Dua tiang penyangga kehidupan

“Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus.” 2 Tesalonika 3: 5

Pernahkah anda mengalami kesulitan hidup yang besar? Setiap manusia tentunya pernah; kalau itu tidak terjadi pada masa lalu, mungkin itu sedang terjadi di masa sekarang atau akan terjadi di masa depan. Mereka yang sudah mengalaminya pada masa yang lalu, mungkin sekarang merasa lega karena itu sudah lewat. Tetapi, ada juga orang yang tetap kuatir akan kemungkinan terjadinya masalah yang besar di masa depan. Memang, kesusahan  yang tidak diundang seringkali muncul di saat yang tidak terduga.

Jika satu kesusahan yang besar datang, mungkin kita berharap itu segera berlalu. Kita menarik nafas lega dan bersyukur  jika semua itu bisa diatasi dan kita masih bisa berdiri teguh. Namun, masalah yang datang secara bertubi-tubi bisa membuat hidup seseorang menjadi goyah, seperti sebuah kapal yang diombang-ambingkan badai di laut. Kesulitan hidup yang banyak macamnya, seperti kelaparan, penyakit, ancaman bahaya dan sebagainya, selalu ada di dunia. Dari zaman dulu hingga zaman sekarang tidaklah jarang orang harus menghadapinya pada saat yang bersamaan.

Bagaimana orang bisa bertahan menghadapi tantangan hidup yang besar dan tetap mempunyai harapan untuk masa depan?  Ini adalah pertanyaan yang dilontarkan banyak orang dan untuk itu ada banyak pembicara yang menampilkan berbagai jurus hidup yang katanya bisa dipakai untuk mempertahankan semangat hidup. Dalam hal ini, banyak pemimpin Kristen yang memakai cara yang serupa, dengan pendekatan psikologis, mencoba menguatkan jemaat mereka yang ditimpa bencana. Maksud mereka baik, tetapi cara yang mereka pakai sudah tentu tidak Alkitabiah.

Saat ini, jika kita menghadapi kesulitan besar, apa yang harus kita perbuat? Bukankah kata-kata siapa pun yang bisa memberi semangat seharusnya kita terima dengan senang hati? Itu mungkin jawaban mereka yang lupa bahwa manusia tidak bisa menunjukkan jalan yang benar. Hanya Tuhan   dan firmanNya yang bisa membimbing kita ke arah yang benar, kepada harapan yang sejati.

Ayat di atas menunjuk kepada dua pilar yang bisa menguatkan orang yang mengalami masalah hidup yang besar. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika menulis bahwa ia berharap agar Tuhan tetap menujukan hati mereka kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus. Kasih Allah dan ketabahan Kristus adalah dua penyangga kehidupan kita di dunia yang kacau balau sekarang ini. Karena kasih Allah yang besar, Ia sudah memberikan AnakNya yang tunggal agar kita menerima keselamatan yang kekal. Karena ketabahan Kristus, Ia tetap setia kepada Allah Bapa sampai Ia mati di kayu salib guna menebus orang yang percaya.

Dalam menghadapi masalah kehidupan kita harus ingat bahwa apa pun yang terjadi kasih Allah senantiasa menyertai kita karena itu sudah terbukti dengan datangnya Yesus sebagai Juruselamat kita. Dalam menghadapi bencana, kita juga harus ingat bahwa Yesus sudah bertahan sampai akhir dan karena itu Allah mempermuliakan Dia. Kasih Allah dan ketabahan Kristus adalah dua hal yang akan menguatkan kita dalam menghadapi hari-hari yang gelap karena kasih Allah yang mahakuasa yang ada bersama kita di masa kini, dan kemuliaan dalam Kristus yang akan kita terima di masa mendatang.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s