Ujian iman membawa ketekunan

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2 – 3

Hari ini media memberitakan bahwa di beberapa kota di Australia, orang-orang berbondong-bondong pergi berbelanja ke supermarket dan memborong berbagai barang, terutama bahan makanan, cairan pembersih tangan dan masker. Rasa panik mungkin mulai terasa karena wabah coronavirus yang makin banyak korbannya dan adanya kemungkinan bahwa orang akan dikarantina paling tidak selama dua minggu jika diduga terkena virus ini. Kepanikan serupa mungkin mulai muncul di Indonesia juga, semenjak ditemukan adanya orang yang terkena virus yang sangat menular itu.

Sebenarnya, walaupun virus ini sangat mudah ditularkan dari satu orang ke orang lainnya, mereka yang terkena virus kebanyakan bisa sembuh kecuali mereka yang lemah imunitasnya. Mereka yang sudah lanjut usia atau menderta penyakit lain, memang bisa mengalami sakit berat karena adanya komplikasi. Dengan demikian, keadaan di Australia diduga akan memburuk menjelang bulan Agustus yang akan datang, dimana penderita flu musim dingin biasanya  memuncak jumlahnya. Itulah yang dikuatirkan banyak orang yang sudah mempunyai kecenderungan untuk sakit di musim dingin. Mereka kuatir kalau-kalau sesudah jatuh, mereka juga terhimpit tangga.

Dalam hidup di dunia ini, tentunya keselitan hidup adalah hal yang biasa ditemui siapa pun. Walaupun demikian, kesulitan hidup  yang besar seringkali menjadi pencobaan yang bisa menghancurkan hidup seseorang baik secara jasmani maupun rohani. Bukan saja tubuh bisa menjadi capai dan sakit karena adanya suatu pencobaan, tetapi hati bisa juga terasa remuk karena perasaan tidak berdaya. Bagaimana pula dengan orang yang tidak hanya mengalami satu masalah kehidupan, tetapi banyak kesulitan yang datang beruntun? Jika satu kesulitan sudah bisa terasa berat, komplikasi yang disebabkan oleh adanya berbagai masalah bisa membuat orang putus harapan.

Ayat di atas ditulis oleh Rasul Yakobus kepada kedua belas suku Israel di perantauan. Dalam ayat ini, ia menasihati saudara-saudara seiman bahwa mereka seharusnya mau menerima dan menganggap sebagai suatu kebahagiaan, apabila mereka jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan; sebab pencobaan adalah seperti ujian iman yang pada akhirnya membuat mereka makin ulet dan tahan menghadapi hidup ini. Agaknya nasihat semacam ini lebih mudah untuk diucapkan daripada dijalankan. Siapakah yang bisa merasa berbahagia ketika mengalami masalah? Siapakah yang bisa bertahan jika komplikasi masalah kehidupan terasa menghimpit dari segala arah?

Yakobus menjelaskan selanjutnya dalam ayat 4 bahwa ketekunan itu sendiri akan menghasilkan sesuatu yang membuat kita kuat.

“Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Yakobus 1: 4

Ketekunan yang bisa kita peroleh selama mengalami berbagai masalah, pada akhirnya bisa membuat kita menjadi sempurna, utuh dan tidak merasa lemah atau berkekurangan. Sempurna? Utuh? Tidak berkekurangan? Kelihatannya memang ini tidak mudah diterima akal sehat, karena dalam menghadapi masalah hidup kita justru lebih sering merasa tidak kuat, hancur dan menderita.

Bagaimana kita bisa menjadi sempurna dan kuat dalam menghadapi masalah? Ada baiknya jika kita membaca apa yang ditulis oleh Rasul Paulus  untuk jemaat di Korintus.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” 2 Korintus 12: 9

Paulus yang mengalami berbagai masalah kehidupan menjadi kuat karena adanya kuasa Tuhan yang sempurna. Dengan demikian, Paulus menjadi sempurna karena kuasa Kristus yang melindunginya. Paulus tidak dapat merasakan kuasa Tuhan yang sepenuhnya bekerja untuk menguatkannya jika tidak ada pergumulan besar yang harus dihadapinya.

Hari ini, adakah kesulitan atau masalah besar yang harus anda hadapi? Mungkinkah karena adanya komplikasi yang disebabkan oleh banyaknya masalah yang anda alami, anda merasa takut dan putus asa?  Biarlah anda bisa mengingat apa yang ditulis oleh Yakobus dan Paulus bahwa adanya masalah justru membuka kesempatan bagi umat Tuhan untuk merasakan kuasa dan kasih Tuhan.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s