Bertekun dalam hukum yang membebaskan

“Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” Yakobus 1: 23 -25

Dalam merayakan hari proklamasi 17 Agustus kita tentunya merasa bersyukur bahwa rakyat Indonesia dapat mencapai kemerdekaan pada tahun 1945. Perjuangan untuk mencapai kemerdekaan itu tidaklah mudah dan bahkan sudah memakan banyak korban. Sekarang, ketika kita hidup di negara yang merdeka, tentunya kita berharap untuk mempunyai kemerdekaan untuk mencapai cita-cita kita. Walaupun demikian, kita harus menggunakan kemerdekaan itu dengan benar. Ada banyak orang yang memakai kemerdekaan atau kebebasan yang ada untuk maksud yang keliru, dan akhirnya justru terbelenggu dalam hidup atau kebiasaan yang buruk.

Dalam ayat 25, Yakobus menggunakan istilah “hukum yang memerdekakan orang.” Dalam bahasa Inggiris, ayat ini dikenal sebagai “the perfect law of liberty“. Istilah ini tidak mudah untuk dimengerti, tetapi ada analogi yang disampaikan oleh penafsir kitab Perjanjian Baru yang bernama Nicholas Thomas Wright yang mungkin bisa menjelaskan. Dia menggunakan contoh hal aturan mengemudi. Di beberapa negara, orang bermobil di sisi kanan jalan. Di tempat lain, orang mengemudi di sisi kiri. Jika saya mengunjungi Amerika tetapi ingin mengemudi di sisi kiri jalan seperti di Australia, saya tidak akan bisa pergi terlalu jauh karena polisi akan menagkap saya. Saya memang dapat memutuskan untuk menolak untuk mengemudi di sisi kanan, yaitu jalan yang benar tapi terasa tidak nyaman bagi saya. Mungkin saya tidak pernah ingin menaati hukum itu – dan pada akhirnya saya harus menanggung akibatnya.

Apa arti analogi di atas? Rancangan Tuhan untuk bagaimana kita harus menjalani hidup kita adalah baik. Dan sama seperti ketika kita mengemudi di sisi jalan yang benar, kita dapat menikmati kebebasan mengemudi seperti yang dimaksudkan, demikian juga dengan mematuhi kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan kepada kita, memungkinkan kita untuk memiliki kebebasan untuk menjalani hidup sesuai dengan rancangan-Nya. Ini tidak berarti kita tidak akan pernah mengalami kecelakaan bahkan jika kita mengemudi di sisi jalan yang benar, dan itu tidak berarti tidak ada hal buruk yang akan terjadi dalam hidup ini. Satu yang pasti, Tuhan tidak pernah merencanakan hal yang buruk untuk umat-Nya.

Kita tidak tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan selain dari apa yang sudah dinyatakan melalui Alkitab dan apa yang kita ketahui mengenai sifat Ilahi-Nya. Tapi di situlah iman kita berguna untuk menjalani hidup di dunia sekalipun kita tidak tahu apa yang akan dilakukan-Nya. Dari situlah kita harus belajar dari Yakobus 1. Dalam pasal ini, sesuai dengan cara Tuhan memanggil kita untuk hidup, bahkan ketika kita tidak dapat memahaminya, akan menghasilkan apa yang baik jika kita berjalan di jalan yang benar. Ketika kita menjalani cara Tuhan, Yakobus 1:25 menyatakan bahwa berkat-Nya akan datang – mungkin tidak segera, dan mungkin tidak dalam kehidupan kita saat ini. Tapi itu pasti akan datang.

Sebagai umat Tuhan kita melihat ke dalam cermin hukum kebebasan yang ditetapkan Tuhan (Yakobus 1: 23). Kita bisa saja melihat diri kita tanpa mempunyai kesan apa pun. Setelah kita melihat gambar kehidupan kita, kita lupa bagaimana wajah kita. Kita tidak ingat bagaimana kita hidup selama ini. Tetapi, jika kita bercermin pada firman Allah yang hidup dan abadi, kita akan mengerti bagaimana penampilan hidup kita. Melakukan firman berarti kita melihat kepada Yesus dan diri kita sendiri di dalam Yesus untuk memperoleh kekuatan dan bimbingan untuk semua segi kehidupan kita. Melakukan firman Tuhan berarti bahwa kita melihat diri kita dalam hukum kerajaan surga dan kemudian kita hidup dalam visi itu. Kita melihat ke cermin itu, dan kita melakukan apa yang kita lihat. Ini lebih dari sekedar panduan moral. Ini bukan sekadar “Apa yang akan Yesus lakukan?” Itu sering terlalu abstrak dan sulit untuk kita digunakan. Sebaliknya kita harus bertanya, “Apa yang akan saya lakukan, jika saya berjalan bersama Yesus?”

Penulis buku Kristen yang sangat terkenal, C. S. Lewis, menyebut ini sebagai salah satu cara kita menggunakan imajinasi untuk meningkatkan kekudusan kita. Jika kita bisa melihat apa yang baik yang bisa kita lakukan dalam Kristus, itu bukanlah kemunafikan atau kesomnongan – sebaliknya, itu adalah upaya yang serius untuk berubah dalam pimpinan Roh. Kita membayangkan apa yang baik, dan itu bukanlah harapan yang kosong jika itu mengarah pada kenyataan. Itulah yang dilakukan anak-anak ketika mereka berlagak seperti orang dewasa agar mereka bisa tumbuh dewasa. Dan itulah yang dilakukan orang Kristen, dalam hidup kita yang sementara di dunia, ketika kita diperintahkan untuk taat kepada firman Tuhan agar kita mendapat kebahagiaan.

Memang, sebagian orang mungkin kurang merasakan pentingnya hidup dalam hukum yang bisa memerdekakan. Mereka mungkin mengira, penebusan oleh Yesus Kristus sudah cukup untuk membawa keselamatan. Bukankah hidup di surga lebih berharga dari hidup di dunia? Itu benar, tetrapi mereka lupa bahwa selagi hidup di dunia kita bisa dibebaskan dari pengaruh dosa kita. Memang selagi hidup di dunia orang Kristen tetap bisa berbuat dosa, tetapi dengan meneliti dan menjalankan hukum yang memerdekakan yaitu firman Tuhan, kita akan dimampukan untuk menghindari dosa. Itu bukan saja membawa kedewasaan iman, tetapi juga mendatangkan rasa puas dan bahagia atas hidup kita.

Pagi ini, jika anda bangun dan berkaca, apakah anda melihat wajah seorang manusia yang ditakdirkan hidup di dunia dan tidak berdaya dalam menghadapi dosa? Ataukah anda melihat adanya seorang manusia yang sudah dibebaskan dari dosa oleh Yesus Kristus? Firman Tuhan berkata bahwa jika anda mengerti adanya hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, anda akan bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya untuk kebaikan kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s