Tuhan yang tidak pernah berubah adalah Tuhan yang mengasihi kita

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1:17

Bagaimana bisa orang Kristen mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah berubah? Saya sering mendengar pengkhotbah dan pendeta membuat klaim ini. Sudah tentu ini adalah hal yang menghibur, tetapi agaknya banyak orang Kristen yang mengalami kesulitan untuk memahaminya. Mengapa begitu?

Dalam Alkitab agaknya ada gambaran tentang Tuhan Sang Pencipta yang mahatahu, yang sulit mengambil keputusan. Pertama Dia menciptakan manusia. Kemudian Dia berkata bahwa Dia menyesal menciptakan manusia. Selanjutnya Dia mengirimkan air bah untuk melenyapkan manusia. Kemudian Dia berjanji untuk tidak akan mengirimkan banjir lagi. Bagaimana kita bisa mengandalkan Tuhan yang seakan tidak yakin akan motif dan tindakan-Nya sendiri? Tuhan yang sering berubah pikiran?

Memang ada sejumlah tempat di mana Kitab Suci Perjanjian Lama menggambarkan Tuhan sebagai Oknum Ilahi yang sering berubah pikiran seperti contoh berikut ini:

  • Maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. (Kejadian 6: 6).
  • Dan menyesallah Tuhan karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya. (Keluaran 32: 14).
  • Dan Tuhan menyesal, karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel. (1 Samuel 15: 35).
  • Ketika malaikat mengacungkan tangannya ke Yerusalem untuk memusnahkannya, maka menyesallah Tuhan karena malapetaka itu, lalu Ia berfirman kepada malaikat yang mendatangkan kemusnahan kepada bangsa itu: ”Cukup! Turunkanlah sekarang tanganmu itu.” (2 Samuel 24: 16).

Bagaimana semua ini cocok dengan pernyataan alkitab tentang Tuhan yang tidak pernah berubah atau berganti pikiran?

Solusi untuk teka-teki ini terletak pada pernyataan alkitabiah bahwa Allah adalah mahakasih. Apa artinya? Sifat Tuhan tidak berubah, tetapi ini tidak berarti bahwa itu statis. Sebaliknya, karena Tuhan itu hidup, aktif, dan dinamis, energi dan dinamismenya diekspresikan dalam hal memberi-dan-menerima dan dalam pasang-surutnya hubungan Tuhan dengan manusia.

Alkitab memperluas gagasan ini dengan mengajarkan bahwa sifat Tuhan yang tidak berubah mengandung konflik atau dialog yang tidak ada hentinya dengan umat-Nya. Di dalam Tuhan ada pertemuan antara prinsip-prinsip keadilan dan belas kasihan yang tampaknya bertentangan, atau antara kebenaran dan kasih karunia. Kita dapat melihat ini dalam perikop seperti Keluaran 34: 6 – 7: “Berjalanlah Tuhan lewat dari depannya dan berseru: ”Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.”

Ketegangan antara “pengampunan” di satu sisi dan “tidak membebaskan yang bersalah” di sisi lain adalah bagian penting dari hakikat Tuhan yang tidak berubah. Itu adalah inti dan esensi dari kasih-Nya yang aktif dan dinamis. Kita mungkin lebih dapat memahami konsep ini dengan membaca firman Tuhan sebagaimana dicatat oleh nabi Hosea:

“Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel? Masakan Aku membiarkan engkau seperti Adma, membuat engkau seperti Zeboim? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan.” Hosea 11: 8- 9.

Tuhan sampai sekarang tidak pernah berubah. Pergulatan antara keadilan dan belas kasihan selalu menjadi dasar karakter-Nya. Pada akhirnya ketegangan di dalam kodrat ilahi ini menjadi kekuatan pendorong dari tindakan Allah yang menentukan masa depan manusia: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3: 16). Melalui tindakan itulah “Ia menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus” (Roma 3:26). Ini juga telah menjadi bagian dari rencana dan tujuan Tuhan sejak awal, sebelum dunia dijadikan karena Ia adalah Tuhan yang mahatahu dan mahakasih.

Sebagai Tuhan yang mahatahu, mahakasih dan mahakuasa, Tuhan juga tidak pernah berubah dalam memegang kontrol atas seisi alam semesta. Apa pun yang terjadi di jagad raya, Tuhan tahu sebelum itu terjadi dan siap untuk bertindak pada waktu yang tepat. Tuhan berkuasa untuk mencapai rencana-Nya, tetapi Ia bukan Tuhan yang harus mengontrol setiap tindakan manusia dan kejadian di alam semesta. Karena kasih-Nya, Ia memberi manusia kemampuan untuk mengambil keputusan antara dua pilihan: untuk menjalani hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan atau menuruti keinginan diri sendiri. Apa pun yang kemudian terjadi, Tuhan selalu bisa membuat segala sesuatu berjalan menurut rancangan-Nya. Mereka yang tergolong domba-domba-Nya akan terus dipanggil-Nya, tetapi tidak dipaksa-Nya, untuk memilih jalan yang benar sehingga pada akhirnya rencana Tuhan yang baik akan terjadi. Ia adalah Tuhan yang mahakasih, yang tidak pernah berubah hakikat-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s