Apakah Tuhan sudah mengeraskan hatiku?

“Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: ”Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi.” Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.” Roma 9: 17-18

Kisah pembebasan orang Israel dari tanah Mesir yang tercatat dalam kitab Keluaran 1-18 adalah bagian yang sangat intens dari alkitab, yang menimbulkan beberapa pertanyaan teologis yang berat. Pertarungan antara Tuhan dan Firaun atas nasib bangsa Israel yang diperbudak adalah sangat menarik. Ini bahkan sudah ditampilkan dalam film epik “The Ten Commandments” yang dibintangi Chartlton Heston dan disutradarai oleh Cecil B. DeMille (1956).

Firaun adalah orang yang sangat jahat; sebenarnya ia adalah salah satu pemimpin terburuk yang pernah kita ketahui. Saat anda membaca cerita-cerita ini, anda mungkin tergoda untuk bertanya, siapa yang sebenarnya mengambil keputusan di sini? Apakah itu Tuhan? Jika demikian, mengapa dia membiarkan terjadinya persengketaan yang berlarut-larut antara Musa dan Firaun? Dan mengapa pertikaian ini menjadi begitu keras dan mencekam?

Firaun bukanlah satu-satunya raja yang disebut dalam kitab Keluaran. Penulis Keluaran tidak benar-benar menyebutkan nama Firaun yang menentang Musa (apakah dia Thutmose II atau III, atau Ramses I atau II?). Ini hampir pasti disengaja. Penulis tidak ingin kita berfokus pada satu raja. Sebaliknya, dia ingin kita melihat Firaun sebagai pola dasar dari pola pemberontakan manusia yang dimulai di taman Eden dan memuncak di Babel (Kejadian 3-11).

Firaun ini, atau firaun-firaun dari sepanjang zaman, adalah lambang kejahatan manusia. Firaun mewujudkan perubahan aneh dan tragis yang dapat terjadi dalam hati manusia ketika satu orang atau masyarakat menempatkan nilai dan kesejahteraan mereka sendiri di atas orang atau masyarakat lain. Firaun bisa juga merupakan apa yang terjadi ketika seluruh bangsa mendefinisikan kembali yang apa yang baik dan yang jahat terlepas dari hikmat Tuhan. Mereka akan mengalami nasib tragis di dunia.

Sebuah pertanyaan umum yang tentang cerita ini, menyangkut tema berulang dari “hati keras” Firaun. Terkadang kita diberitahu bahwa Firaun mengeraskan hatinya melawan Tuhan, tetapi di lain waktu kita membaca bahwa Tuhan mengeraskan hatinya. Siapa sebenarnya dibalik semua ini? Dan apakah yang diceritakan kisah ini adalah tentang hubungan Tuhan dengan kejahatan manusia dalam sejarah, atau dalam hidup kita sendiri? Jawabnya: kedua-duanya.

Tuhan yang mengetahui hati manusia dan dapat mengantisipasi tanggapan mereka, adalah sebuah kenyataan yang bergema di seluruh Alkitab. Tuhan jelas bermaksud dari mulanya untuk menghancurkan Firaun, tetapi apakah itu berarti Tuhan bertanggung jawab atas pemberontakan Firaun dari awal hingga akhir? Jika kita tidak mau mendengarkan suara Tuhan dan mengabaikan firman-Nya, apakah Tuhan yang membuat hati kita menjadi keras? Jika kita hidup tidak sesuai dengan kehendak-Nya yang sudah dinyatakan, apakah itu juga kehendsk-Nya?

Dalam pertemuan pertama Musa dan Firaun (Keluaran 7:13-14), hati Firaun memang “menjadi keras.” Kata kerja Ibrani untuk “menjadi keras” (diucapkan, khazaq) bukanlah kata kerja pasif, tetapi juga tidak menunjukkan siapa yang memulai tindakan (ini disebut kata kerja “statif”, artinya tidak mengatakan apakah itu Firaun atau Tuhan). Tetapi, Alkitab bahasa Indonesia berulang kali menulis “Tuhan mengeraskan’.

Dengan demikian, ada orang yang berpikir bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun sejak awal, sekalipun ini bukan seperti yang dikatakan teks asli Alkitab. Kalau kita teliti, ada pola yang menarik muncul. Dalam lima tulah pertama yang Tuhan kirimkan ke Mesir, pengerasan hati Firaun terjadi atas kehendaknya sendiri. Dalam lima tulah terakhir, polanya berubah.

Mengapa penulis menggunakan “teknik bolak-balik” ini dalam menggambarkan isi hati Firaun? Itu semua adalah bagian kondisi manusia dalam cerita ini, yaitu tentang sifat misterius kejahatan manusia. Tuhan memanggil Firaun untuk merendahkan dirinya dan mengakui bahwa Tuhan adalah otoritasnya dan bahwa dia tidak dapat mendefinisikan kembali yang baik dan yang jahat dalam istilah Mesir. Tanggapan Firaun (Keluaran 5:1-2) adalah menolak Allah Israel. Setelah ini, Tuhan memberi Firaun lima kesempatan untuk bertobat dan merendahkan diri. Dan lima kali Firaun mengeraskan hatinya.

