Iman dan hidup adalah kesatuan

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2:26

Mungkin Anda masih berlibur saat ini. Hari kedua setelah hari Natal, pikiran anda masih ingin beristirahat. Tetapi, mungkin ini saat yang tepat bagi Anda untuk mengasah otak. Ayat diatas menyatakan bahwa tubuh tanpa roh = mati. Lebih lanjut, iman tanpa perbuatan = mati. Lalu apakah tubuh tanpa roh adalah sama dengan iman tanpa perbuatan? Itu ada benarnya secara logika, tetapi kurang tepat ditafsirkan begitu. Tubuh tanpa roh adalah mati jasmani, tetapi iman tanpa perbuatan adalah mati rohani. Dengan demikian, jika kita sebagai umat Kristen yang memiliki hidup jasmani dan hidup rohani, kita harus bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan iman kita selama kita hidup di dunia.

Iman tanpa perbuatan baik disebut mati karena kurangnya perbuatan baik itu mengungkapkan kehidupan yang tidak diubahkan, serta hati yang mati secara rohani. Ada berbagai ayat yang menjelaskan bahwa iman sejati yang menyelamatkan akan menghasilkan kehidupan yang berubah, bahwa iman terbukti oleh perbuatan kita. Cara hidup kita mengungkapkan kepercayaan kita dan apakah iman yang kita akui benar-benar iman yang hidup.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Apa yang ditulis oleh rasul Yakobus terkadang diceraikan dari konteksnya demi menciptakan sistem kesalehan beragama yang didasari perbuatan baik, padahal berlawanan dengan pengajaran lainnya di dalam Alkitab. Yakobus bukan mengajar bahwa perbuatan baik dapat membenarkan kita di hadapan Allah, melainkan bahwa iman sejati akan terbukti oleh perbuatan baik. Perbuatan baik bukanlah penyebab keselamatan; perbuatan baik adalah bukti keselamatan. Iman sejati di dalam Kristus selalu menghasilkan perbuatan baik. Orang yang mengklaim dirinya Kristen tetapi hidup dalam ketidaktaatan pada Kristus yang disengaja, imannya palsu dan ia tidak selamat.

Dalam tulisannya, Yakobus membandingkan dua jenis iman yang berbeda – iman sejati yang menyelamatkan dan iman palsu yang mati. Banyak orang Kristen yang yakin bahwa menjadi umat Tuhan cukup dengan iman. Mereka dengan mulut mengaku percaya, tetapi dalam hidup tetap menjalankan kebiasaan lama. Dengan demikian perlu dipertanyakan apakah tujuan mereka untuk menjadi umat Tuhan, jika tidak untuk hidup sesuai dengan perintah Tuhan dan untuk memuliakan-Nya? Orang yang demikian sering tidak mau menekankan pentingnya perbuatan baik dan nilai-nilai moral Kristen dengan alasan bahwa jika orang sudah diselamatkan, itu hanya karena karena Tuhan dan karena itu perbuatan manusia tidaklah mempunyai arti dalam konteks keselamatan.

Sudah tentu pandangan sedemikian adalah keliru. Tetapi mereka yang menganut faham itu sudah tentu tidak merasa atau tidak mau dituduh sesat. Dalam hidup Kristen, seharusnya setiap orang mempunyai tujuan dan mau bekerja untuk mencapainya. Lebih dari itu, orang juga mengharapkan hasil yang sesuai dengan tujuan dan cara hidupnya. Memang ada tiga hal yang penting dalam hidup: tujuan, cara dan hasil. Jika kita mau menjadi umat Tuhan, kita harus mempunyai tujuan hidup yang benar, cara hidup yang benar dan dengan demikian berharap untuk mendapatkan hasil yang baik.

Menjadi sempurna di dalam Kristus tidaklah terjadi dalam sekejap mata, itu adalah proses penyucian seumur hidup. Dalam hal ini ada orang yang menafsirkan bahwa Yesus sebenarnya tidak mengharapkan kesempurnaan tetapi kedewasaan. Apa pun penafsiran kata aslinya (bahasa Yunani: teleios), jelas bahwa tiap orang Kristen harus mengalami perubahan selama hidup di dunia.

