Mengapa kamu begitu takut?

“Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.” Markus 4: 39

Sore hari ini saya berjalan-jalan sepanjang pantai sambil menikmati pemandangan. Ketika itu langit biru dan air sangat tenang sehingga banyak orang yang berperahu dan berolahraga air. Pikiran saya teringat akan keadaan dua bulan yang lalu, saat saya tidak dapat mengunjungi tempat ini karena adanya lockdown. Saya bersyukur bahwa keadaan sesudah itu mulai membaik. Pada pihak yang lain, saya juga kuatir bahwa ada kemungkinan keadaan bisa memburuk lagi dalam minggu-minggu mendatang. Kekuatiran saya menjadi lebih intens jika saya ingat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menduga apa yang akan terjadi.

Murid-murid Yesus menurut kitab Markus diatas mungkin juga berperahu sambil  menikmati pemandangan ketika mereka menyeberangi laut Galilea yang juga dinamakan laut Tibereas. Laut ini sebenarnya adalah danau air tawar terbesar di Israel, sekitar 20 km panjangnya dan 10 km lebarnya dengan kedalaman 45 meter. Ketenangan danau itu tiba-tiba berubah diganti dengan kekacauan dan ketakutan ketika angin topan datang, yang membuat perahu mereka hampir karam.

Datangnya topan dan ombak membuat murid-murid menjadi was-was. Tetapi, sebagai penangkap ikan, sebagian mungkin sudah terbiasa menghadapi ombak besar seperti itu. Mungkin mereka pada awalnya berusaha untuk mengatasi keadaan. Tetapi sekalipun mereka kuat dan berpengalaman dengan ombak besar, ternyata keadaan menjadi sangat buruk sehingga dalam kekuatiran mereka membangunkan Yesus.

Sekuat-kuatnya manusia, tentu ada keadaan yang membuat mereka kuatir. Dengan pikiran sehat kita tentu pernah mengalami bahwa ada saatnya kita merasa takut dan kuatir karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Orang-orang disekitar kita mungkin bermaksud baik dengan menyokong kita, membesarkan hati kita. Tetapi siapakah yang berani mengaku bahwa dirinya kuat dalam menghadapi gelombang hidup yang besar? Saat ini, kita adalah manusia yang sebenarnya kecil dibandingkan dengan gunung persoalan dan tantangan yang kita hadapi. Seperti murid-murid Yesus kita merasa lemah dan tak berdaya. Tidak ada orang lain yang bisa menolong kita. Tidak ada nasihat dan semboyan yang bisa membesarkan hati kita.

Pada waktu murid-murid menyadari ketidak-berdayaan mereka, mereka menjerit memanggil Yesus.  Mereka membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Dalam keadaan darurat seperti itu mereka sadar bahwa harapan satu-satunya adalah pada Ia yang benar- benar berkuasa, Tuhan Yesus.

Hari ini kita diingatkan bahwa kita tidak diharapkan untuk selalu menang dan selalu bersemangat untuk bisa menang dalam hidup ini. Bukan seperti yang dipidatokan banyak motivator di TV dan seminar. Adakalanya kita harus merasa kalah, ada saatnya kita menyerah, untuk bisa ingat adanya Tuhan dan agar mau menjerit kepadaNya. Dan Ia akan menghardik topan kehidupan kita dan berkata: “Diam! Tenanglah!”

Mungkin kita sudah mengalami berbagai topan kehidupan di masa lalu. Dan kita ingat bahwa ketika topan itu reda, hidup kita terasa teduh kembali. Biarlah kita juga ingat bahwa Yesus berkata kepada kita: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Kita harus percaya bahwa Tuhan akan menolong kita pada waktu yang tepat. Semoga Tuhan menguatkan kita yang saat ini sedang menghadapi masalah hidup yang besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s