Antara pengujian dan pencobaan

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1: 13 – 14

Pandemi Covid-19 ini sudah berlangsung hampir dua tahun, tetapi kapan berakhirnya belum dapat ditentukan. Seperti masalah hidup lainnya, sebagian orang akan merasa beruntung jika mereka pada akhirnya dapat melewati masa sulit ini dengan selamat. Tetapi sebagian lagi mungkin merasa kuatir bahwa mereka menghadapi persoalan yang tidak bisa diatasi. Sebagai orang Kristen, tentunya kita yakin bahwa dengan berdoa kita bisa menyampaikan keluh-kesah kita kepada Tuhan untuk meminta pertolongan. Tetapi, kita tentunya sadar bahwa Tuhan sudah tahu apa yang kita derita sebelum kita berdoa. Doa memang bukan dimaksudkan untuk mengingatkan Tuhan akan kesulitan kita, tetapi sebaliknya untuk mengingatkan kita yang dalam kesulitan untuk selalu dekat kepada-Nya.

Reaksi manusia dalam kesulitan memang ada berbagai rupa. Ada yang makin rajin berdoa dan percaya bahwa pertolongan Tuhan pasti datang jika mereka giat mengulangi permohonan mereka. Tetapi ada juga orang yang berdoa memohon pertolongan sambil berserah kepada kehendak Tuhan. Dalam hal ini, memang sebenarnya hal berserah kepada kehendak Tuhan itu diajarkan oleh Yesus dengan Doa Bapa Kami, dan karena itu kita tidak sepantasnya “memaksa-maksa” Tuhan untuk menolong kita. Di pihak lain, dalam kesulitan hidup ada orang yang merasa bahwa Tuhanlah yang mengizinksn datangnya semua masalah dan Tuhanlah yang bisa melenyapkannya. Selanjutnya, mereka yang sudah lama menderita mungkin saja mengira bahwa Tuhan yang mahakuasa menghendaki semua itu terjadi, dan karena itu mereka mungkin percaya bahwa doa adalah sesuatu yang sebenarnya sia-sia.

Secara garis besar, penderitaan di dunia ini adalah hal yang lazim. Manusia hidup di dunia yang sudah cacat dan karena itu hidup bisa menjadi sangat sulit dijalani. Walaupun demikian, kesulitan hidup bukanlah datang tanpa sebab. Ada orang yang mengalami kesulitan hidup sekalipun itu terjadi bukan karena kekeliruannya. Dalam hal ini, sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan terkadang membiarkan hal itu terjadi untuk membuat kita mau bergantung sepenuhnya kepada Dia. Ini adalah sebuah ujian hidup yang justru bisa membuat kita makin kuat dalam iman. Pada pihak yang lain, ada juga kesulitan hidup yang terjadi karena kekeliruan kita sendiri, sekalipun tidak mau kita akui. Mungkin sebagai pelarian, orang yang merasa tidak berdaya merasa bahwa Tuhanlah yang sudah mendatangkan semua hal yang buruk dalam hidup mereka.

Ayat di atas ditulis oleh Yakobus ratusan tahun yang lalu, tetapi tetap aktual pada zaman ini. Yakobus menasihati umat Kristen pada zamannya bahwa mereka yang jatuh ke dalam dosa karena pencobaan haruslah mau mengakui kesalahan mereka. Pencobaan yang membawa kejahatan dan dosa bukanlah datang dari Tuhan, tetapi manusialah yang karena keinginan mereka sendiri kemudian jatuh dalam dosa. Pada pihak yang lain, terkadang Tuhan memberikan pengujian hidup bagi umat-Nya agar mereka bisa tahan uji dan menjadi pemenang. Pengujian adalah karunia Tuhan yang baik kepada umat-Nya sekalipun itu tidak terasa nyaman pada mulanya.

Pada zaman modern ini mungkin banyak orang yang merasa bahwa mereka jatuh ke dalam dosa dan pencobaan karena Tuhan sudah membiarkan hal-hal yang jahat merajalela di dunia. Mengapa Tuhan membiarkan adanya hal-hal yang jahat di dunia? Bukankah sebagai Tuhan yang mahakuasa Ia bisa menghentikan pandemi ini? Dalam ayat di atas kita diperingatkan bahwa Tuhan tidak pernah mencobai umat-Nya agar mereka jatuh dalam dosa. Mereka yang jatuh dalam dosa tidaklah dapat mempersalahkan pengaruh orang lain, keadaan atau lingkungan mereka. Mereka tidak dapat membuat alasan bahwa semua itu terjadi karena Tuhan membiarkan adanya pandemi. Tuhan bermaksud baik dalam memberikan ujian, tetapi dalam menghadapi ujian kita bisa jatuh ke dalam pencobaan.

Dalam menghadapi pandemi dan segala persoalannya, setiap anak Tuhan harus siap untuk menghadapi tantangan hidup mereka sendiri dan berusaha menghindari jebakan-jebakan yang memikat dan yang terlihat sebagai solusi yang mudah. Sebagai umat-Nya seharusnya bisa membedakan apa yang baik dari apa yang buruk. Memang sering kali dengan tenaga sendiri kita tidak sanggup untuk mengatasi keinginan hati kita, tetapi dengan membina hubungan baik kita dengan Tuhan, kita akan mendapat kebijaksanaan dan kekuatan untuk bisa menang dalam menghadapi pengujian.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5: 3-4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s