Kasih Yesus tetap beserta kita

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” Roma 8: 35

Pada tahun 1982-1983 saya pernah tinggal di Tokyo, ibukota Jepang. Setelah itu, dua kali lagi saya mengunjungi negara itu dan tinggal di kota Tsukuba dan Tokyo untuk beberapa bulan. Karena itu, saya cukup mengerti cara hidup orang Jepang dan budaya mereka. Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah sopan-santun dan disiplin hidup mereka yang tinggi. Tetapi, selama di Jepang saya juga bisa melihat jarangnya orang Jepang yang pernah ke gereja. Itu karena hanya satu persen penduduknya yang memeluk agama Kristen.

Agama Kristen pertama kali memasuki Jepang dari kota Nagasaki sekitar 1560, ketika misionaris Jesuit dari Portugal mulai tiba. Mereka berusaha mengajak penguasa feodal untuk menganut agama Kristen. Sebagian penguasa ini kemudian menjadi Kristen agar dapat berdagang dengan Portugal. Banyak petani juga menganut Kristen sehingga pada permulaan abad ke-17, kota tersebut telah menjadi “Roma-nya Jepang”. Jumlah umat Kristen di Nagasaki saat itu pernah mencapai 500.000 orang.

Sayang sekali, pada abad ke-17 juga, penduduk Nagasaki yang beragama Kristen dipaksa melakukan fumie atau menginjak lempengan tembaga yang merupakan simbol Yesus Kristus yang disalib. Mereka melakukan hal ini dengan disaksikan pejabat pemerintah setempat. Ini adalah pernyataan di depan umum bahwa mereka telah murtad alias meninggalkan iman mereka. Jika umat Kristen tidak melakukan fumie , mereka akan dapat dihukum mati, disalib, atau disiksa.

Bagaimana sikap kita jika kita harus menghadapi penderitaan semacam itu? Apakah kita tetap bertahan dalam iman, ataukah kita menolak Yesus Kristus? Ini adalah pertanyaan yang sulit dijawab jika kita jujur. Adanya ancaman, penindasan, penderitaan, penganiayaan, kelaparan, dan bahaya memang bisa membuat orang mundur dari iman mereka, lupa bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih adalah lebih besar dari semua itu. Memang jika malapetaka terjadi, banyak orang yang meragukan kuasa dan kasih Kristus.

Saat ini, mungkin keadaan dunia sudah membuat semua orang kuatir. Ancaman wabah sudah menjalar ke seluruh penjuru dunia. Adanya kekuatiran dan ketakutan membuat orang mencari jalan keluar melalui apa saja yang dianggap baik. Tetapi, jika apa yang dilakukan tidak membawa hasil yang diharapkan, rasa sedih, kecewa dan putus asa bisa muncul. Dimanakah Tuhan di saat umatNya menderita? Ayat di atas mengingatkan kita untuk tetap beriman kepada Tuhan. Yesus yang mati di kayu salib sudah membuktikan kasihNya kepada umatNya. Apapun yang terjadi, kita adalah orang-orang yang beruntung karena sudah diangkat menjadi anak-anak Allah. Karena itu, kita dengan teguh tetap berani menghadapi hari depan.

“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” Roma 8: 37

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s