Hal mendua hati

“Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Lukas 16: 13

Jika ada sesuatu di bumi yang sangat mempengaruhi hidup manusia, itu pastilah uang. Uang yang pada dasarnya adalah alat untuk melakukan transaksi jual beli, sudah sejak dulu menjadi sesuatu yang dibutuhkan masyarakat yang sudah maju budayanya.

Ketergantungan manusia pada uang ada dimana saja. Tanpa uang orang tidak akan dapat membeli apa yang diperlukan dalam hidupnya. Money is everything. Dengan demikian, banyak orang yang menderita karena tidak adanya uang untuk membiayai kebutuhan mereka.

Banyak orang yang percaya bahwa dengan adanya uang, ada kehidupan. Kehidupan itu ada jika uang ada, dan kehidupan ada untuk menghasilkan uang. Money is life and life is money. Karena itu, mereka yang hidup di negara kaya seringkali mengira bahwa mereka yang hidup di negara miskin tidak akan dapat merasakan kebahagiaan. Mereka yang miskin tentunya selalu menjadi bulan-bulanan orang kaya. Itu agaknya karena uang memberi atau dapat membeli kekuasaan. Money is power.

Alkitab mempunyai pandangan yang sangat berbeda dengan apa yang dipercaya oleh dunia. Jika dunia menaruh kepercayaaan pada uang, Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah yang mahakaya sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2: 6 – 7).

Kita juga tahu bahwa selama hidup di dunia Yesus mengembara dan tidak mempunyai tempat kediaman yang tetap.

“Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Matius 8: 10

Dengan demikian, mereka yang ingin menjadi pengikut Yesus di dunia dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka harus siap untuk menempatkan Yesus di atas segala-galanya, dan mau menderita untuk melebarkan kerajaanNya. Ini jelas berbeda dengan pandangan umum yang menempatkan uang, kuasa, kesuksesan dan hal-hal duniawi lainnya sebagai pusat kehidupan.

Memang selama hidup di dunia kita memerlukan uang untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup, tetapi kita tidak boleh memusatkan hidup kita hanya untuk mengejarnya. Sebaliknya, kita harus bisa meniru Rasul Paulus yang ingin untuk mengejar pengenalan akan Yesus.

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri …” Filipi 3: 7 – 9

Mengapa Paulus yang pada mulanya mengejar keuntungan duniawi kemudian menganggapnya sebagai sampah? Bukankah itu terlalu ekstrim? Salahkah kita jika ingin mendapatkan kepuasan duniawi dan juga kebahagiaan surgawi? Ayat pembukaan kita jelas menyatakan bahwa pilihan ada di tangan kita, kepada siapa kita menyerahkan hidup kita. Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kita harus memilih Mamon yang melambangkan uang, kedudukan dan hal-hal duniawi lainnya, atau Tuhan yang mahakuasa. Mana yang anda pilih?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s