Kedaulatan Tuhan dan fatalisme

“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6:10


Apakah Anda percaya bahwa Tuhan adalah berdaulat dan kehendak-Nya harus terjadi? Saya yakin Anda akan menjawab “ya’ jika Anda pernah mengucapkan Doa Bapa Kami. Dalam doa itu ada kalimat ” Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga”. Setiap orang Kristen seharusnya percaya. Tetapi, setiap kali saya mendengar orang berbicara tentang iman Kristen sebagai pandangan fatalistik, saya bisa mengerti karena di antara orang Kristen sendiri ada yang percaya (seperti pengikut agama lain) dan menafsirkan bahwa Tuhan yang mahakuasa selalu memaksakan kehendak-Nya agar terjadi. Sebenarnya, jika ada satu hal yang tidak dimiliki oleh Kekristenan adalah fatalistisme.

“Fatalisme” berarti bahwa nasib manusia dikendalikan dan tidak bisa dielakkan, sehingga pada akhirnya menjadi bulan-bulanan dari takdir. Atau itu berarti bahwa hidup kita dikendalikan oleh kekuatan yang tidak berperasaan dan buta, yang hanya bekerja secara mekanistik. Bukan itu yang harus kita nyatakan ketika kita berbicara tentang kebebasan Kristen dan kedaulatan Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakuasa, tetapi bukan Tuhan yang sewenang-wenang. Bagaimana mungkin jika Tuhan sewenang-wenang, Ia justru membenci orang yang berlaku sewenang-wenang kepada sesamanya?

Dalam hal kedaulatan Tuhan dan kebebasan manusia, ada baiknya kita melihat apa yang dipercaya oleh pemimpin-pemimpin gereja di saat ini. Pendeta Tim Keller, sebagai contoh, menyatakan bahwa “Tuhan berdaulat, tetapi pilihan manusia penting”. Bagaimana bisa begitu? Pengakuan Westminster tahun 1646 Bab 9, Poin 1 memang menyatakan bahwa Allah telah menganugerahi kehendak manusia dengan kebebasan alami, yang tidak dipaksakan, atau, oleh kebutuhan mutlak apa pun dari alam, ditentukan untuk kebaikan, atau kejahatan, (Matius17:12; Yakobus 1:14; Ulangan 30: 19). Tuhan memberi kebebasan kepada manusia dan tidak memaksakan kehendak-Nya atas kebebasan itu, dalam memilih apa yang baik atau apa yang buruk.

Ini berarti bahwa manusia adalah agen bebas: (1) Bahwa manusia memiliki kekuatan sendiri; bahwa dia bergerak sendiri, dan tidak hanya bergerak seperti dia digerakkan dari luar. (2) Bahwa manusia selalu menghendaki menurut apa yang ada padanya; dan sesuai dengan pemahamannya pada saat itu, dia keinginan untuk berkehendak. (3) Manusia dilengkapi dengan alasan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, dan hati nurani untuk membedakannya yang benar dan yang salah, agar sesuai dengan keinginan dan akibatnya kehendak bisa rasional dan benar; namun keinginannya belum tentu baik, rasional, atau benar, tetapi mereka dibentuk di bawah terang akal dan hati nurani mereka, baik selaras atau bertentangan dengan mereka, sesuai dengan disposisi kebiasaan atau karakter moral jiwa mereka sendiri.

Jika manusia adalah bebas untuk memilih apa yang baik atau buruk menurut pemahamannya, di manakah kedaulatan Tuhan untuk bisa membuat apa pun terjadi sesuai dengan kehendak-Nya? Teolog RC Sproul menjelaskan bahwa pertama-tama, ketika kita berbicara tentang kedaulatan Tuhan, kita mengatakan bahwa Tuhan benar-benar berkuasa dan berdaulat atas segala sesuatu. Tidak ada yang terjadi terlepas dari kehendak-Nya, dalam arti tertentu. Namun, dalam konteks kedaulatan Allah, Allah dapat mengoperasikan kekuasaan berdaulat itu dengan berbagai cara. Tuhan dapat mengoperasikan kekuasaan kedaulatan-Nya secara aktif atau pasif.

Secara aktif, Tuhan dapat menentukan dengan membentuk peristiwa sejarah untuk mewujudkan apa yang akan Dia wujudkan. Dia dapat memerintahkan dunia secara sepihak untuk menjadi ada. Dia dapat menghidupkan kembali orang mati dengan kuasa perintah-Nya. Itulah seberapa besar kekuatan dan kasih yang Dia miliki. Dan kita membicarakannya dalam istilah kemahakuasaan, yaitu kekuatan mutlak atas tatanan ciptaan.

Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. Yeremia 18: 4

Allah juga menjalankan kuasa kedaulatan itu melalui operasi pasif melalui apa yang kita sebut sebagai “kuasa penahan”. Artinya, Tuhan dapat memberi kita kebebasan dalam batas-batas dan masih membawa kita ke mana kita ingin pergi atau membawa dunia ke mana Dia ingin pergi tanpa harus mengambil semua kebebasan kita untuk memilih dan kemauan kita. Pada pihak lain, Tuhan dapat menahan tindakan kita atau menyajikan peluang yang Dia tahu akan kita pilih jika Dia menempatkannya di hadapan kita. Itu karena Tuhan bukan saja mahakuasa, tetapi juga mahatahu dan mahabijaksana. Dia tetap bekerja sekalipun melalui cara pasif.

Anda mungkin meminta sebuah contoh tentang itu dan bagaimana Alkitab berbicara tentang kedaulatan Tuhan dan kebebasan manusia. Karena baru saja kita merayakan hari kematian dan kebangkitan Yesus, marilah kita meneliti apa yang dilakukan Tuhan.

Yesus harus mati, dan Alkitab mengatakan bahwa tidak mungkin dalam konteks kematian-Nya bahwa tulang-tulang Yesus dipatahkan. Apakah Anda ingat ayatnya? Yohanes 19:36. Tidak mungkin tulang Kristus dipatahkan. Dalam arti apa tidak mungkin tulang-tulang-Nya dipatahkan? Apakah karena manusia Yesus memiliki kekuatan di kaki-Nya yang secara intrinsik tidak bisa dihancurkan? Atau apakah tulang Yesus secara intrinsik rapuh seperti tulang manusia mana pun?

“Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.” Yohanes 19: 32-34

Praktik Romawi yang normal adalah membiarkan pria dan wanita yang disalibkan di kayu salib sampai mereka mati — dan ini bisa memakan waktu berhari-hari — dan kemudian membiarkan tubuh mereka yang membusuk tergantung di sana untuk dimakan oleh burung nasar. Jika ada alasan untuk mempercepat kematian mereka, para prajurit akan memukul kaki korban dengan palu besi (praktik yang disebut, dalam bahasa Latin, crurifragium). Terlepas dari syok dan kehilangan darah lebih banyak, langkah ini mencegah korban mendorong dengan kakinya agar rongga dadanya tetap terbuka. Ketika kaki dipatahkan, lengan kemudian segera menjadi tidak kuat, dan terjadilah asfiksia (kondisi ketika oksigen dalam tubuh berkurang yang bisa mengakibatkan penurunan kesadaran dan bahkan kematian).

Bukan karena Yesus memiliki struktur kerangka tubuh yang secara intrinsik tidak dapat dihancurkan yang membuat tulang-tulangnya tidak mungkin dipatahkan. Itu karena Tuhan telah memutuskan dengan otoritas kedaulatan-Nya bahwa tulang-tulang Putra terkasih-Nya tidak akan dipatahkan. Dan tidak ada kekuatan di langit dan bumi yang dapat menolak ketetapan Tuhan itu.

Jika prajurit itu mengambil palu dan menghantamkannya pada kaki Yesus, Tuhan akan “menggerakkan langit dan bumi” untuk menahan pilihan manusia itu agar tidak membawa hasil yang sebenarnya. Tetapi seperti kita baca, Tuhan tidak perlu bertindak karena prajurit itu mengambil keputusan untuk tidak mematahkan kaki Yesus. Bukan karena Tuhan memaksa prajurit itu untuk berpikir demikian.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu memakai pandangan fatalis untuk menjelaskan kedaulatan Tuhan. Tuhan berdaulat, tetapi keputusan manusia adalah penting supaya kebesaran Tuhan dinyatakan. Pandangan fatalistik bukan meninggikan kedaulatan Tuhan, tetapi sebaliknya merendahkan Dia, karena kita membatasi cara kerja-Nya. Kita tidak dapat menharapkan Tuhan berindak atas nama diri kita, karena setiap manusia harus bertanggung jawab atas hidupnya; dalam setiap tindakan kita baik itu baik ataupun buruk. Karena itulah kita harus berusaha mencari kehendak Tuhan sebelum kita mengambil keputusan. Jika kita yang sudah menerima Roh Kudus tidak bertindak atau tidak mau berbuat baik, itu pun adalah tindakan yang harus kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan.

Jika kita tidak mau bertindak karena kita menganggap Tuhan adalah kejam dan semena-mena, itu pun keputusan yang kita pilih dan harus dipertanggungjawabkan. Jika kita memandang Tuhan sebagai Oknum yang tidak memberi kebebasan memilih, itu pun keputusan kita yang tidak menghargai kebijaksanaan Tuhan yang sudah menciptakan kita sebagi gambar-Nya. Tuhan yang berdaulat tidak akan terkejut jika kita membuat tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya; sebaliknya kita akan terkejut jika apa yang kita kehendaki ternyata tidak terjadi karena kita mengabaikan firman-Nya.

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Amsal 3: 5-6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s