Tuhan tidak menghendaki kekacauan

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Tanggal 6 Januari 2021 adalah hari yang bersejarah bagi rakyat Amerika karena pada saat itu ada peristiwa yang luar biasa di ibukota negara itu, Washington D.C.. Sayang sekali, hari itu tidak bisa dilupakan bukan karena adanya hal yang indah, tetapi karena adanya kelompok ekstrim kanan yang menyerbu gedung Capitol, tempat para wakil rakyat Amerka bekerja. Jutaan orang di dunia memantau peristiwa itu melalui TV dan media lainnya karena Amerika adalah negara besar yang dianggap sebagai pelopor azas demokrasi. Tetapi, apa yang disaksikan membuat banyak orang menghela nafas. Suasana pandemi dan politik di Amerika saat itu memang cukup membuat prihatin banyak orang. Tetapi penyerbuan dan usaha pembunuhan beberapa politikus hampir saja menimbulkan perang saudara.

Tujuan hidup rakyat suatu negara memang bisa menjadi dasar filsafat kesatuan sebuah negara. Walaupun demikian, tujuan hidup tiap orang selalu ada bedanya dengan tujuan hidup orang lain, dan apa yang diingini seseorang hari ini mungkin berubah di masa mendatang. Kekacauan kemudian bisa timbul karena adanya orang-orang yang bertentangan pendapat. Ini mungkin salah satu hal yang kadangkala bisa menyebabkan orang kurang bisa menghargai adanya peraturan dan sistem yang ada, sekalipun semua itu dibuat dengan maksud baik. Pada pihak yang lain, ada kalanya tindakan pemimpin negara justru bisa memicu timbulnya kekacauan.

Jika kekacauan terjadi di bumi karena dosa dan melalui kebebasan manusia, itu bukan kejutan untuk Tuhan yang mahatahu. Ayat pembukaan di atas ditulis oleh Paulus sehubungan dengan adanya kekacauan di gereja Korintus yang disebabkan oleh adanya orang Kristen yang menggunakan karunia yang berbeda-beda pada waktu yang bersamaan, yang mana menimbulkan kebingungan dan kekacauan di antara jemaat yang hadir. Paulus kemudian menasihati mereka agar bisa menahan diri dan memakai sopan-santun dan tata-cara yang baik dalam berbakti, agar semua orang yang hadir dapat belajar dan memperoleh kekuatan dari Tuhan (1 Korintus 14: 31).

Adanya pemerintah sebenarnya dimaksudkan untuk membawa kebahagiaan bagi semua warganya. Pemerintah merupakan suatu bentuk organisasi yang bekerja dan menjalankan tugas untuk mengelola sistem dan menetapkan kebijakan bersama dalam mencapai tujuan negara. Karena itu, seluruh rakyat sudah sewajarnya mendukung kegiatan-kegiatan baik yang dilakukan pemerintah yang sah. Dan setiap pemimpin negara juga harus tunduk kepada hukum negara dan lembaga pemerintahan yang ada di atasnya.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Bagi umat Kristen, pemerintah yang diberi mandat selama kurun waktu tertentu, bersama berbagai lembaga pemerintah lainnya, adalah penguasa negara dengan seizin Tuhan. Dengan demikian, ayat di atas merupakan hal yang sangat penting untuk membina rasa hormat kepada pemimpin bangsa dan negara yang sudah dipilih melalui azas demokrasi. Jika semua warga mau menaati firman Tuhan di atas, kesatuan sebuah negara akan lebih mudah dipelihara untuk mencapai kebahagiaan bersama. Karena Tuhan tidak menghendaki kekacauan, dapat dimengerti bahwa berkat-Nya akan lebih bisa terasa di negara yang tertib.

Kebahagiaan, ketenteraman, kemakmuran dan kesatuan tidak dapat dicapai hanya dengan konsep dan pikiran, tetapi harus dengan penerapan dan perbuatan. Orang Kristen di negara mana pun dipanggil untuk menjadi contoh masyarakat dalam hal pengabdian kepada negara mereka masing-masing. Sekalipun mereka harus menghormati Allah di atas segala-galanya, mereka juga harus tunduk kepada pemerintah yang sudah ditetapkan Allah. Ini bukan hanya dalam menaati segala hukum dan peraturan, tetapi juga dalam hal menyumbangkan apa yang perlu demi kemajuan negara dan sesama warga.

“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 7

Hari ini, kita diingatkan bahwa jika menginginkan kemakmuran, ketertiban dan kedamaian dalam negara kita, sebagai orang Kristen kita terpanggil untuk menjadi teladan dengan menghormati pemerintah yang ada dengan menunaikan kewajiban kita, mencintai sesama warga dan menaati segala hukum dan peraturan negara. Terutama pada saat pandemi ini, kita harus taat kepada peraturan/anjuran pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah yang ada. Seperti Allah yang sudah membawa perdamaian antara diri-Nya dan umat manusia melalui Yesus Kristus, kita harus membawa damai sejahtera di mana pun kita berada karena kita sudah ditebus dengan darah Kristus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s