Dosa tidak hanya membawa duka

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Roma 6: 1-2

Apakah anda orang yang senang membaca pengalaman hidup selebriti yang menghebohkan di media? Jika begitu, anda mungkin ingin tahu pengalaman hidup dan dosa apa yang pernah saya perbuat dan apa akibat dosa yang saya alami. Saya bukan seorang selebriti, tetapi saya tidak kalah hebatnya jika dibandingkan mereka. Saya mengaku pernah melakukan berbagai perbuatan yang salah, dan jika anda mengenal tujuh dosa yang mematikan atau seven deadly sins yang terdiri dari pride (kesombongan), greed (ketamakan), envy (iri hati), wrath (kemarahan), lust (hawa nafsu), gluttony (kerakusan), dan sloth (kemalasan), saya mengaku pernah melakukan semuanya.

Bagaimana pengalaman saya dengan kejatuhan dalam dosa yang disebut utama dan yang mematikan itu? Saya masih hidup sekarang, tapi itu bukan berarti hidup saya terisi sukacita setelah melakukan dosa-dosa itu. Dosa bagi umat Kristen selalu membawa rasa duka atau pengalaman yang tidak menyenangkan. Dosa bagi siapa pun akhirnya sering membawa persoalan yang membuat mereka mengalami masalah-masalah besar selama hidup di dunia. Sekarang saya memang merasa menyesal atas dosa-dosa yang lalu, tetapi pada saat saya melakukan dosa-dosa itu, saya tidak terlalu memikirkannya. Saya bahkan lupa bahwa Tuhan melihat apa yang saya lakukan. Saya tidak sadar bahwa Tuhan juga berduka atas dosa saya, seperti Ia berduka melihat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Adam dan Hawa yang kemudian hidup sengsara di dunia dan harus mengalami kematian jasmani. Dosa-dosa manusia memang selain mematikan kebahagiaan dan ketenteraman hidup di dunia, juga mematikan hubungan mereka dengan Tuhan.

Jarang orang mau mengaku jika berbuat salah, bahwa itu karena pilihan sendiri. Sebaliknya, banyak orang yang merasa “terpaksa” untuk berbuat dosa karena adanya kesulitan hidup. Lebih parah lagi, ada orang yang seolah menyalahkan Tuhan jika mereka jatuh ke dalam kesulitan. Tuhan yang berkuasa seharusnya bisa menghindarkan mereka dari kesulitan hidup, begitu pikir mereka. Jika Tuhan membiarkan adanya kesulitan hidup, godaan dan hal-hal yang jahat, tentunya manusia tidak dapat sepenuhnya dituntut untuk bertanggung-jawab, demikianlah pendapat sebagian orang. Pada pihak yang lain, ada juga yang percaya bahwa apa yang jahat pun dibuat oleh Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya, tetapi manusialah yang harus tetap bertanggung-jawab untuk kejahatan mereka.

Bagaimana anda akan mendorong orang Kristen untuk melawan dosa yang mematikan sambil mengetahui bahwa dalam semua hal Tuhan pada akhirnya akan bisa membawa hidup damai karena Ia bekerja untuk kebaikan mereka? Itu benar-benar pertanyaan yang sulit dijawab. Sangat sering, iblis dan dosa kita sendiri dapat mendorong kita untuk menggunakan sifat Allah untuk membenarkan keterlibatan kita dalam dosa. Begitu banyak orang Kristen yang begitu yakin akan slogan seperti “Tuhan berdaulat” atau “Tuhan mencintaiku” atau “Tuhan membenci dosa,” dan mereka terkadang mengambil kesimpulan yang kurang benar. Dan pada titik inilah kita perlu memiliki komitmen yang kuat terhadap otoritas Alkitab dan otoritas Tuhan yang memberi tahu kita bagaimana hidup dengan kebenaran yang telah Dia ungkapkan kepada kita.

Mereka yang selalu menekankan kedaulatan Tuhan memang terlihat rasional. Sepertinya mereka harus dipercaya: “Yah, jika Tuhan berdaulat, maka Dia bertanggung jawab atas kejahatan”. Menurut mereka Tuhan selalu mempunyai rencana tertentu untuk membiarkan kita jatuh dalam dosa. Oleh karena itu kita tidak perlu terlalu memikirkan hal tanggung jawab, karena kita yakin bahwa adanya dosa bisa membuat kasih karunia Tuhan terasa makin berlimpah dan kita tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Mereka yang sudah terpilih untuk ke surga, tidak perlu menguatirkan akibat dosa. Semua pernyataan ini tidak alkitabiah!

Jika kita ingin berpegang pada kebenaran besar seperti kedaulatan Tuhan, kita harus mengaitkannya dengan cara yang Tuhan tetapkan bagi kita untuk melekat padanya. Kita harus berpegang teguh pada mereka secara alkitabiah. Artinya, kita harus melihatnya dalam kaitannya dengan semua kebenaran alkitabiah lainnya. Di antara kebenaran alkitabiah itu adalah Paulus yang merenungkan pemikiran dalam Roma 6: 1, “Haruskah kita berbuat dosa agar kasih karunia berlimpah?” Dia memang mengatakan dalam Roma 5: 20 bahwa “di mana dosa berlimpah, kasih karunia lebih berlimpah”. Dan inilah seseorang yang mengartikan ayat itu dengan logika dangkal berpikir: “Baiklah! Saya akan membuat kasih karunia Tuhan berlimpah di mana-mana! Saya hanya akan mengklik pornografi sebanyak yang saya bisa, dan melakukan percabulan sebanyak yang saya bisa, dan mencuri sebanyak yang saya bisa, dan serakah semampu saya”

Kita tidak bisa hanya mengatakan bahwa karena Allah berdaulat, semua dosa kita adalah kehendak-Nya. Oleh karena itu kita bisa berbuat dosa. Ini salah. Jadi, kita perlu mencari tahu apa artinya mati karena dosa. Jika kita hidup menurut daging, kita akan “mati” selama hidup di dunia. Jika kita, oleh Roh Kudus, mematikan perbuatan-perbuatan tubuh dan bertobat, kita akan hidup dalam kasih-Nya yang makin besar. Itu adalah kebenaran sebesar kebenaran kedaulatan Tuhan.

Dosa tidak hanya akan membawa duka, itu bisa menghancurkan hidup seseorang jika tidak dilawan. Begitu juga rasa duka bisa menghancurkan hidup sesorang jika ia tidak mengerti bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih. Adanya rasa duka setelah berbuat dosa sebenarnya menunjukkan bahwa Roh Kudus masih giat bekerja dalam hati kita. Dengan demikian, rasa duka harus ditanggapi secara positif, yaitu bahwa Tuhan masih mengasihi kita dan mau mengingatkan bahwa kita harus bertobat. Kita harus ingat bahwa jika kita mengakui dosa kita, Tuhan itu mau mengampuni kita dan memberkati hidup kita.

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 8-10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s