Badai besar sudah datang

“Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” Matius 7: 25

Hari Minggu yang lalu , negara bagian Australia Barat mengalami badai topan “Mangga” sehingga sekitar 50 ribu rumah terputus aliran listriknya.  Angin yang berkecepatan sampai 100 km/jam membuat banyak rumah dan pantai mengalami kerusakan; tetapi untung tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Mereka yang tidak pernah membayangkan bahwa badai besar bisa terjadi, tentunya tidak merasakan perlunya persiapan khusus. Tetapi, pada bulan-bulan sekarang  ini  badai memang sering datang di negara bagian itu. Kedatangan badai bisa diramalkan dan dipastikan oleh Biro Meteorologi negara dan karena itu penduduk bisa mempersiapkan diri.

Hidup manusia dalam ayat di atas dibayangkan sebagai rumah yang dilanda badai. Datangnya masalah kehidupan yang besar tentunya menggoncang hidup siapa saja. Jika badai besar dalam hidup seseorang mungkin belum datang, ia tentunya berdoa dan berharap agar itu tidak terjadi. Tetapi jika terjadi, itu tidak dapat ditolak atau dihindarinya. Berbeda dengan badai karena cuaca, badai kehidupan seringkali tidak dapat diduga datangnya maupun besarnya. Karena itu banyak orang yang mengalaminya akan mengalami goncangan atau kejutan besar.

Pada akhir tahun 2019, saya mengajukan pertanyaan dalam salah satu renungan: kapankah kita akan mengalami badai kehidupan di masa depan? Adalah suatu hal yang menarik bahwa badai kehidupan dunia ternyata datang 3 bulan kemudian! Siapakah yang bisa menduga kedatangan musibah ini? Walaupun demikian, setiap orang bisa mempersiapkan diri jika mereka sadar bahwa itu bisa datang pada saat yang tidak terduga.

Dalam dunia yang sudah tercemar dosa, siapa saja bisa mengalami masalah hidup yang besar. Saat ini, dengan adanya pandemi  penduduk banyak negara sudah mengalami berbagai penderitaan. Jika keadaan tidak membaik dengan cepat, diperkirakan bahwa wabah kelaparan akan muncul di berbagai negara. Dalam hal ini, umat Kristen  tidak seharusnya berharap akan perlakuan istimewa dari Tuhan, agar mereka boleh bebas dari masalah, sedangkan orang lain semuanya jatuh bangun bergulat dengan penderitaan. Apa yang boleh kita minta adalah kekuatan dari Tuhan sehingga kita dapat kuat menghadapinya.

Seperti mempersiapkan sebuah rumah untuk menghadapi badai yang akan datang, kita harus memohon agar Tuhan memperkuat iman kita hari demi hari, dan memusatkan hidup kita kepadaNya. Dengan demikian, jika badai kehidupan datang, kita akan tetap dapat berdiri teguh dalam iman sampai akhir. Hanya Tuhan yang tahu kapan badai akan datang, sekalipun Dia bukan penyebabnya. Dalam hal ini, kita yang beriman kepada Tuhan harus yakin bahwa apa pun yang terjadi, Yesus akan menyertai kita. Inilah pondasi kehidupan kita yang menguatkan kita sehingga kita tetap bisa berdiri teguh dan berani menyongsong hari depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s