Pada akhirnya, apakah itu Tuhan atau Firaun yang menyebabkan, di akhir sepuluh tulah, Firaun ingin bangsa Israel pergi. Setelah kehilangan putranya sendiri, Firaun membebaskan orang Israel. Tetapi, setelah itu, Firaun kembali berubah hati dan kembali pada keputusannya untuk tidak membiarkan orang Israel pergi (Keluaran 14:5). Firaun mengerahkan pasukannya dan kita membaca bahwa Tuhan “mengeraskan hati Firaun” (Keluaran 14:8). Kita tahu persis bagaimana cerita ini berakhir. Maksud jahat hati Firaun berbalik pada dirinya sendiri seperti sebuah bumerang, dan mengakibatkan bencana bagi dia dan bangsa Mesir.

Ayat pembukaan di atas, diambil dari Roma 9 adalah referensi terpanjang yang dibuat Paulus untuk Keluaran dalam Perjanjian Baru. Banyak yang menunjuk pasal ini untuk mengatakan bahwa Tuhan pada akhirnya berada di balik kejahatan Firaun sejak awal. Paulus menulis,”Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.” Roma 9: 17-18

Paulus melihat dalam hati Firaun yang keras, sebuah pola yang kembali bekerja pada zamannya sendiri, yaitu penolakan terhadap Yesus sang Mesias oleh banyak orang Yahudi sendiri. Dalam perikop ini, Paulus tidak memberikan komentar tentang tema rumit dari hati Firaun yang keras, juga tidak mengklaim bahwa hanya Tuhan yang bertanggung jawab. Paulus meringkas poin utama dari makna cerita Keluaran tentang kejahatan Firaun (tujuan Tuhan untuk memberkati tidak dapat digagalkan oleh kejahatan manusia yang keji) dan menerapkannya pada tragedi yang nyata di zamannya sendiri.

Eksekusi Yesus sebenarnya adalah bagian dari rencana Tuhan untuk membawa berkat bagi semua bangsa. Ini adalah eksplorasi Paulus tentang keadilan dan belas kasihan Allah. Fakta bahwa Tuhan dapat mengarahkan kejahatan ke arah tujuan-Nya tidak berarti Dia merekayasanya. Tuhan yang berdaulat selalu bisa mengatasi apa pun yang terjadi di dunia untuk mencapai rancangan-Nya. Firaun bertanggung jawab atas kejahatannya sendiri, sama seperti saudara-saudara Yusuf. Namun, tidak ada kekuatan kejahatan manusia yang dapat menolak tujuan Tuhan untuk membawa keselamatan dan berkat bagi semua bangsa.

Apa artinya ini bagi Firaun, dan apa artinya ini bagi kita? Ketika kejahatan manusia tidak terkendali, hal-hal buruk terjadi, dan orang jahat terkadang bisa berubah menjadi monster. Penulis Keluaran menunjukkan kepada kita bahwa Firaun bertanggung jawab atas kejahatan di dalam hatinya. Pada titik yang jelas dalam cerita (setelah tulah 5), Firaun melewati titik tidak bisa kembali (point of no return). Inti dari cerita ini bukanlah untuk memberitahu kita bahwa Tuhan merekayasa kejahatan dan membuat Firaun mengalami akhir hidup yang menyedihkan. Inti cerita ini bukanlah tetang Tuhan yang mahakuasa yang sudah menetapkan Firaun untuk melawan Dia. Ini juga berarti bahwa Tuhan tidak membuat manusia mana pun untuk melawan Dia. Manusia yang sudah jatuh dalam dosa, selalu bisa dan siap untuk berbuat dosa apa saja.

Hari ini, kita diingatkan: “Jangan seperti Firaun!” Hal-hal aneh terjadi di hati dan pikiran kita ketika kita membiarkan dorongan jahat dari sifat alami kita yang sudah rusak tidak terkendali. Tuhan akan selalu dengan murah hati menawarkan kita kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar (mungkinkah anda merasa Tuhan masih mau memberi banyak kesempatan?). Tetapi kadang-kadang orang memang merasa tidak peduli akan hidupnya, atau merasa bahwa semua sudah ditentukan oleh Tuhan dari awalnya; sehingga mereka tanpa sadar merusak diri sendiri dan mencapai titik tidak bisa kembali. Tuhan dapat dan kadang-kadang akan membiarkan kejahatan kita menghancurkan kita. Selagi masih ada waktu, mariah kita renungkan keadilan dan belas kasihan Tuhan yang misterius, yang ingin menyelamatkan kita dari ulah kita sendiri.

… Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! Yakobus 4: 6-7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s