Bersukacita selalu dan tetap berdoa

Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa.” 1 Tesalonika 5: 16 – 17

Sudah beberapa minggu ini di berbagai negara banyak orang bekerja dari rumah (work from home alias WFH). Tidak terbayang sebelumnya bahwa hal ini bakal terjadi, tetapi gara-gara virus SARS-Cov-2 yang ganas banyak pemerintah yang menyuruh warganya untuk melakukan social distancing sehingga mereka harus tinggal di rumah sepanjang hari, kecuali jika benar-benar perlu untuk keluar rumah. Bagi saya, bekerja dari rumah memang praktis karena tidak perlu memakai pakaian kerja yang lengkap. Cukup dengan memakai celana pendek dan sandal jepit asalkan berbaju kerja, saya bisa bertemu muka dengan siapa saja di dumia melalui program komputer Zoom. Selain itu, untuk mulai bekerja tentunya saya tidak perlu mengedarai mobil, tetapi cukup berjalan beberapa meter saja dari kamar tidur ke ruang kerja di rumah.

Walaupun bekerja dari rumah terasa nyaman pada mulanya, setelah tiga minggu saya mulai merasa bosan. Belum lagi dengan kecenderungan untuk sedikit-sedikit makan dan bukannya makan sedikit-sedikit jika di rumah, tubuh pun berubah makin besar saja rasanya. Dengan adanya perasaan bosan dan ditambah dengan terlalu seringnya mengikuti laporan perkembangan wabah COVID-19, pelan-pelan perasaan saya menjadi tidak menentu. Rasa sedih, bingung dan kuatir sering muncul silih berganti dan itu membuat perasaan murung datang. Memang, menurut para ahli dampak kejiwaan dari pandemi ini akan makin jelas dengan makin lamanya keharusan untuk tinggal di rumah. Sebagian dari masyarakat pada akhirnya akan memerlukan perawatan psikologis karena hidup mereka yang tertekan.

Bagaimana orang dapat menghadapi masalah hidup dan tetap kuat secara jiwa dan raga? Sekalipun masyarakat diminta untuk tidak pergi ketempat lain jika tidak perlu sekali, pemerintah pada umumnya menganjurkan agar penduduk untuk tetap rajin beraktivitas di rumah, seperti berolahraga, senam, memasak, menonton film di TV dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan semacam itu diharapkan bisa mengisi kebosanan dan mendatangkan rasa gembira dan semangat baru. Walaupun demikian, banyak orang yang merasa bahwa hidup dalam suasana sekarang ini tidaklah bisa dinikmati. Dengan tutupnya banyak perusahaan, mereka yang kehilangan pekerjaan  merasa bahwa masa depan adalah suatu tanda tanya besar.

Bagaimana manusia bisa mengatasi perasaan sedih, bingung dan kuatir atas apa yang dilihat, dirasakan atau dibayangkannya? Sekalipun ada lagu yang menganjurkan agar kita tidak kuatir tapi bergemibira selalu (Don’t worry, be happy), dalam kenyataannya manusia pada umumnya tidak bisa menghilangkan rasa gundah jika tidak ada jaminan bahwa segala sesuatu pada akhirnya membawa kebaikan.

Ayat di atas ditulis oleh rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika, dan merupakan dua ayat dari beberapa ayat tersingkat dalam Alkitab berbahasa Indonesia. Ayat 16 berbunyi “Bersukacitalah senantiasa” dan terdiri dari dua suku kata, dan ayat 17 yang berbunyi “Tetaplah berdoa” juga terdiri dari dua suku kata, tetapi mempunyai jumlah huruf yang lebih sedikit. Sekalipun kedua ayat ini sangat singkat, artinya sangat dalam. Ayat-ayat  ini mudah diingat, dan seharusnya tidak pernah dilupakan oleh setiap orang Kristen.

Hidup sebagai orang Kristen di dunia belum tentu membawa kenyamanan dan kenikmatan. Bahkan, sebaliknya orang Kristen diajak unuk mengikut teladan Yesus dengan mendahulukan kepentingan Tuhan di atas kepentingan diri sendiri. Orang Kristen dengan demikian harus bersedia untuk mengikut jejak Yesus dan sanggup untuk menghadapi segala tantangan, masalah dan bahaya dalam hidup di dunia demi kemuliaan Tuhan.

Anjuran Paulus untuk senantiasa bersukacita tidak akan dapat dilakukan jika tidak ada alasan untuk bersukacita. Orang tidak bisa bersukacita jika tidak ada jaminan bahwa apa yang kita alami saat ini hanya untuk sementara, sedangkan masa depan yang cemerlang akan datang pada waktunya.

Dalam hal ini, orang Kristen adalah orang yang tahu bahwa dua ribu tahun yang lalu, Yesus mengalami penderitaan yang luar biasa dan kemudian mati disalibkan, tetapi pada hari yang ketiga Ia bangkit. Kebangkitan Kristus inilah yang memberi jaminan bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup kita, pada akhirnya kita akan menang seperti Yesus yang sudah menang.

Yesus yang sewaktu hidup di dunia sudah melakukan berbagai mujizat, adalah Tuhan yang sekarang berada di surga. Kuasa Allah yang dipertunjukkanNya selagi masih di dunia adalah kuasaNya yang sekarang  tetap ada karena Ia adalah Allah. Karena itulah kita seharusnya juga bisa selalu bersukacita karena Ia selalu beserta kita. Kita juga harus bisa selalu dengan yakin berdoa kepadaNya karena Ia adalah Tuhan yang mengasihi kita dan mau menjawab permohonan-permohonan kita. Bersukacitalah senantiasa, tetaplah berdoa!

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s