwa Tuhan sanggup menolong mereka dalam menghadapi tantangan kehidupan. Iman yang besar akan menghilangkan kekuatiran bahwa Tuhan melupakan atau mengabaikan keluhan umatNya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s