Apakah aku masih bisa memilih?

“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap” 2 Korintus 6:14

Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, seringkali justru kejutan yang datang. Jika apa yang datang bukan sesuatu yang jahat, manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Titik.

Jika Tuhan tidak memberi kita kesempatan dan kemampuan untuk memilih, bagaimana pula dengan hidup pernikahan kita? Ada yang bilang bahwa pernikahan adalah seperti lotere; jika kita mujur, kita akan mendapatkan seorang pasangan yang baik. Tetapi ada pula orang yang menyalahkan Tuhan jika ia mendapatkan jodoh yang dianggap kurang tepat. Selain itu ada orang yang menyesali hidup pernikahannya karena ia merasa salah pilih. Inilah masalah yang pelik, yang tidak mudah dijawab. Pada persoalan ini bergantung satu pertanyaan: apakah aku masih bisa memilih?

Pernikahan merupakan ide Tuhan untuk mempersatukan seorang pria dan wanita. Melalui pernikahan Allah memberi kesempatan kepada pria dan wanita untuk hidup bersama. Kehidupan bersama pria dan wanita ini harus didasarkan atas kasih karunia. Pernikahan sebagai sebuah lembaga, ditetapkan oleh Allah sendiri (Kejadian 2:24), dan melukiskan persekutuan antara Kristus dan gerejaNya (Efesus 5:31-32). Dalam pernikahan suami dan istri mengikat diri dalam suatu tujuan yang kudus, untuk membangun rumah tangga bahagia dan harmonis. Sebagaimana Yesus Kristus mengasihi satu gereja dan gereja itu mengasihi satu Tuhan, demikian seorang pria dipanggil mengasihi satu wanita dan wanita mengasihi satu pria.

Pernikahan dengan demikian adalah hal mulia, yang dikaruniakan Tuhan, sejak manusia belum jatuh ke dalam dosa. Pernikahan adalah hal yang sangat penting. Kejadian 1:28 mencatat bagaimana Tuhan memberkati Adam dan Hawa sebelum mereka diperintahkan untuk beranak cucu. Karena itu, pernikahan harus ditempuh dengan rukun, sehati, setujuan, penuh kasih sayang, percaya seorang akan yang lain, dan bersandar kepada kasih karunia Tuhan. Pernikahan tidak boleh ditempuh atau dimasuki dengan sembarangan, dirusak oleh karena kurang bijaksana, dinista atau dinajiskan; melainkan hendaklah hal itu dihormati dan dijunjung tinggi dengan takut akan Tuhan serta mengingat maksud Allah dalam pernikahan itu.

Memilih jodoh atau pasangan hidup dengan demikian bukanlah hal remeh dan mudah. Ada banyak kasus orang yang sudah menikah dan berpikir bahwa pasangannya adalah pasangan hidupnya yang tepat, tetapi pada akhirnya bercerai dengan alasan tidak cocok. Mengapa tidak cocok, bahkan bercerai? Karena mereka tidak sungguh-sungguh saling mencintai? Ataukah Tuhan jugalah yang menentukan mereka bercerai? Pernikahan dengan demikian bisa dianggap sebagai patokan apakah manusia masih mempunyai kemampuan untuk memilih apa yang perlu dilakukan dalam hidupnya.

Berbicara tentang hal memilih apa saja, secara umum ada dua pandangan yang berbeda, yaitu pandangan bahwa apa yang terjadi dalam hidup manusia adalah takdir dan pandangan bahwa apa yang terjadi adalah karena pilihan manusia. Pandangan takdir atau disebut juga determinisme, mengakui bahwa apa yang sudah dipilih seseorang itu telah ditentukan oleh Tuhan, sehingga ia tidak perlu berusaha atau melakukan upaya apapun untuk mendapatkannya. Pandangan seperti ini pada akhirnya menggiring seseorang pada determinisme fatalistik yaitu pandangan yang beranggapan bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, dan manusia hanya bisa menerima apa yang sudah ditentukan tanpa bisa berbuat apa-apa.

Menurut pandangan ini, manusia hanyalah “wayang” yang melakoni apa saja yang dikehendaki oleh “sang dalang”. Orang-orang yang begitu saja menerima segala sesuatu yang terjadi sebagai nasib (takdir) yang ditentukan, bersikap pasrah pada nasib dan tak ingin merubahnya, disebut fatalistik. Dalam teologi Kristen, kaum Calvinis ekstrim yang dikenal sebagai golongan Hiper-Calvinis berpegang pada pandangan semacam ini sekalipun mereka segan untuk mengakuinya. Ini karena golongan ini tertalu meninggikan kedaulatan Tuhan dan terlalu merendahkan ciptaan Tuhan, yaitu manusia.

Sebenarnya dalam Alkitab ada banyak contoh yang menyatakan bahwa kehendak Allah yang berdaulat tidaklah menghancurkan kebebasan (freedom) ataupun kehendak bebas (freewill) manusia. Manusia tetap bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Mengapa? Kerena, manusia adalah mahluk ciptaan yang berpribadi, yang diciptakan menurut rupa dan gambar Allah (Kejadian 1:26). Dengan kata lain, manusia memiliki “citra” Allah. Walaupun demikian, sebagai mahluk ciptaan manusia bergantung pada Tuhan, Sang pencipta-Nya, bagi kelangsungan hidupnya;. Manusia tidak bisa berdiri sendiri; hidupnya bergantung sepenuhnya pada Allah sang pencipta. Di dalam Allah manusia bisa hidup, bergerak, dan bernafas (Kejadian 1:26; 2:7; Kisah Para Rasul 17:28).

