Paradoks kehidupan menurut iman Kristen

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Roma 11:33

Apa arti paradoks? Menurut kamus, paradoks adalah dua hal yang seolah-olah bertentangan, tetapi dalam kenyataannya dua-duanya benar. Ada beberapa paradoks dalam iman Kristen seperti “Yesus yang turun ke dunia adalah 100% Tuhan dan juga 100% manusia”, dan juga “Tuhan memegang kendali hidup manusia, tetapi manusia bertanggung jawab atas hidupnya”. Jika paradoks yang pertama adalah sulit di mengerti oleh orang yang belum menjadi Kristen, paradoks yang kedua bukanlah sesuatu yang mudah dipahami oleh umat percaya.

Istilah “Tuhan yang mengatur” atau “Tuhan yang menetapkan” adalah frasa yang sering digunakan orang Kristen sebagai slogan mudah diucapkan ketika terjadi hal yang tidak diingini. “Tuhan memegang kendali,” kita berkata ketika seseorang meninggal, ketika kita kehilangan pekerjaan, atau ketika kesehatan kita memburuk. Tapi apa yang dimaksudkan dengan istilah-istilah ini?

Apakah benar bahwa Tuhan menetapkan setiap keputusan, setiap peristiwa; setiap hal yang terjadi, agar semuanya terjadi menurut kehendak-Nya? Bukankah dengan demikian Tuhan sering kali membuat hal-hal yang buruk dan jahat di dunia ini? Apakah Tuhan yang mahasuci bisa mempunyai kehendak yang jahat? Jika seseorang memilih untuk minum terlalu banyak alkohol dan kemudian mengalami kecelakaan mobil sebagai akibatnya, apakah Tuhan yang menentukannya? Jika seseorang tidak bisa membayar tagihan hutang tepat waktu karena ia senang hidup dalam kemewahan, dan karena itu membuatnys terjerat hutang, apakah Tuhan yang membuat itu terjadi? Jika seseorang tidak mau memperbaiki perilaku pribadinya dan belajar mengatasi emosinya dan sebagai akibatnya pernikahannya berantakan, apakah Tuhan yang menetapkan itu?

Tidaklah mengherankan bahwa walaupun ajaran yang menyatakan bahwa “tidak ada yang terjadi tanpa campur tangan langsung dari tangan Tuhan” kelihatannya seperti teologi yang benar, yang menunjang kedaulatan Tuhan, banyak orang Kristen yang tidak percaya akan hal itu. Mereka berpegang erat pada konsep kebebasan dan tanggung jawab manusia seperti yang diucapkan Tuhan kepada Adam dan Hawa di taman Eden (Kejadian 2: 15-17). Kasih Tuhan dinyatakan kepada manusia yang diberi kemampuan untuk memilih tindakan yang baik, yang sesuai dengan kehendak Sang Pencipta (Kejadian 1:26-28). Dengan demikian, sampai sekarang pun kita bisa mengambil keputusan dan memilih bagaimana kita membelanjakan uang kita, bagaimana kita mengendarai mobil kita, siapa yang kita nikahi, dan jalur karir apa yang kita ikuti. Jadi di sinilah letak paradoks teologis yang pelik. Bagaimana kedaulatan Tuhan dan kehendak manusia bisa berjalan berdampingan?

Ini adalah masalah yang sudah lama diperdebatkan umat Kristen. Paulus, dalam pembahasannya tentang paradoks lain yang menyangkut keselamatan orang Yahudi dan bukan Yahudi, menyatakannya sebagai misteri dalam ayat pembukaan di atas. Sekalipun para teolog dalam sejarah telah mencoba untuk mendamaikan hal penetapan Tuhan dan pilihan manusia ini dengan berbagai ulasan, tetapi sampai sekarang masih banyak orang Kristen yang berpendapat bahwa “segala sesuatu sudah ditentukan Tuhan dan manusia hanya bisa menerimanya” untuk menghindari paradoks yang berupa misteri itu.

Mengenai paradoks ini, sebenarnya ada tiga hal yang dapat kita yakini:

  1. Tuhan tidak pernah memaksakan kehendak-Nya: Tuhan tidak mengendalikan kita seperti sebuah robot. Dia yang sudah memberi manusia kebebasan untuk memilih, tidak pernah mengambilnya kembali setelah kejatuhan. Dia masih terus menawarkan kita berkat dan kutuk, opsi antara benar dan salah, dan pilihan antara hidup dan mati. Dia memberi kita kemampuan untuk memilih melalui Roh-Nya, tetapi tidak menjewer telinga kita untuk memaksa kita untuk memilih apa yang sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, sebagai anak Tuhan, kita harus berusaha mencari kehendak-Nya (Efesus 5: 17),
  2. Tidak semua yang terjadi di dunia adalah kehendak Tuhan: Banyak dari apa yang kita lihat di bumi ini bukanlah kehendak Tuhan. Memang, jika manusia yang sudah jatuh dalam dosa menggunakan akal budinya saja, mereka akan cenderung memilih sesuatu yang tidak baik. Kitab Suci memberi tahu kita dengan jelas bahwa ada “penguasa kerajaan udara” (Efesus 2: 2), musuh jahat yang bermaksud menggagalkan kehendak Tuhan dan yang cukup kuat untuk memengaruhi hidup kita. Lebih lanjut, jika segala sesuatu yang pernah terjadi di bumi adalah kehendak Tuhan, tentunya tidak akan ada alasan bagi kita untuk berdoa; “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (Matius 6:10).
  3. Sekalipun keadaan dunia ini kacau,Tuhan tetap memegang kontrol: Tuhan yang memegang kendali(in control) tidak berarti sama dengan Tuham yang mengontrol (controlling). Jika Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa memang mengontrol cara hidup manusia, dari mulanya tidak akan ada orang yang berdosa. Kasih Tuhan menciptakan kemungkinan kebebasan dan dalam kebebasan berarti ada pilihan yang nyata. Dengan demikian, bukan Tuhan yang membuat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Tuhan bukan pencipta kejahatan. Oleh sebab itu, jika kita tidak berhati-hati, penggunaan frasa “Tuhan yang mengendalikan” bisa membuat kita kehilangan semangat untuk memperbaiki keadaan. Itu karena kita menganggap Tuhan bertanggung jawab atas hal-hal buruk yang kita alami, sementara melalaikan tanggung jawab kita dalam menghadapi persoalan hidup.

Siang ini, mungkin ada baiknya kita meninjau kembali pernyataan bahwa “Tuhan menetapkan apa saja yang terjadi”. Kita harus ingat bahwa memang Tuhan sudah menetapkan siapa yang dipanggil-Nya dan segala hukum alam semesta, tetapi kita bertanggung jawab sepenuhnya atas cara hidup kita. Mungkin kita harus mengartikan frase “Tuhan yang memegang kendali” sebagai “Tuhan yang berdaulat” yang tidak dapat kita bayangkan kebesaran-Nya. Kedaulatan-Nya yang menakjubkan, ajaib dan misterius berarti bahwa ketika kita harus menghadapi pilihan yang memiliki konsekuensi besar, Dia yang mahatahu dapat mengatasi kelemahan kita dan menggunakan hidup kita untuk kemuliaan-Nya. Bahwa sekalipun ada yang terjadi pada hidup kita berada di luar kehendak Allah yang sempurna, Ia tetap mau dan mampu membuat segala sesuatu bekerja untuk mencapai rencana-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”Roma 8: 28

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s