Menghilangkan rasa sebal

“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” Filipi 2: 14-15

Selang 40 tahun yang lalu, ketika saya mendarat di benua Australia, pengetahuan saya tentang budaya setempat adalah minim sekali. Dari buku pembimbing turis yang tersimpan dalam koper saya, saya mendapat info bahwa orang sering saling menyapa dengan ucapan “G’day” yang khas Australia. Karena itu, saya pun ikut-ikutan giat menyapa teman seuniversitas, dan bahkan dosen saya, dengan ucapan good day yang sudah disingkat itu. Dan biasanya sapaan saya itu disambut dengan ucapan serupa atau senyum kecil.

Selang beberapa bulan, saya menyadari bahwa berbeda dari kebiasaan di Indonesia, sapaan di Australia umumnya hanya basa-basi saja, dan bahkan sapaan “how are you” atau “apa kabar” dari seseorang kenalan yang kita temui di jalan, tidaklah perlu dijawab dengan serius. Cukup kalau kita menjawab “good, thank you“, sambil terus berjalan sekalipun kita mengalami hari yang kurang baik atau “bad day“. Tentu saja kadang-kadang saya merasa sebal mendengar sapaan yang hanya basa-basi seperti itu. Apalagi kalau saya butuh teman sharing, tetapi hanya menemui orang yang menyapa sambil berlenggang-kangkung. Itulah cermin budaya individualis di negara barat.

Memang sepertinya dalam hidup ini selalu ada “hari buruk”, bad day, di mana kita tidak saja menemui banyak masalah, tetapi juga menjumpai hal-hal atau orang-orang yang membuat kita sebal. Sebagai akibatnya, kita mudah menjadi murung dan kurang senang. Baik di sekolah, kantor maupun di rumah, selalu ada situasi yang menguji kesabaran kita. Rasa tidak senang dan perbantahan memang bisa muncul karena adanya perbedaan pendapat atau kebiasaan.

Salahkah kita jika perasaan kurang senang muncul dalam pikiran kita? Sebagai manusia ciptaan Allah semua orang memiliki sifat-sifat yang dimiliki Sang Pencipta, dan karena itu tidaklah mengherankan jika kita sering mempunyai rasa kurang senang atas hal-hal yang dirasakan kurang baik. Walaupun demikian, karena keterbatasan dan dosa, amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1: 20). Tambahan pula, sebagai manusia yang terbatas, apa yang kita anggap baik belum tentu benar-benar baik atau baik untuk orang lain. Sebagai manusia berdosa, kita justru cenderung melakukan apa yang kurang baik.

Orang Kristen yang menyadari bahwa orang lain selalu mempunyai kekurangan dan kelemahan, tentu bisa menerima kenyataan bahwa mereka sendiri juga tidak sempurna. Tetapi, apakah yang bisa kita lakukan sebagai orang yang tidak sempurna untuk bisa membuat orang lain melihat bahwa kita adalah orang yang berbeda dengan yang lain? Dengan kekuatan sendiri kita tidak mungkin bisa menunjukkan orang di sekitar kita bahwa kita mempunyai gaya hidup yang berbeda. Sekalipun untuk sesekali kita mungkin bisa menunjukkan sikap yang baik dalam keadaan yang kurang menyenangkan, dengan kekuatan sendiri hal itu adalah sesuatu yang tidak dapat kita pertahankan untuk selamanya.

Sesuai dengan ayat pembukaan di atas, kita harus sadar bahwa setiap hari kita akan menghadapi berbagai suasana, situasi dan perbuatan orang-orang yang kurang menyenangkan, dan mungkin rasa pahit atau sebal sudah muncul dalam mulut kita. Ayat di atas memberi gambaran bahwa memang sulit untuk kita bisa mengubah keadaan disekeliling kita. Tetapi sebagai anak-anak Tuhan kita mempunyai kelebihan, bahwa kita sadar bahwa kita sudah diselamatkan semata-mata karena kasih Tuhan. Dengan itu, kita seharusnya mempunyai motivasi yang besar untuk menunjukkan perubahan yang sudah terjadi dalam hidup kita kepada orang-orang di sekitar kita. Kita yang sudah mengalami hidup baru dalam Kristus adalah ciptaan yang baru yang sudah dibebaskan dari belenggu dosa; dan karena itu, sifat dan sikap yang tidak memuliakan Tuhan sekarang bisa dihilangkan seirama dengan kedewasaan iman kita.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s