Warisan apa yang ingin Anda berikan?

Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Lukas 12: 13

Warisan adalah sesuatu yang diberikan atau ditinggalkan oleh orang tua kepada anak-anak mereka, umumnya sesudah mereka tidak membutuhkannya. Di negara maju, orang tua menentukan jumlah warisan kepada anak-anak mereka melalui surat wasiat yang disahkan ahli hukum. Dalam hal ini, seharusnya tidak ada perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan mengenai hak mewarisi harta orang tua. Tetapi, pada zaman Perjanjian Lama situasi sangat berbeda. Alkitab memberikan pedoman khusus untuk mewarisi properti keluarga: anak laki-laki tertua harus mewarisi dua bagian (Ulangan 21:15-17); jika tidak ada anak laki-laki, anak perempuan baru boleh mewarisi tanah ayahnya (Bilangan 27:8). Tidak mengherankan bahwa sering pertentangan sengit terjadi antar saudara yang berebut warisan setelah orangtua mereka meninggal dunia. Gara-gara warisan fisik, hubungan keluarga bisa berantakan.

Yesus dalam ayat-ayat di atas menerima permintaan seseorang yang dicurangi oleh saudaranya yang tidak mau membagi warisan orangtua mereka. Tetapi Yesus menolak permintaan itu dengan alasan bahwa Ia bukanlah hakim atau pengantara yang diangkat untuk menyelesaikan masalah mereka. Memang itu betul, tetapi sebenarnya Yesus tidak tertarik untuk menjadi hakim atau pengantara dalam hal warisan jasmani. Sebaliknya, Ia berkata kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Yesus menyatakan bahwa memperoleh harta warisan duniawi belum tentu akan membawa kebahagiaan. Dengan demikian, orang tua yang memberi warisan kepada anak-anaknya belum tentu menambah kebahagiaan mereka.

Perjanjian Baru memang tidak berbicara tentang warisan jasmani, melainkan warisan rohani. Karena itu, Yesus meremehkan pentingnya warisan duniawi, dengan menjelaskan bahwa hal itu justru dapat menyebabkan keserakahan dan obsesi terhadap kekayaan. Jauh lebih baik menyimpan harta di surga. Warisan kita, seperti bangsa Israel, berasal dari Allah (Kisah Para Rasul 20:32). Dan, seperti Abraham, kita tidak akan menerima warisan kita dalam hidup ini (1 Petrus 1:4). Kalau begitu, apakah warisan yang dapat kita harapkan? Ayat 1 Korintus 2:9 mengatakan betapa ajaibnya, bahwa “yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia, semua itu telah disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia.” Dan Wahyu 21 menggambarkan langit baru dan bumi baru di mana Tuhan akan tinggal di antara umat-Nya dan menghapus air mata, ratapan, rasa sakit, dan kematian. Warisan rohani dari Allah adalah untuk kita setelah kita meninggalkan dunia ini.

Sebagai orang percaya, kita tidak lagi terikat pada Hukum Perjanjian Lama. Sebaliknya, kita harus mengikuti dua perintah terbesar – mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Matius 22:34-36). Perjanjian Lama menawarkan contoh-contoh praktis tentang bagaimana memenuhi perintah-perintah utama. Dalam hal warisan, itu termasuk keharusan orang tua untuk memastikan keluarganya terpelihara setelah kematiannya. Di zaman modern, ini tidak selalu berarti tanah, atau harta benda. Ini dapat mencakup menanamkan karakter yang baik, memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang cukup, atau melatih mereka dalam suatu profesi. Namun, kebanyakan orang yang berpikir tentang orang tua yang meninggalkan warisan untuk anak-anaknya, itu berkaitan dengan warisan yang berupa harta benda.

Alkitab dengan jelas mendukung gagasan tentang orang tua yang mewariskan harta benda/kekayaan/properti mereka kepada anak-anak mereka. Pada saat yang sama, orang tua hendaknya tidak merasa berkewajiban untuk menabung segalanya untuk warisan anak-anak mereka, dengan mengabaikan keperluan diri mereka sendiri dalam prosesnya. Orang tua tidak juga boleh menggunakan prinsip nepotisme untuk dengan cara curang membuka kesempatan kepada anak-anaknya untuk memperoleh jabatan atau pendidikan yang sebenarnya lebih pantas dimiliki orang lain.

Seharusnya orang tua tidak perlu merasa diharuskan atau berkewajiban untuk memberikan warisan. Tuhan tidak menuntut orang tua untuk memberi warisan jasmani. Tetapi, jika memang mungkin, itu harus menjadi tindakan kasih, yang dengan jujur menjadi cara terakhir untuk mengungkapkan kasih dan penghargaan orang tua kepada anak-anak. Namun, yang paling penting adalah tanggung jawab orang tua untuk memastikan anak-anak mengetahui warisan yang akan mereka terima jika mereka mengikuti Kristus. Orang tua harus mengajar anak-anak mereka tentang harapan Allah (Ulangan 6:6-7; Efesus 6:4) dan membawa anak-anak mereka kepada Kristus (Markus 10:14). Dengan cara ini, orang tua dapat menyokong anak-anak mereka sebaik mungkin selama hidup di dunia, sehingga mereka berjalan dalam kebenaran Tuhan.

Sekarang, jika Anda adalah orang tua, warisan apakah yang Anda prioritaskan untuk anak-anak Anda? Mungkin Anda ingin bekerja keras sampai hari tua supaya makin besar warisan Anda yang bisa diberikan kepada mereka. Sebaliknya, mungkin juga Anda merasa bahwa mereka tidak memerlukan warisan besar, tetapi justru perlu bagi mereka untuk bisa bekerja dan bertanggungjawab atas diri mereka sendiri. Mungkin juga Anda memberi contoh yang baik bagi anak-anak Anda untuk bisa menolong orang lain, ketka Anda membagi apa yang Anda punyai dengan orang-orang yang bukan sanak Anda. Atau mungkin juga Anda mengajarkan bahwa hidup manusia bukan untuk dipusatkan pada harta, tetapi pada usaha untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Apa pun yang Anda pilih, firman Tuhan mengingatkan:

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Matius 16: 26

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s