Sebagai mahluk berpribadi, manusia memiliki kemandirian yang relatif (tidak mutlak), dalam pengertian bahwa ia memiliki kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan dan membuat pilihan-pilihannya sendiri. Tetapi, akibat dari dosa pertama Adam dan Hawa tersebut “citra” Allah dalam diri manusia telah tercoreng dan mengakibatkan dosa masuk dan menjalar kepada setiap manusia (Roma 3:10-12, 23; 5:12). Secara rohani manusia telah rusak total dan tidak dapat mengambil keputusan tanpa terjebak dalam dosa. Apa pun yang dilakukan manusia akan dinodai dosa, jika tidak mau dibimbing Tuhan.

Adam dan Hawa telah membuat dosa menjadi nyata pada saat pertama kalinya di Taman Eden, sejak saat itu natur dosa telah diwariskan kepada semua manusia (Roma 5:12; 1 Korintus 15:22). Akibat dosa itu, manusia di luar Kristus terus menggunakan kehendak bebas itu sedemikian rupa sehingga membuat apa yang jahat menjadi nyata (Markus 7:20-23). Walaupun demikian, Allah tetap menghargai “kehendak bebas” yang diberikan-Nya kepada semua manusia termasuk dalam hal memilih dan menentukan apa yang dibutuhkan mereka.

Sebagian orang Kristen percaya bahwa karena Tuhan mahakuasa dan tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendak-Nya, Tuhan jugalah yang dengan kedaulatanNya (sovereign will) membuat manusia bisa melakukan apa yang jahat dan salah. Sebaliknya, ada orang lain yang percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tidak mungkin menghendaki adanya kejahatan. Kejahatan dilakukan manusia yang berdosa, tetapi dengan seizin Tuhan.

Dengan seizin Tuhan? Apakah Tuhan yang mahakasih mengizinkan adanya hal yang jahat? Jika Ia mengijznkan (permissive will) perceraian misalnya, bukankah itu berarti Ia ikut bertanggung jawab atas apa yang diperbuat manusia? Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengizinkan, bagaimana orang dapat melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya? Inilah masalah manusia yang ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran Tuhan yang mahakuasa.

Ayat diatas diucapkan Paulus kepada jemaat di Korintus. Jemaat di Korintus adalah jemaat yang mengalami berbagai persoalan terutama dalam hal kesusilaan dalam hidup pernikahan. Dalam pesannya, Paulus menasihati mereka agar tidak memilih pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Mereka diingatkan bahwa antara kebenaran dan kedurhakaan ada perbedaan besar, dan apa yang terang tidak dapat bersatu dengan apa yang gelap. Jelas bahwa Paulus menyuruh karena mereka memang bisa memilih apa yang baik. Jika semua itu sudah ditentukan Tuhan, tentunya mereka hanya bisa berserah dan Paulus tidak perlu meminta agar mereka berhati-hati dalam memilih jodoh.

Sebagian manusia akan tetap berusaha mempersalahkan Tuhan jika mereka memperoleh apa yang tidak nyaman. Mengapa Tuhan memberi kita kemampuan untuk memilih tetapi membiarkan kita melakukan kesalahan? Kita tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi kita harus sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana berhak untuk memutuskan apakah Ia akan bertindak atau tidak. Apa yang mungkin terjadi adalah bahwa Tuhan terkadang mempunyai kehendak aktif untuk melakukan sesuatu (active will) pada suatu saat, tetapi pada saat yang lain Ia mempunyai kehendak untuk tidak bertindak (passive will), agar semua rencana-Nya bisa terjadi. Kehendak pasif ini sering diartikan sebagai “izin” dari Tuhan untuk terjadinya sesuatu yang kurang baik. Kedua kehendak itu bisa dilakukan-Nya pada saat yang dikehendaki-Nya, tanpa dipengaruhi oleh apa pun dan siapa pun karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa.

Hari ini, jika hidup kita mengalami masalah yang besar dan kita merasa sangat menderita, janganlah kita menuduh bahwa Tuhanlah pencipta malapetaka di dunia. Dunia ini sudah jatuh kedalam dosa, dan karena itu segala penderitaan dan bahaya bisa terjadi pada siapapun. Tuhan kita yang mahakasih bukanlah Tuhan yang menciptakan malapetaka ataupun perbuatan jahat untuk umat-Nya. Malapetaka dan kejahatan adalah konsekuensi kejatuhan manusia dan mungkin juga hasil pekerjaan iblis. Memang terkadang Tuhan seakan tidak mau bertindak menolong umat-Nya, tetapi kita harus yakin bahwa itu bukan berarti Tuhan tidak peduli akan penderitaan kita. Sekalipun sulit kita mengerti, Tuhan akan bekerja pada saat yang tepat sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, dalam menghadapi tantangan hidup dan dalam memilih tindakan apa yang harus kita lakukan, biarlah kita tetap berkomunikasi dengan Tuhan,dengan keyakinan bahwa Ia tetap menyertai kita sebagaiTuhan yang mahakuasa dan mahakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s