Pentingkan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 13 – 15

Orang yang percaya adanya Tuhan yang mahakuasa tentunya sadar bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi dengan seizin-Nya. Lebih dari itu, untuk mencapai apa yang diingininya, manusia membutuhkan pertolongan Tuhan untuk membuka jalan. Dalam kenyataannya, manusia lebih mudah untuk mengatakan kata “jika Tuhan menghendaki” daripada untuk melakukan apa yang semestinya dilakukan. Manusia sering kali merencanakan segala sesuatu untuk masa depan dengan tanpa memikirkan kehendak Tuhan. Memang kita tidak tahu apa yang akan dilakukan-Nya dengan segala apa yang sudah kita perbuat, tetapi harus kita akui bahwa kita mungkin sering melakukan sesuatu dan ingin agar Tuhan kemudian memberi persetujuan-Nya. Pada pihak yang lain, kita mungkin sudah mengetahui banyak kehendak Tuhan dalam hidup kita, tetapi kita tidak mau melakukannya.

Untuk pengertian kita, sebenarnya kehedak Tuhan itu bisa juga dibagi menjadi tiga macam:

(a) Kehendak mulak: yaitu dekrit yang berdaulat, kehendak yang dengannya Allah mewujudkan apa pun yang Dia tetapkan. Ini tersembunyi bagi kita sampai itu terjadi.

(b) Kehendak preseptif: adalah hukum atau perintah Allah yang diwahyukan, untuk mana kita bisa mengabaikan, tetapi tidak membatalkan.

(c) Kehendak watak: kehendak yang menggambarkan sikap atau watak Tuhan. Ini mengungkapkan apa yang berkenan kepada-Nya. Ini pun sesuatu yang bisa diaabaikan orang.

Dengan demikian, apa yang kita lakukan sehubungan dengan kehendak Tuhan (b) dan (c) adalah tanggung jawab dalam kebebasan kita untuk menaati dan menghormati Tuhan. Jika kita tidak mau tunduk kepada (b) dan (c), kita telah berbuat dosa. Banyak contoh di Alkitab yang menunjukkan manusia yang mengalami berbagai masalah karena tidak mau melaksanakan apa yang dituntut oleh kehendak Tuhan dalam bentuk (b) dan (c). Ini jelas terlihat dalam perbuatan Adam dan Hawa di taman Firdaus, ketika mereka melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buan terlarang (Kejadian 3: 3).

Adalah kelemahan manusia bahwa sampai sekarang manusia ingin mengetahui apa kehendak mutlak Tuhan, yang tidak bisa mereka ketahui sampai saat Tuhan menyatakan hal itu. Manusia terobsesi dengan apa yang akan terjadi sehingga sebagian ingin melaksanakan rencananya secepat-cepatnya agar dapat memperoleh hasilnya. Sebaliknya, ada orang-orang yang tidak mau atau tidak bisa melaksanakan rencana mereka sebelum ada “kepastian” bahwa itu adalah apa yang dikehendaki Tuhan. Sebaliknya ada orang-orang yang merasa tahu apa kehendak mutlak Tuhan sehingga mereka yakin untuk berhasil. Semua itu adalah pandangan yang kurang benar karena tidak ada seorang pun yang tahu apa yang secara mutlak dikehendaki-Nya, sampai itu terjadi.

Ayat di atas menyatakan bahwa jika manusia merencanakan, Tuhanlah yang menentukan hasilnya. Manusia boleh dan bisa merencanakan, tetapi harus sadar bahwa rencananya akan berhasil jika itu sesuai dengan seluruh kehendak Tuhan. Sebaliknya, jika manusia tidak mau membuat rencana, apa yang kemudian terjadi mungkin tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Memang, Tuhan selalu mempunyai cara untuk mengenapi rencana-Nya, dan setelah itu terjadi, kita mungkin tidak setuju dengan kehendak-Nya atau tidak menyukai hasil rancangan-Nya. Tetapi, kita tidak dapat melawan kehendak mutlak Tuhan. Karena itulah, jika kita percaya kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu, kita akan selalu mencari kehendak preseptif dan kehendak watak dari Tuhan yang sudah dinyatakan kepada semua umat-Nya. Kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat kita melangkah, tetapi jika kita melangkah sesuai dengan firman dan sifat keilahian-Nya, Tuhan akan memakai kita dan membimbing kita untuk mencapai apa yang direncanakan-Nya.

Kesombongan manusia membuat ia merencanakan segala sesuatu tanpa mau belajar dari kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan, dan sebaliknya mengharapkan bahwa kehendak mutlak Tuhan akan sesuai dengan kehendak kita. Ayat di atas memperingatkan mereka yang yakin dan bahkan sombong akan hari depan yang cerah, bahwa hidup mereka bukan di tangan mereka sendiri. Apa yang akan terjadi belum tentu sesuai dengan apa yang mereka pikirkan karena Tuhanlah yang memegang kunci kehidupan. Mereka seharusnya menyadari bahwa hanya dengan mencari dan melakukan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan, mereka akan bisa melaksanakan apa yang mereka rencanakan dengan benar.

Sebagai umat Kristen, kita tidak dapat mengharapkan bahwa hidup di dunia bisa menjadi mudah dan selalu lancar. Kita tidak juga bisa berharap bahwa tanpa menaati kehendak Tuhan yang ada dalam Alkitab, Tuhan akan mendatangkan mukjizat yang kita ingini. Selama hidup ini kita justru perlu untuk membuat berbagai rencana dan keputusan. Ini harus dilakukan dengan penyerahan kita secara total kepada kehendak mutlak-Nya. Ini seringkali tidak mudah untuk dilakukan. Tetapi kita bisa mengharapkan datangnya pertolongan Tuhan agar kita bisa melangkah dengan iman dan sanggup menghadapi berbagai jurang dan bukit untuk menuju ke arah yang Tuhan sudah tetapkan bagi kita.

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s