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” Filipi 3: 12

Dalam perspektif Alkitab, tujuan hidup yang utama berdasarkan ayat di atas adalah untuk menjadi seperti Yesus. Dengan tujuan ini, kita bisa memilih apa yang perlu dilakukan dan cara hidup yang harus dijalani. Ayat ini tidak menyatakan bahwa kita harus mencapai kesempurnaan agar dapat mencapai keselamatan. Kita tahu bahwa keselamatan adalah karunia Tuhan. Tetapi Yesus dalam Matius 5 menetapkan tujuan hidup yang seharusnya dilaksanakan setiap orang Kristen, agar mereka menjadi manusia dewasa yang hidup dalam kasih seperti Tuhan mengasihi kita. Selain itu, dari apa yang baik (buah-buah Roh), orang Kristen bisa terlihat apakah ia benar-benar sudah diselamatkan.

Banyak orang mengaku sebagai Kristen, namun kehidupan dan prioritas mereka menunjukkan kenyataan yang sesungguhnya. Yesus mengutarakannya demikian:

“Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:16-23.

Kesalahpahaman terkait hubungan di antara iman dan perbuatan datangnya dari penyalah-tafsiran ajaran Alkitab mengenai keselamatan. Pada umumnya ada dua kesalahan yang muncul dalam pengertian iman dan perbuatan. Kesalahan yang pertama ialah bahwa, selama seseorang pernah mengucapkan doa atau pernah berkata, “Saya percaya Yesus,” maka ia selamat tanpa pengecualian apa pun. Ajaran ini dikenal dengan ungkapan “pembaruan mengikuti keputusan,” dan sangat berbahaya.

Begitu juga ajaran”pembaharuan terjadi pada saat diselamatkan“. Idenya ialah bahwa pengakuan iman yang dikerjakan Tuhan akan menyelamatkan seseorang, dan orang itu diselamatkan tanpa harus bereaksi atas panggilan Tuhan, walaupun ia hidup bagaikan iblis setelahnya, dan dapat dimasukkan kategori “Kristen karnal.” Ajaran ini menyepelekan gaya hidup yang bejat: seseorang dapat meneruskan hidupnya sebagai pezinah yang tidak bertobat, suka berzinah, pembohong, atau pencuri, namun ia selamat; karena ia “sudah dipilih Tuhan”. Namun, sebagaimana kita jumpai dalam Yakobus 2, pengakuan iman yang kosong – pengakuan yang tidak menghasilkan hidup yang taat kepada Kristus – adalah iman yang mati, yang tidak dapat menyelamatkan. Tuhan tidak memilih orang-orang untuk diselamatkan tanpa menimbang kesetiaan iman mereka.

Kesalahan ketiga terkait iman dan perbuatan adalah ajaran sesat bahwa “untuk diselamatkan orang harus berbuat baik atau melaksanakan hukum Taurat”. Upaya mendapatkan keselamatan dengan mencampurkan iman dan perbuatan sangat berlawanan dengan Alkitab. Kita dibenarkan oleh kasih karunia melalui iman, dan akibat alami dari iman di hati ialah perbuatan yang dapat diamati. Perbuatan yang mengikuti keselamatan tidak membenarkan kita di hadapan Allah; perbuatan itu hanya mengalir dari hati yang diperbarui sama seperti air mengalir dari mata air yang hidup.

Keselamatan adalah tindakan berdaulat Allah dimana seseorang berdosa mengalami “permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” yang dicurahkan di atasnya sehingga ia lahir kembali. Ketika hal ini terjadi, Allah memberi orang berdosa yang telah diampuni sebuah hati baru dan menaruh roh yang baru di dalamnya. Allah mencabut hatinya yang telah dikeraskan oleh dosa dan mengisinya dengan Roh Kudus. Roh ini menyebabkan orang yang diselamatkan bisa berjalan dalam ketaatan kepada Firman Allah.

Iman tanpa perbuatan disebut mati karena yang terungkap ialah fakta bahwa hati orang itu belum diubah oleh Allah. Ketika kita diperbarui oleh Roh Kudus, kehidupan kita akan menyaksikan kehidupan baru itu. Perbuatan kita akan dikenal oleh ketaatannya kepada Allah. Iman yang tidak terlihat, dapat disaksikan secara nyata oleh kehadiran buah-buah Roh yang menghiasi kehidupan kita (Galatia 5:22). Orang Kristen adalah milik Kristus, Sang Gembala yang Baik. Sebagai domba-Nya kita mau mendengar suara-Nya dan mengikuti Dia (Yohanes 10:26-30). Inilah yang harus kita sadari dalam memasuki tahun yang baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s