Tahun baru, kesegaran baru

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku.Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” Mazmur 23: 1-3

This image has an empty alt attribute; its file name is img_9710.jpg

Esok hari adalah hari raya Imlek. Masyarakat Tionghoa umumnya mempunyai kebiasaan untuk pulang kampung di saat ini guna menjenguk orang tua dan sanak saudara yang sudah lama tidak dijumpai. Di beberapa negara, arus mudik ini begitu besar sehingga banyak jalan yang macet dan kendaraan umum pun berjubel dengan penumpang.

Bagi kebanyakan orang, tahun baru umumnya membawa harapan baru. Harapan untuk bisa melupakan kegagalan, masalah dan hal-hal yang kurang menyenangkan dari tahun yang telah lalu, dan untuk memperbaiki apa yang kurang baik, agar bisa lebih baik pada tahun yang baru.

Pertemuan antara kerabat yang sudah lama berpisah memang bisa membuat semua pihak berbahagia. Biasanya, masalah kesehatan dan keluarga adalah salah satu topik pembicaraan yang cukup menarik. Dalam suasana seperti itu, orang saling mengucapkan harapan agar orang lain makin sukses dan makin kaya di tahun mendatang. Tetapi pertemuan semacam itu juga memberi kesempatan untuk tiap orang membandingkan kesuksesan diri sendiri dengan kesuksesan orang lain.

Dengan memasuki tahun baru, umumnya orang berharap bahwa keberuntungan yang lebih besar akan bisa didapat. Tidak ada bedanya dengan tahun baru Masehi, memasuki tahun baru Imlek ini orang saling mengucapkan harapan untuk kesehatan, kesuksesan, rezeki dan lain-lain. Orang Kristen pun sering terperangkap dalam situasi yang serupa, sekalipun mereka sebenarnya tahu bahwa lebih penting untuk memikirkan soal surgawi daripada hal-hal duniawi yang sering membawa masalah.

Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6: 9

Sebenarnya, Yesus sudah mengajarkan bahwa sebagai orang percaya kita harus memohon agar Roh Kudus makin bekerja dalam hidup kita, sehingga hidup kita bisa makin dekat kepada Tuhan dan bisa berbahagia dengan adanya rasa cukup. Dengan kedekatan manusia kepada Tuhan, keinginan untuk mengejar keuntungan, harta dan kenyamanan dengan menghalalkan segala cara bisa dipadamkan karena adanya rasa takut kepada Tuhan. Mereka akan sadar bahwa Tuhan menyenangi orang yang punya rasa takut kepada-Nya. Mereka tahu bahwa Tuhan tidak mau umat-Nya menyembah ilah lain.

TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. Mazmur 147: 11

Dalam Alkitab ada banyak contoh di mana orang-orang yang takut akan Tuhan, menjalani hidup mereka sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Orang-orang seperti Abraham, Jusuf, Musa dan Daud yang dalam segala kelemahan mereka, selalu kembali kepada keinsafan bahwa Tuhan yang Mahakasih adalah seperti seorang gembala yang ingin membawa semua domba-Nya ke padang rumput yang hijau. Orang-orang sedemikian diberkati Tuhan dalam hidup mereka, karena mereka mau menuruti panggilan Tuhan.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6: 33

Ayat pembukaan di atas menggambarkan bagaimana Tuhan gembala kita membawa kita, domba-domba-Nya, ke padang yang berumput hijau. Tetapi dalam kenyataannya, ada domba-domba yang berhenti pada suatu tempat dan tidak mau mengikuti Dia karena adanya sejengkal rumput hijau di depan mata. Mungkin juga ada domba-domba lain yang ingin menemukan padang rumput dengan usaha sendiri. Domba- domba yang sedemikian mungkin sudah kehilangan rasa percaya kepada si Gembala.

Hari ini, dalam memikirkan apakah harapan apa yang terbaik untuk orang-orang yang kita kasihi dan untuk kita sendiri pada tahun baru ini, biarlah kita tidak ragu untuk berharap agar semua orang bisa mempunyai rasa takut akan Tuhan kita yang mahakuasa, mahatahu, mahakasih dan mahabijaksana. Dengan itu, tahun yang baru bisa diisi dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menyertai kita dalam segala keadaan, untuk memberikan rasa aman, rasa cukup dan rasa damai yang tidak ada habisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s