Sehati sepenanggungan

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Pada saat ini keadaan di dunia terasa kurang enak. Dimana-mana orang agaknya cemas mendengar kabar bahwa makin banyak orang yang terkena serangan virus corona. Di Australia, supermarket penuh dikunjungi orang yang ingin membeli bahan-bahan makanan yang bisa disimpan lama untuk berjaga-jaga sekiranya lockdown kota atau negara benar-benar terjadi. Memang kalau ada pembatasan sosial, orang akan sulit mencari makanan atau barang-barang lain.

Hari ini, supermarket membuka pintu jam 7 pagi untuk memberi kesempatan bagi orang yang sudah tua atau yang fisiknya kurang kuat untuk berbelanja secara terpisah dari masyarakat umum selama satu jam. Ini untuk menghindari ramainya pengunjung yang berebut barang. Memang mereka perlu dikasihani dan dilindungi selama krisis ini berlangsung.

Dalam keadaan genting, sifat orang yang asli dapat terlihat. Banyak orang yang terlihat kurang peduli akan kepentingan orang lain dan malahan berlaku kejam kepada mereka yang lebih lemah. Dalam memperebutkan barang kebutuhan, yang lemah mudah untuk menjadi bulan-bulanan yang lebih kuat. Tidaklah mengherankan bahwa dalam suasana seperti ini kebanyakan orang mengalami stress.

Mengapa semua ini harus terjadi? Apa yang harus aku lakukan? Begitu mungkin jeritan banyak orang, baik mereka orang Kristen maupun bukan. Memang jika malapetaka terjadi, tidak ada seorang pun yang bisa yakin bahwa ia akan bebas darinya. Tuhan yang mahakasih memang menyayangi umatNya, tetapi itu bukan berarti mereka akan bebas dari penderitaan di dunia. Jika demikian, apakah untungnya menjadi orang Kristen?

Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap orang percaya adalah anak Allah yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus. Tetapi, untuk menjadi anakNya kita harus sehati sepenanggungan dengan AnakNya yang tunggal yaitu Yesus Kristus. Jika kita bersedia untuk menderita bersama-sama dengan Dia yang sudah mati di kayu salib, kita juga akan dipermuliakan bersama-sama dengan Dia di surga. Dengan demikian, penderitaan apa pun tidak bisa memisahkan kita dari kasih Allah. Tuhan bisa menggunakan keadaan saat ini untuk memperkokoh iman dan menyempurnakan kasih kita.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s