Apakah anda benar-benar beriman?

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 17

Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap orang yang ingin mengaku percaya dalam sebuah upacara di gereja, antara lain:

  1. Apakah dia mengaku percaya, akan Allah Tritunggal yang Esa : Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.
  2. Apakah dia mengaku, bahwa firman Allah (Alkitab) yang dia pelajari dan ketahui akan membimbingnya pada jalan keselamatan.
  3. Apakah dia mengaku, untuk menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan firman Tuhan.
  4. Apakah dia mengaku dan mau, untuk mengikuti segala bentuk ibadah dan persekutuan dalam gereja.

Tentunya, untuk semua pertanyaan di atas seseorang seharusnya menjawab dengan “ya” karena hanya dengan itu ia menyatakan pengakuan imannya.

Memang untuk menjawab dengan “ya’ tidaklah terlalu sulit, apalagi semua pengertian atas pertanyaan di atas sudah diperoleh dari katekisasi. Walaupun demikian, dalam kenyataannya, apa yang diamini belum tentu dijalani. Banyak orang Kristen yang sudah faham akan seluk-beluk kekristenan secara teori, ternyata tidak mempunyai perhatian penuh dalam hal melaksanakan firman Tuhan.

Bagi banyak orang Kristen, teori adalah jauh lebih mudah untuk dipelajari dari pada pelaksanaannya. Untuk mereka, iman adalah satu hal dan perbuatan adalah suatu tambahan yang terpisah. Bukankah orang Kristen diselamatkan hanya oleh iman? Bukankah iman Kristen berbeda dengan iman agama lain yang menyatakan bahwa manusia harus banyak berbuat baik untuk bisa menerima hidup kekal di surga? Dengan demikian, banyak orang Kristen yang bersikap pasif atau tidak tergerak untuk selalu berbuat baik. Tidaklah mengherankan kalau orang yang beragama lain menganggap orang Kristen percaya akan jalan yang termudah dan tidak masuk akal untuk ke surga.

Sebenarnya ada bagian Alkitab yang menonjolkan hal perbuatan. Kitab Yakobus sering dipandang orang sebagai bukti pentingnya perbuatan baik untuk mencapai keselamatan. Tetapi, ayat di atas tidaklah menyatakan bahwa manusia diselamatkan karena perbuatan. Ayat itu hanya menjelaskan bahwa iman yang benar tidak mungkin untuk tidak disertai dengan perbuatan. Iman yang tanpa perbuatan adalah seperti teori yang diakui kebenarannya tetapi tidak pernah dipraktikkan.

Bagaimana orang bisa mengakui apa yang benar tetapi tidak melaksanakannya dalam hidup adalah sebuah tanda tanya besar. Apakah orang itu benar-benar percaya kepada Tuhan dan firman-Nya? Tidak sadarkah orang itu bahwa untuk menjadi umat Tuhan ia harus menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan perintah-Nya? Tidakkah orang itu mengerti bahwa sebagai orang Kristen ia harus menegakkan kebenaran dan keadilan di mana pun ia berada?

Tidak dapat disangkal bahwa dengan adanya pandemi, banyak orang dihadapkan kepada dua pilihan: hidup atau mati. Untuk bisa tetap hidup, mungkin orang berusaha untuk mencari nafkah dengan cara apa pun selama ekonomi negara mengalami kemunduran, dan juga berusaha untuk mendapatkan vaksin yang terbaik dan berbagai obat yang dianggap bisa melenyapkan ancaman virus corona. Dengan adanya berbagai desakan kehidupan, tidaklah mengherankan kalau orang Kristen di saat ini mengalami ujian iman yang besar.

Kita tidak perlu jauh-jauh melihat adanya orang yang mengaku Kristen tetapi gagal untuk hidup secara Kristen. Sebagai orang Kristen mereka hampir tidak ada bedanya dengan orang lain yang tidak peduli jika ada pelanggaran hukum, keadilan dan hak azasi dalam masyarakat atau menutup mata atas hal-hal buruk yang dilakukan penguasa. Pada pihak yang lain, kita pun sering mengalami pertentangan batin antara melakukan hal yang baik dan tinggal berdiam diri. Apalagi, dengan berbuat apa yang sesuai dengan firman Tuhan ada kemungkinan bahwa kita akan menjadi orang yang dibenci, alias persona non grata. Mungkin juga jika kita menurut jalan yang jujur dan benar, kesempatan untuk memperoleh apa yang kita butuhkan menjadi hilang karena sudah diambil orang lain.

Pada situasi yang kacau di saat pandemi ini, kita tentunya tahu bahwa hidup sebagai orang Kristen memang lebih mudah dan aman jika dijalankan di lingkungan gereja. Karena itu, kita mungkin ingin memisahkan hidup kerohanian dari hidup sehari-hari. Apa yang kita pelajari dan akui dari Alkitab sering kali hanya menjadi pengetahuan dan bukan pengalaman praktik. Tetapi, bagaimana seseorang bisa mengaku beriman jika ia tidak pernah mau sepenuhnya melaksanakan perintah Tuhan?

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s