Utamakan kasih dalam keadaan apapun

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Pandemi COVID-19 adalah sesuatu yang dipandang sebagai bencana di dunia. Virus SARS-Cov-2 penyebab pandemi yang sangat menular ini sudah menyebabkan ribuan orang tewas. Banyak orang yang merasa bahwa keadaan saat ini mirip suasana perang; hanya saja musuh yang diperangi tidaklah kelihatan.

Bagi banyak orang, keadaan yang makin memburuk ini membuat mereka stres. Selain ekonomi yang mulai hancur berantakan, di berbagai negara pembatasan sosial berskala besar sudah dilakukan, dan ini menyebabkan orang berlomba-lomba untuk memborong bahan kebutuhan hidup dalam jumlah besar untuk ditimbun. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa beberapa barang kebutuhan utama sekarang ini sulit dicari.

Dalam keadaan seperti ini, mereka yang lemah, miskin, sakit-sakitan atau sudah tua sering merasa tidak berdaya. Mereka membutuhkan bantuan orang lain untuk menjalani hidup sehari-hari, tetapi itu tidak mudah diperoleh di saat seperti ini. Jika manusia hidup dalam lingkungan yang tenteram dan damai, kebanyakan orang terlihat gembira dan menghormati orang lain. Tetapi, dalam keadaan bahaya atau keadaan kritis, sifat manusia yang asli seringkali muncul. Dan itu seringkali membuat manusia bertingkah laku seperti hewan yang buas.

Apakah orang Kristen mempunyai reaksi yang berbeda dari orang yang bukan Kristen jika mereka berada dalam keadaan genting? Ini tidak mudah dijawab. Jika mereka mempunyai pendidikan yang cukup, barangkali mereka lebih bisa berusaha mencari jalan keluar. Tetapi, pendidikan yang tinggi belum tentu bisa mengubah sifat jahat seseorang. Jika mereka biasanya sangat saleh hidupnya, mungkin mereka tidak mau melakukan hal-hal yang dipandang buruk oleh masyarakat. Tetapi, jika ada kesempatan orang cenderung untuk melanggar hukum jika terpaksa. Bagaimana pula jika ada orang yang yakin bahwa Tuhan adalah mahakuasa? Mereka mungkin akan lebih rajin berdoa dan berserah kepada kehendak Tuhan. Walaupun begitu, apa yang bisa membuat mereka bersedia mendahulukan atau menolong orang lain?

Memikirkan orang lain dan mengasihi mereka yang tidak kita kenal atau yang tidak mengenal kita adalah sesuatu yang sulit dilakukan. Tetapi, di minggu Paskah ini kita bisa merenungkan bahwa Allah  tetap mengasihi umat manusia walaupun manusia tidak mau mengenalNya. Jika dipikirkan, manusia sudah berdosa dan menjauhkan diri dari Tuhan. Adakah sebab yang membuat Allah mau mengurbankan AnakNya untuk menebus kita? Ayat di atas menyatakan bahwa sekalipun kita adalah orang-orang yang tidak pantas untuk dikasihi dan dikasihani, Allah mau menunjukkan kasihNya.

Minggu ini kita merayakan Jumat Agung dan hari Paskah mungkin dengan melihat TV atau komputer karena kebaktian gereja sudah ditiadakan. Kita masih bersyukur karena teknologi memungkinkan hal itu.  Hari-hari mendatang mungkin akan membawa lebih banyak masalah di dunia. Kita harus tabah dalam menghadapinya, dan kita bisa belajar dari Yesus yang tabah dalam menghadapi kesengsaraanNya menjelang saat disalibkan. Lebih dari itu kita bisa mengingat bahwa sekalipun kita adalah orang-orang yang patut menerima kebinasaan, Allah sudah memberikan kesempatan bagi kita untuk diselamatkan. Dengan demikian, adakah alasan bagi kita untuk tidak mengasihi atau tidak mau menolong orang lain yang lebih menderita daripada kita di saat yang sulit ini?

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s