Jika bahaya datang tanpa diundang

Keesokan harinya roh jahat yang dari pada Allah itu berkuasa atas Saul, sehingga ia kerasukan di tengah-tengah rumah, sedang Daud main kecapi seperti sehari-hari. Adapun Saul ada tombak di tangannya. Saul melemparkan tombak itu, karena pikirnya: “Baiklah aku menancapkan Daud ke dinding.” Tetapi Daud mengelakkannya sampai dua kali. Saul menjadi takut kepada Daud, karena TUHAN menyertai Daud, sedang dari pada Saul Ia telah undur. 1 Samuel 18: 10 – 12

Pernahkah anda mengundang bahaya? Pada umumnya, setiap orang pada suatu saat dalam hidupnya pernah, secara sadar atau tidak, mengundang bahaya.  Itu terjadi jika kita melakukan sesuatu yang jika kita pikir dalam-dalam, adalah sesuatu yang tidak patut kita lakukan karena adanya resiko yang tidak baik. Misalnya, mengendarai motor tanpa helm, mengendarai mobil tanpa sabuk pengaman, ngebut atau merokok. Mungkin kita melakukan hal-hal itu sebagai suatu kebiasaan atau sebagai sesuatu yang dipandang umum oleh masyarakat. Tetapi, orang yang sadar akan adanya bahaya tentu saja akan berusaha menghindarinya. Itu jika mereka mempunyai pikiran sehat.

Ketika itu Daud sudah menjadi seorang prajurit raja Saul. Ia bahkan menjadi seorang kepala peleton. Daud dari seorang gembala sudah menjadi seorang pahlawan yang mengalahkan orang Filistin dan karena itu banyak orang yang menyanjungnya. Dalam keadaan itu, raja Saul bukannya merasa senang atas keberhasilan Daud, tetapi justru merasa benci dan iri. Saul merasa terancam karena ia tahu bahwa Tuhan tidak lagi menyenanginya. Hari demi hari berlalu, rasa benci itu tumbuh makin besar sehingga menjadi keinginan untuk menghancurkan Daud.

Apa yang dialami Saul sebenarnya sangat sering terjadi pada diri manusia mana pun. Mereka yang merasa kurang berhasil dalam hidupnya, bisa merasa iri akan apa yang bisa dicapai oleh orang lain. Rasa iri bisa bertumbuh menjadi besar dan menjadi rasa benci. Dan dari rasa benci tumbuhlah pikiran yang jahat. Ini jugalah yang terjadi pada waktu Kain membunuh Habil, adiknya.

Daud yang tinggal di istana Saul sudah tidak pernah pulang ke rumahnya lagi. Ia merasa kerasan di istana dan masih saja sering memainkan kecapinya. Mungkinkah Daud tidak merasakan perubahan sikap Saul kepadanya? Itu mungkin, tetapi Saul bukanlah orang yang bisa menyembunyikan perasaannya. Besar kemungkinan Daud tahu bahwa Saul tidak lagi menyenanginya seperti dulu, tetapi ia tidak peduli akan hal itu. Ia adalah orang yang setia kepada Tuhannya dan juga kepada rajanya. Ia tetap sering bermain kecapi untuk memuji Tuhannya dan untuk menghibur Saul.

Pada suatu saat Tuhan membiarkan roh jahat menguasai raja Saul sehingga ia menjadi kerasukan. Saul menjadi orang yang sangat marah, dan tidak dapat menyembunyikan atau mengendalikan kemarahannya. Ia kemudian mengambil tombak dan melemparkannya ke Daud dengan maksud membunuhnya. Daud tidak menyangka bahwa bahaya maut datang secara tiba-tiba. Apa yang diperbuatnya sehingga Saul ingin membunuhnya? Tentu tidak terlintas dalam pikiran Daud bahwa Saul mengingini kematiannya. Tetapi Daud bisa menghindari lemparan tombak Saul. Bukan hanya sekali, tetapi dua kali.

Ada dua pertanyaan di sini. Yang pertama, apakah Daud tidak sadar bahwa tinggal dengan Saul adalah mengundang bahaya? Setidaknya Daud pasti merasakan adanya kebencian Saul, tetapi ia tidak peduli akan hal itu karena ia mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan. Daud tidak mengundang bahaya, tetapi bisa hidup dalam keadaan bahaya. Dengan adanya hubungan yang baik dengan Tuhan kita juga bisa seperti Daud, kita bisa melupakan kenyataan pahit di sekitar kita dan memusatkan hati dan pikiran kita kepada kasih Tuhan. Keadaan di sekeliling kita tidak dapat menghapus rasa damai dan sukacita kita jika kita sadar bahwa Tuhan beserta kita.

Yang kedua: mengapa Daud bisa menghindari serangan tombak Saul sampai dua kali? Mungkin kita berpikir bahwa Daud yang menang dalam duel melawan Goliat tentu mempunyai kemampuan untuk menghindari serangan Saul.  Daud yang mengalahkan orang Filistin tentu adalah seorang prajurit yang terampil.  Tetapi kita tidak boleh lupa bahwa Daud menang atas Goliat bukan karena kemampuannya sendiri. Tuhanlah yang membuat ia menang. Tuhan jugalah yang membuat Daud bisa menghindari serangan tombak yang tidak terduga dari Saul.

Tuhan yang sudah membiarkan roh jahat menguasai Saul sehingga ia tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, adalah Tuhan yang mempunyai rencana lain. Tuhan tidak akan membiarkan Saul menjadi sedemikian murka jika Ia tidak dapat menguasai tindakan Saul. Dalam keadaan yang kritis, Tuhan yang mengizinkan itu terjadi adalah Tuhan yang tahu bagaimana Ia harus menyudahinya. Tuhan adalah mahakuasa dan mahatahu. Rencananya selalu baik untuk orang orang yang dikasihiNya.

Apa  maksud Tuhan dalam membiarkan kedatangan bahaya yang tidak diundang kepada Daud? Itu tertulis dalam ayat ke 12. Saul menjadi takut kepada Daud, karena ia bisa melihat bahwa Tuhan menyertai Daud, sedangkan ia bisa merasa bahwa Tuhan sudah mundur darinya. Dengan demikian, ayat-ayat ini memberi pelajaran kepada kita sebagai umat Tuhan, bahwa bahaya bisa datang dalam hidup kita tanpa diundang, tetapi Tuhan selalu memegang kontrol. Tuhan tidak pernah meninggalkan orang-orang yang dikasihiNya tetapi akan mengabaikan mereka yang tidak mau taat kepada perintahNya. Adakah yang masih kita kuatirkan dalam hidup ini? Marilah kita serahkan hidup kita kepada Tuhan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s