Penampilan bukanlah pedoman hidup

Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 1 Samuel 16.7

See the source image

Pandemi COVID-19 sudah berlangsung beberapa bulan di dunia, tetapi belum ada tanda-tanda bahwa itu sudah mulai mereda. Tentu saja, adanya pandemi sudah membawa kesusahan yang besar bagi umat manusia dimana pun mereka berada.  Adanya pandemi kelihatannya hanya membawa kesengsaraan dan derita  bagi umat manusia. Betulkah demikian?

Sekalipun pandemi adalah suatu tragedi kemanusiaan, adanya pandemi bisa membawa beberapa segi positif. Tidak hanya membuat semua orang  menyadari bahwa sebagai manusia mereka tidak bisa merasa sombong dan terlalu yakin akan kekuatan mereka sendiri; pandemi juga membuat banyak orang sadar bahwa berbagai sarana hebat yang ada sebelum adanya pandemi, sekarang menjadi sesuatu yang tidak berguna.

Adanya masalah dalam hidup memang bisa membuka mata manusia akan apa yang benar-benar penting dalam hidup. Banyak manusia yang mengukur keberhasilan dengan apa yang sudah dicapai, dan begitu pula banyak negara yang merasa unggul karena kekayaan dan kemakmuran yang bisa dikagumi negara lain. Tetapi, semua itu bisa hilang dalam sekejap mata, dan apa yang tertinggal adalah duka.

Memang dalam hidup di dunia, manusia cenderung untuk mudah terpikat oleh sesuatu penampilan yang terlihat indah dan hebat. Mereka mudah mengagumi orang yang mempunyai kesuksesan, kekayaan dan kemampuan yang luar biasa. Karena banyak manusia yang bergantung kepada hal-hal itu, mereka yang sukses kemudian dijadikan contoh keberhasilan dalam hidup. Bahkan, untuk berbakti kepada Tuhan, banyak orang Kristen yang memilih untuk pergi ke gereja yang mempunyai gedung yang mewah dan pendeta yang terkenal. Tetapi, sejarah membuktikan bahwa apa yang dipandang hebat oleh manusia seringkali merupakan sesuatu yang tidak berharga di mata Tuhan.

Ayat di atas adalah apa yang dikatakan Samuel ketika ia mengunjungi Isai untuk memilih salah satu dari anaknya guna menggantikan Raja Saul yang sudah ditolak Tuhan. Ketika Samuel melihat Eliab anak Isai yang pertama, Samuel merasa bahwa ialah yang akan dipilih oleh Tuhan. Tetapi Tuhan menegur Samuel agar jangan memandang orang dari penampilannya, karena Tuhan melihat hati dan bukan apa yang terlihat mata manusia. Tuhan melihat  apakah  seseorang benar-benar bergantung kepada Dia dan hidup untuk kemuliaanNya.

Banyak orang yang bertanya-tanya, apakah yang bisa dipelajari sebagai hikmah ketika masalah besar sedang terjadi. Satu hal yang penting yang bisa kita lakukan adalah meneliti pedoman hidup kita. Tuhan menilik hati manusia, dan Ia bisa melihat apa yang tersembunyi dalam kehidupan semua orang. Jika manusia memilih penampilan apa pun dan siapa pun menurut pandangan matanya, Tuhan menyelidiki apakah semua itu berguna untuk kemuliaanNya. Dengan demikian, bukan penampilan yang penting, tetapi kegunaannya bagi Tuhan. Kita yang mengaku sebagai pengikut Tuhan seharusnya dapat mengerti apa yang disukai Tuhan dan mengubah pedoman hidup kita.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s