Berbahagialah orang yang berdukacita

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur” Matius 5: 4

Bagi mereka yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak, tentu tahu bahwa semua anak-kecil pernah mengalami “kecelakaan” seperti jatuh tersandung, kepala terantuk meja dan sebagainya. Itu sudah biasa. Tentu saja, sebagai anak kecil mereka menangis ketika hal-hal itu terjadi. Bagi anak kecil, sakitnya tubuh mungkin tidak terlalu parah, tetapi hati yang kaget atau takut mungkin lebih sering membuat mereka menjerit atau menangis. Mereka mungkin tidak tahu mengapa mereka merasa sakit, tetapi mereka  sadar bahwa orangtuanya akan  bisa menolongnya dan memberi perhatian. Seorang anak tahu bahwa orangtuanya mengasihinya, karena itu rasa sakit yang sekecil apapun memberi mereka kesempatan untuk meminta perhatian orangtua. Sebagai anak kecil, ada rasa bahagia jika dekat dengan orangtua.

Setelah menjadi orang dewasa, kebanyakan orang lebih bisa menahan atau menyembunyikan rasa sakit. Malahan, orang sering merasa malu untuk memperlihatkan rasa sakitnya kepada orang lain, sekalipun itu sakit sekali. Jika ada rasa sedih, mungkin mereka menyembunyikannya di balik senyuman palsu. Mereka mungkin ingin dianggap sebagai orang yang tegar, dan selain itu mereka tidak yakin apakah ada orang yang mengerti akan masalah mereka dan bisa memberi pertolongan. Lebih dari itu, ada juga kecurigaan jangan-jangan ada orang yang malah bersuka-ria karena mendengar adanya orang lain yang menderita. Karena itu, tidak mengherankan bahwa banyak orang dewasa yang mengalami penderitaan batin karena merasa bahwa segala rasa sedih dan pedih haruslah ditanggung sendiri.

Memang jika tidak ada orang yang bisa dipercaya atau yang mau mendengarkan keluh kesah kita, hidup tentunya terasa berat. Mereka yang hidup sebagai suami dan istri, belum tentu dapat saling mencurahkan isi hati dengan leluasa. Menceritakan persoalan yang ada kepada orangtua atau pun kepada anak yang sudah dewasa di zaman ini juga tidak mudah. Semua itu membuat orang terpaksa untuk memendam perasaan sedih dan pahit yang dipunyainya. Siapa lagi yang bisa dijadikan tempat untuk mencurahkan isi hati jika orang yang terdekat pun tidak mempunyai waktu atau perhatian untuk kita?

Ayat di atas adalah singkat tetapi sangat terkenal. Walaupun demikian, tidaklah mudah bagi kita untuk dapat menyelami artinya. Ayat itu menyatakan bahwa kita harus berbahagia ketika mengalami dukacita karena akan menerima penghiburan. Penghiburan dari mana? Penghiburan dari Tuhan, kalau saja kita menempatkan diri kita sebagai anak kecil yang membutuhkan kasih dan perhatian orangtua. Mungkin sebagai orang dewasa kita berusaha untuk  menghadapi dan menyelesaikan kesulitan kita dengan tenaga sendiri. Mungkin kita tidak yakin kalau Tuhan mau mendengar keluh kesah kita, karena pada saat-saat yang lalu kita tidak pernah mau mendekatiNya. Tetapi, sebagai orang Kristen kita adalah orang-orang yang sudah diangkat menjadi anak-anak Allah karena darah Kristus. Seorang anak tahu bahwa orangtuanya mengasihinya, dan karena itu rasa sakit yang sekecil apapun memberi mereka kesempatan untuk pergi menemui orangtuanya guna menerima penghiburan. Dengan demikian, sebagai anak Tuhan kita akan mendapatkan rasa bahagia jika kita selalu mau dekat dengan Dia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s