Pandemi ini seharusnya membuat kita lebih bergantung kepada Tuhan

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Keluaran 34: 14

Adanya pandemi Covid-19 mungkin dipandang oleh banyak orang sebagai malapetaka yang sama sekali tidak ada gunanya. Malahan, pandemi ini terasa seperti sebuah malapetaka yang hanya membawa kepedihan dan derita bagi umat manusia. Memang, peradaban manusia di masa lalu berkembang karena adanya berbagai tantangan hidup; tetapi jika apa yang dihadapi adalah lebih besar dari kemampuan untuk mengatasinya manusia bisa saja hilang harapan.

Bagi umat Kristen, segala apa yang terjadi di dunia adalah dengan seizin Tuhan. Umat percaya tentunya juga yakin bahwa Tuhan mempunyai maksud yang baik untuk umat-Nya dalam setiap keadaan. Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang sangat berat, orang mungkin merasa bahwa Tuhan bukanlah Oknum yang mahakuasa dan mahakasih, kepada siapa mereka bisa berharap. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang Kristen yang sekarang goncang imannya, dan bingung mencari-cari jalan apa pun untuk dapat bertahan atau survive. Mereka lupa bahwa Tuhan tetap memegang kontrol atas seisi alam semesta. Mereka bisa saja lebih bergantung kepada nasihat orang lain dan usaha sendiri untuk mengatasi segala kekuatiran mereka. Mereka secara tidak sadar sudah meninggalkan iman kepada Tuhan dan mencoba bersandar pada pikiran dan pengetahuan manusia. Ini tentunya bisa membuat Tuhan merasa cemburu.

Jika rasa cemburu manusia sering kali adalah dosa, bagaimana mungkin Tuhan yang mahasuci adalah Tuhan yang cemburuan? Kecemburuan Tuhan justru timbul karena Ia adalah Tuhan yang mahasuci dan mahakuasa. Sebagai Tuhan satu-satunya yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, Tuhan menuntut ketaatan dan penyerahan dari manusia. Ia tidak mengizinkan manusia menyembah diri sendiri, sesamanya, makhluk lain atau benda apa pun yang juga diciptakan-Nya. Penyembahan dan penyerahan yang tidak kepada Tuhan adalah penyembahan berhala.

Jika Tuhan berhak untuk merasa cemburu karena Ia adalah pemilik alam semesta, tidakkah kecemburuan-Nya bersifat mementingkan diri sendiri? Sama sekali tidak! Tuhan yang mahakasih justru dengan kecemburuan-Nya ingin agar manusia hidup bahagia melalui ketaatan kepada sumber kehidupan mereka. Tuhan ingin agar manusia tidak terjebak ke dalam kekacauan dan penderitaan di saat ini karena berharap kepada ilah-ilah yang tidak dapat membawa manusia ke arah kebahagiaan dan keselamatan.

Sayang sekali bahwa dalam keadaan terdesak, manusia makin mudah terperosok ke dalam dosa penyembahan berhala. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang sering mendewakan para pemimpin, selebriti dan “influencer” yang nampaknya karismatik dan berwibawa; mengagumi penampilan dan pesona mereka, memuja apa yang sudah dicapai oleh mereka, terobsesi dengan anjuran dan ajaran mereka yang hebat, dan menganggap apa yang kelihatan oleh mata sebagai sesuatu yang terbaik dan yang di atas segalanya. Pada pihak yang lain, manusia juga mudah terperangkap dalam keyakinan bahwa hidup-mati mereka ada di tangan mereka sendiri. Adanya pandemi yang seharusnya bisa mengingatkan kita untuk makin dekat dengan Tuhan sumber kehidupan kita, bisa membuat kita ragu untuk bergantung kepada-Nya. Ini tentu saja serupa dengan pemujaan berhala.

Alkitab menyebutkan bagaimana cemburu Tuhan menyebabkan datangnya berbagai hukuman kepada bani Israel. Sejarah juga membuktikan bahwa Tuhan menghancurkan apa dan siapa yang ditinggikan oleh manusia. Bukan hanya terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, pemujaan berhala juga terjadi dalam kehidupan gereja. Pemujaan para pemimpin gereja terjadi jika jemaat menempatkan mereka sebagai pusat pengharapan dan mengharapkan mujizat terjadi melalui doa-doa mereka. Pemujaan diri sendiri terjadi jika kita lupa untuk mengakui bahwa kehendak-Nya yang harus terjadi, bukan kehendak kita.

Dalam hidup kita sehari-hari, penyembahan berhala sering tidak disadari. Apabila kita selalu menaruh kepentingan pribadi, suami, istri, dan anak di atas kepentingan Tuhan, itu bisa menjadi penyembahan ilah. Apabila kita selalu membanggakan apa yang kita capai dan miliki , kita bisa lupa dari mana asalnya. Dan saat ini, jika kita tunduk dalam ketakutan dan mengambil keputusan atau tindakan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, itupun merendahkan Tuhan karena kita seolah lupa bahwa hanya Tuhan yang memegang kontrol.

Tuhan adalah Tuhan yang cemburu dalam kesucian-Nya. Ia tidak ingin manusia melupakan bahwa Ia adalah Tuhan semesta alam dan segala bangsa. Tuhan tidak menginginkan manusia mencoba-coba untuk mencari sesuatu yang bisa menggantikan-Nya dalam keadaan darurat saat ini, karena Tuhan tahu bahwa semua itu sia-sia dan justru akan membawa kehancuran. Hukum yang pertama untuk menghormati dan percaya kepada Dia adalah hukum yang terpenting untuk dilaksanakan manusia karena itu merupakan tali kehidupan yang menjamin kesejahteraan umat-Nya di bumi dan di surga.

“Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?” 1 Korintus 10: 22

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s