Jangan tinggal dalam kegelapan hatimu

“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Yakobus 3: 16

Mungkin anda yang tinggal di Indonesia ikut merasakan adanya rasa panik dalam masyarakat karena munculnya COVID 19, virus corona baru yang sudah memakan banyak korban. Di Indonesia, mereka yang ingin memperkuat ketahanan tubuh berbondong-bondong membeli “obat kuat” tradisionil seperti jamu dan rempah-rempah tertentu. Sebagai akibatnya, harga produk kesehatan itu naik secara drastis.

Di Australia, panik belanja juga terjadi. Sebuah video di Youtube yang sudah ditonton ratusan ribu orang menayangkan perkelahian antara beberapa wanita karena berebut membeli tissue WC di sebuah supermarket dekat Sydney. Mengapa mereka memperebutkan benda yang tidak mempunyai fungsi istimewa itu, tidaklah ada yang tahu pasti. Tetapi, karena banyaknya orang yang membeli barang-barang keperluan hidup oleh sebab munculnya krisis virus corona, mungkin mereka ikut panik untuk membeli tissue yang kebetulan menipis persediaannya.

Dalam keadaan kritis, sifat manusia yang asli bisa terlihat. Mereka yang terlihat lemah-lembut bisa menjadi garang dan ganas terhadap sesamanya. Mungkin itu mirip dengan apa yang ditayangkan di berbagai cerita gladiator Romawi, dimana orang harus membunuh yang lain untuk bisa tetap hidup. Memang karena kebutuhan yang mendesak, orang mencoba untuk survive dengan segala cara, dan itu membuat mereka menjadi makhluk yang mementingkan diri sendiri.

Ayat di atas menulis apa yang terjadi jika orang hanya memikirkan kebutuhannya. Dalam keadaan itu, rasa iri hati dan mementingkan diri sendiri bisa menyebabkan kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Apa yang terjadi pada Habel juga bisa dihubungkan dengan rasa iri hati dan mementingkan diri sendiri yang timbul dalam hati kakaknya, Kain (Kejadian 4: 3 – 8).

Rasa iri hati dan kecenderungan untuk mementingkan diri selalu muncul dalam diri setiap orang, termasuk diri kita selama masih hidup di dunia. Ini bisa muncul ketika kita berada di kantor, di sekolah, di rumah atau pun di gereja. Tetapi, selama kita masih mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, RohNya selalu mau menolong dan membimbing kita ke jalan yang benar. Pada waktu hal-hal yang kurang baik mulai muncul dalam pikiran kita, Tuhan bisa menegur kita seperti Ia menegur Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya” (Kejadian 4: 6 – 7). Apa yang kita lakukan kemudian adalah pilihan kita sendiri.

Satu pemikiran pada “Jangan tinggal dalam kegelapan hatimu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s