Tuhan pembuat nasib malang

“Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.” Yesaya 45: 6 – 7

Setujukah anda dengan pandangan bahwa Tuhan menciptakan nasib malang di antara umat manusia? Sekalipun ayat di atas menyatakan demikian, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Kata yang diterjemahkan sebagai “nasib malang” berasal dari kata Ibrani yang berarti “kesengsaraan, penderitaan, malapetaka, kesusahan, kesengsaraan”.

Jika kita bandingkan, banyak Alkitab berbahasa Inggris yang menerjemahkan kata itu sebagai: “bencana” (NIV, HCSB), “malapetaka” (NKJV, NAS, ESV), dan “celaka” (NRSV). Konteks dari Yesaya 45: 6 – 7 adalah Tuhan yang memberi berkat kepada Israel karena ketaatan, dan yang menghukum Israel karena ketidaktaatan. Tuhan mencurahkan berkat atas orang-orang yang Dia kasihi, tetapi menghakimi mereka yang terus memberontak melawan Dia: “Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya” (Yesaya 45: 9). Dengan demikian, Yesaya 45: 6 – 7 menyajikan tema umum dari Kitab Suci – bahwa Tuhan mendatangkan hukuman bagi mereka yang terus memberontak dengan keras hati terhadapNya.

Walaupun demikian, jika bencana terjadi di dunia, banyak orangKristen yang juga terkena dampaknya. Dimanakah Tuhan ketika malapetaka terjadi di dunia? Sedihkah Tuhan jika umatNya terkena bencana? Mengapa ia membiarkan mereka yang taat menderita bersama -sama dengan mereka yang murtad? Bagi orang Kristen hal ini adalah pertanyaan yang masih sering timbul. Bahkan, adanya bencana dan malapetaka seringkali membuat hati menjadi kecil karena nampaknya malapetaka bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja dan kapan saja.

Satu hal yang harus kita sadari ialah sifat Tuhan yang mahakasih tentulah bertentangan dengan pandangan sebagian agama atau pendapat beberapa pemuka agama, bahwa Dialah yang sumber semua malapetaka. Dalam Yohanes 3:16 kita tahu bahwa karena Tuhan mencintai seisi dunia, Ia sudah memberikan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Dengan kasih yang sedemikian besarnya, tidaklah mungkin bahwa Tuhan bermaksud membiarkan orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu untuk menderita jika tidak ada sebabnya.

Sebelum kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, kita harus menyadari bahwa karena bumi ini sudah jatuh kedalam dosa, semua makhluk tidak lagi dapat memperoleh ketenteraman. Karena dunia ini adalah dunia yang tidak sempurna, manusia secara perorangan atau kolektif, bisa membuat kesalahan yang bisa mencelakakan orang lain atau dirinya sendiri. Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa iblis dengan segala usahanya juga berusaha menghancurkan kehidupan seluruh umat manusia.

Dalam keadaan yang demikian, bagi umat Kristen satu-satunya pegangan hidup adalah kasih Tuhan yang sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa mereka. Karena sedemikian besar kasih Tuhan kepada manusia, Ia sebenarnya tidak menginginkan adanya bencana apapun pada diri manusia. Walaupun begitu, karena dosa yang diperbuat manusia, Tuhan bisa memungkinkan terjadinya hal-hal yang menyedihkan sebagai peringatan dan hukuman. Selain itu, dalam berbagai penderitaan, kuasa Tuhan bisa lebih terasa dan membuat orang mau menyerah atau berserah kepadaNya.

Hari ini, jika kita melihat adanya sebuah malapetaka, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan seakan berdiam diri. Apakah Tuhan benar-benar mahakasih, mahaadil dan mahakuasa? Ayat diatas menunjukkan bahwa keputusanNya akan terjadi dan segala kehendakNya akan terlaksana. Apapun yang terjadi adalah dengan sepengetahuanNya. Sebagai Pencipta, Tuhan berhak untuk melakukan apa saja yang dikehendakiNya.

Kita seringkali tidak mengerti mengapa Ia mengambil keputusan tertentu atau membiarkan hal-hal yang buruk terjadi di dunia. Tetapi, satu hal yang bisa kita mengerti adalah hidup di dunia ini hanyalah sebagian kecil dari hidup manusia. Orang mungkin hidup di dunia untuk 70-80 tahun dan dalam jangka waktu yang relatif singkat itu berbagai kesukaran dan penderitaan bisa muncul (Mazmur 90: 10). Tetapi apa yang datang sesudah hidup di dunia adalah yang lebih penting; masa yang abadi dimana kita sudah menerima garansi untuk bisa menikmati kebahagiaan yang penuh dengan Tuhan. Kita adalah orang-orang yang mujur karena Tuhan kita bukanlah Oknum Ilahi yang kejam, tetapi Ia adalah Tuhan yang mahaadil dan mahakasih!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s