Menghadapi pencobaan hidup

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.” Yakobus 1: 13

Baru saja kita memasuki tahun baru, berita-berita media sudah melaporkan berbagai kejadian yang menyedihkan dari seluruh dunia. Semua kejadian seperti itu memang bisa membuat orang menghela nafas, bukan saja karena ikut merasa sedih, tetapi juga rasa sesal karena adanya orang-orang yang mengalami hal-hal yang buruk karena kesalahan yang diperbuatnya. Peribahasa “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak” adalah peribahasa yang sangat terkenal, yang menunjuk kepada ketidakberdayaan manusia dalam menentukan apa saja yang terjadi dalam hidupnya. Tetapi, apakah ini berlaku untuk setiap orang dan setiap kejadian?

Memang banyak orang berpendapat bahwa setiap manusia mau tidak mau harus berserah kepada “nasib” atau “takdir”. Pengertian yang bersifat fatalisme ini sering dijumpai dalam ajaran tokoh-tokoh agama. Baik dan buruk dianggap tergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Tuhan dianggap sebagai penyebab malapetaka, pencipta penderitaan dan yang memberi pencobaan. Mereka yang percaya akan hal ini yakin bahwa Tuhanlah yang bertanggung jawab atas segala derita yang dialami manusia. Tuhan adalah seperti dalang, dan manusia hanyalah bonekaNya.

Dengan berpandangan seperti ini, banyak manusia yang berdalih bahwa dosa atau kesalahan yang diperbuatnya adalah berasal dari Tuhan. Tuhanlah yang memeri pencobaan yang membuat manusia terperangkap. Pandangan seperti ini sudah pasti hanyalah pemikiran manusia yang berusaha membela diri dan mempersalahkan segala sesuatu, kecuali dirinya sendiri, sebagai penyebab masalah. Tetapi, ayat dari Yakobus 1: 13 diatas jelas menunjukkan bahwa jika seorang mengalami cobaan, itu bukanlah karena “nasib” atau perbuatan Tuhan. Mereka yang menderita karena perbuatan orang lain juga tidak dapat berkata bahwa Tuhan yang menyebabkan hal itu. Dosa terjadi karena pilihan manusia yang tidak sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan Tuhan. Dosa adalah seperti anak panah yang tidak mencapai pusat target.

Tuhan memang menentukan jalan kehidupan manusia, tetapi tidak seperti yang digambarkan sebagai nasib mujur dan nasib malang. Tuhan mempunyai rencana-rencana yang harus terjadi di bumi seperti di surga, tetapi rencana itu bukannya membuat manusia tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Tuhan bisa melaksanakan rencananya tanpa harus membuat manusia sebagai robot. Tuhan yang mahatahu dapat menyelami pikiran manusia. Tuhan yang mahakuasa dapat mencapai tujuanNya dengan melewati apa saja yang diperbuat manusia.

Setiap manusia bebas untuk melakukan apa saja yang dimauinya, tetapi tidak semua yang dilakukannya berguna atau membawa kebaikan. Seperti yang dialami Adam dan Hawa, dalam kebebasannya manusia bisa berbuat jahat dan melanggar firman Tuhan. Tetapi, sebagai orang Kristen kita sadar bahwa kita harus melakukan hal yang baik, yang sesuai dengan perintah Tuhan. Dengan hidup menurut firmanNya dan menyakini bahwa Dia adalah Tuhan yang mahakasih, kita boleh percaya bahwa Tuhan akan memberkati kita dengan hal-hal yang baik dan kebahagiaan di tahun yang baru ini.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s