Mengapa Kenaikan Yesus Membawa Sukacita?

“Setelah Ia memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.” Lukas‬ ‭24‬:‭51‬-‭52‬

Pada hari Kamis kemarin, tidak semua denominasi gereja Kristen di dunia merayakan Hari Kenaikan Yesus. Hari itu tidak pernah menjadi hari libur di Australia. Di negara lain, ada gereja yang mengadakan ibadah khusus, ada juga yang tidak memberikan penekanan liturgis tertentu. Namun terlepas dari perbedaan tradisi itu, kenaikan Yesus ke surga adalah peristiwa yang sangat penting secara teologis. Mengapa demikian?

Tanpa kenaikan Kristus, pemahaman kita tentang keselamatan, pemerintahan Kristus, pengharapan orang percaya, dan kehadiran Roh Kudus menjadi tidak utuh. Kenaikan Yesus ke surga bukan sekadar “penutup cerita” setelah kebangkitan, melainkan bagian penting dari karya penebusan Allah.

Menarik sekali memperhatikan respons para murid ketika Yesus naik ke surga. Mereka tidak pulang dengan kesedihan mendalam, tetapi justru “sangat bersukacita.” Secara manusiawi, seharusnya mereka merasa kehilangan. Bukankah Guru yang mereka kasihi kini tidak lagi bersama mereka secara fisik? Namun para murid mulai memahami bahwa kenaikan Yesus bukanlah perpisahan yang tragis, melainkan kemenangan yang mulia.

Yesus tidak naik ke surga sebagai pribadi yang kalah atau melarikan diri dari dunia. Ia naik sebagai Raja yang menang atas dosa, maut, dan kuasa kegelapan. Salib bukan akhir yang menyedihkan. Kebangkitan membuktikan kemenangan-Nya atas maut, dan kenaikan menegaskan bahwa Kristus kini bertakhta dalam kemuliaan. Ia hidup dan memerintah.

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, perang, penyakit, perubahan ekonomi, dan kegelisahan manusia, orang percaya memiliki penghiburan besar: Tuhan kita bertakhta di surga. Dunia tidak berjalan tanpa kendali. Sejarah tidak bergerak secara kacau tanpa arah. Kristus yang naik ke surga adalah Kristus yang memegang pemerintahan atas segala sesuatu.

Kenaikan Yesus juga membawa sukacita karena Ia tidak meninggalkan umat-Nya sendirian. Sebelum naik, Yesus berjanji bahwa Roh Kudus akan datang menyertai mereka. Dahulu para murid hanya dapat bersama Yesus secara fisik di satu tempat tertentu. Tetapi melalui Roh Kudus, kehadiran Tuhan kini menyertai setiap orang percaya di mana pun mereka berada. Jadi kenaikan bukan berarti Yesus menjadi jauh, melainkan justru penyertaan-Nya menjadi dekat dan nyata di hati umat-Nya.

Selain itu, kenaikan Kristus mengarahkan pandangan orang percaya kepada pengharapan kekal. Yesus naik sebagai pendahulu bagi umat-Nya. Ia membuka jalan menuju rumah Bapa. Dunia ini bukan tujuan akhir kehidupan orang percaya. Ada kemuliaan kekal yang menanti. Karena itu, iman Kristen bukan sekadar tentang bertahan hidup di bumi, tetapi tentang pengharapan akan hidup bersama Kristus selama-lamanya.

Mungkin itulah sebabnya para murid dapat pulang dengan sukacita besar. Mereka sadar bahwa mereka tidak ditinggalkan. Tuhan mereka hidup, memerintah, menyertai, dan suatu hari aka datang kembali.

Sekarang kita juga hidup dengan iman yang sama. Kita tidak melihat Yesus dengan mata jasmani, tetapi kita percaya kepada Kristus yang bertakhta di surga. Dan justru di situlah sumber sukacita orang percaya: kita memiliki Juru Selamat yang hidup, berkuasa, dan setia memegang umat-Nya sampai akhir.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau adalah Raja yang hidup dan bertakhta di surga. Terima kasih karena kenaikan-Mu mengingatkan kami bahwa dunia ini tetap berada dalam tangan-Mu yang berkuasa. Saat hati kami gelisah oleh keadaan hidup dan dunia yang tidak menentu, kuatkanlah iman kami untuk memandang kepada-Mu.

Penuhi hati kami dengan sukacita dan pengharapan karena Engkau tidak meninggalkan kami. Ajarlah kami hidup sebagai umat yang menantikan kedatangan-Mu kembali dengan setia dan penuh pengharapan. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar