Hal melayani mereka yang dalam penderitaan

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Markus 10: 43 – 45

Tidak dapat dipungkiri, hari-hari mendatang adalah bagaikan mendung gelap dan tebal yang mendatangi. Walaupun orang tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi bisa dipastikan hujan lebat akan turun disertai dengan petir yang menyambar-nyambar. Memang banyak orang yang sekarang ini mulai kuatir: Akankah aku tetap sehat? Apakah aku akan tetap bisa bekerja? Bagaimana pula dengan keadaan ekonomi negara? Sayang sekali, pertanyaan-pertanyaan ini tidak ada yang bisa menjawabnya dan ini membuat banyak orang kuatir.

Dalam keadaan yang seperti ini, orang cenderung untuk menarik diri dan berusaha membangun benteng pertahanan. Apalagi dengan kewajiban untuk social distancing dan physical distancing, orang segan untuk pergi ke tempat yang ramai dan karena itu memilih untuk tinggal di rumah saja. Juga, karena sekolah dan universitas sudah dijalankan secara online dan pekerja kantor sekarang bekerja dari rumah (work from home), seisi keluarga bisa tinggal di rumah sepanjang hari. Dalam hal ini, adalah mudah bagi seseorang untuk memikirkan kebutuhan diri dan keluarga sendiri saja. Kebutuhan hidup yang makin meningkat di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu ini juga membuat orang segan mengeluarkan uang jika tidak sangat perlu.

Memang, salah satu dampak keadaan darurat dalam suatu negara adalah orang berubah menjadi egosentris, yaitu memusatkan perhatian kepada diri sendiri. Dalam hal ini, banyak organisasi sosial seperti badan penolong anak yatim-piatu,  orang miskin, dan orang lanjut usia, dan bahkan berbagai organisasi gereja, yang sekarang ini mengalami kesulitan keuangan. Keadaan yang berlarut-larut sudah tentu akan mempengaruhi pelayanan organisasi-organisasi  yang hidup dari sokongan atau bantuan donatur. Dalam keadaan dimana banyak orang membutuhkan pertolongan mereka, keadaan keuangan yang makin sulit akhirnya membuat mereka mengurangi aktivitas. Bagi mereka yang hidup dari bantuan badan sosial, hidup bisa menjadi sangat suram dalam bulan-bulan mendatang.

Mengapa Tuhan membiarkan adanya malapetaka? Dan mengapa pula Tuhan membiarkan orang-orang tertentu hidup dalam penderitaan dan kekurangan sedangkan orang lain nampaknya masih bisa hidup dalam kenyamanan dan kemakmuran? Ini adalah pertanyaan yang logis dan membuat banyak orang mempertanyakan kasih dan kebijaksanaan Tuhan. Walaupun demikian, pertanyaan ini seharusnya dilontarkan ketika Adam dan Hawa diusir dari taman Eden. Mengapa Tuhan membiarkan Adam dan Hawa dan semua keturunan mereka hidup menderita di dunia dan bahkan mati dan kembali menjadi debu karena dosa yang diperbuat mereka?

Pertanyaan ini sebenarnya tidak tepat. Tuhan tidak membiarkan manusia yang diciptakanNya sebagai peta dan teladanNya untuk menemui kehancuran begitu saja. Segera setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Tuhan menyatakan rencananya untuk menolong umat manusia dan menghancurkan iblis (Kejadian 3: 15). Karena itu, dalam Alkitab, kita bisa membaca bagaimana Tuhan merancang kedatangan Mesias, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan manusia. Rencana agungNya pada akhirnya memungkinkan semua orang yang percaya kepada Yesus untuk memperoleh hidup yang kekal (Yohanes 3: 16). Dengan demikian, tepatlah apa yang dikatakan Yesus dalam ayat di atas bahwa Ia datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang. Adanya penderitaan manusia di dunia justru membuat manusia bisa melihat bahwa Tuhan masih mau menyatakan kasihNya.

Bagaimana pula dengan panggilan orang Kristen dalam keadaan sekarang dimana ada banyak orang menderita sakit dan mengalami kekurangan? Bagaimana pula sikap kita menghadapi kesulitan yang dialami gereja dalam usaha mengabarkan injil dan melayani jemaat di saat keuangan semakin parah? Dalam hal ini Yesus sudah memberikan jawabanNya: Ia datang untuk melayani mereka yang menderita, termasuk diri kita yang berdosa. Ia datang untuk memberikan harapan yang baru bagi seluruh umat manusia. Dengan pengurbananNya di kayu salib, nama Allah yang mahakasih sudah dipermuliakan. Kesempatan yang sama ada pada diri kita: kita harus mau melayani, membantu, menolong mereka yang menderita dengan apa yang kita punyai. Hanya dengan meniru Yesus, nama Allah akan dipermuliakan dalam keadaan yang terlihat suram pada saat ini. Semoga Tuhan menguatkan kita sekalian!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s