Buka Asal Percaya

”Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Kisah Para Rasul 16:31

Di zaman sekarang, kata “percaya” sering dipakai dengan sangat ringan. Orang berkata, “Saya percaya Tuhan,” tetapi maksudnya bisa sangat berbeda-beda. Ada yang percaya seperti percaya bahwa suatu informasi itu benar. Ada yang percaya hanya karena takut masuk neraka. Ada pula yang mengaku percaya karena merasa lebih “aman” memiliki agama untuk keperluan bisnis maupun politis daripada tidak memiliki agama sama sekali. Namun Alkitab menunjukkan bahwa iman yang menyelamatkan bukan sekadar pengakuan di bibir atau persetujuan di kepala.

Di tengah pembicaraan tentang iman dan keselamatan, sebagian orang ateis dan agnostik sering juga mempertanyakan konsep surga. Mereka berkata bahwa tidak ada seorang pun yang pernah pergi ke surga lalu kembali membawa bukti empiris bahwa surga itu benar-benar ada. Karena itu mereka menganggap iman kepada surga hanyalah harapan psikologis manusia untuk menghibur diri menghadapi kematian. Kekristenan memahami keberatan seperti ini, tetapi iman Kristen tidak dibangun di atas spekulasi kosong atau sekadar angan-angan.

Iman Kristen berdiri di atas pribadi Yesus Kristus yang bangkit dari kematian. Jika Kristus sungguh bangkit, maka janji-Nya tentang hidup kekal dan rumah Bapa bukanlah kebohongan. Orang percaya bukan sedang “bertaruh” secara buta, melainkan mempercayakan diri kepada Kristus yang hidup.

Ketika kepala penjara di Filipi bertanya kepada Paulus dan Silas, “Apakah yang harus aku perbuat supaya aku selamat?”, jawabannya sangat sederhana: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus.” Tetapi kesederhanaan kalimat itu bukan berarti dangkal. Kata “percaya” di dalam Alkitab memiliki kedalaman yang jauh melampaui sekadar keputusan intelektual.

Teologi Kristen menjelaskan bahwa iman yang menyelamatkan memiliki tiga unsur penting. Pertama adalah notitia, yaitu pengetahuan tentang kebenaran Injil. Seseorang harus mengenal siapa Yesus Kristus, mengapa manusia berdosa, dan bagaimana Kristus mati dan bangkit untuk menebus umat-Nya. Tidak mungkin seseorang percaya kepada Pribadi yang sama sekali tidak ia kenal.

Kedua adalah assensus, yaitu persetujuan bahwa Injil itu benar. Banyak orang mengetahui isi Alkitab, tetapi tidak semua menerima kebenarannya. Bahkan iblis pun tahu siapa Yesus. Pengetahuan saja tidak cukup. Seseorang dapat memahami doktrin keselamatan dengan sangat baik tetapi hatinya tetap jauh dari Tuhan.

Yang ketiga adalah fiducia, yaitu kepercayaan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Kristus. Inilah inti iman sejati. Bukan hanya tahu dan setuju, tetapi bersandar total kepada Yesus sebagai satu-satunya pengharapan hidup dan mati. Di titik inilah hati manusia yang baru bekerja. Orang yang sungguh percaya tidak lagi menggantungkan keselamatannya pada moralitas, amal, tradisi keluarga, atau kekuatan dirinya sendiri, melainkan hanya kepada anugerah Kristus.

Karena itu, iman Kristen bukan seperti konsep Pascal’s Wager atau “Taruhan Pascal”, yaitu percaya kepada Tuhan hanya demi berjaga-jaga supaya aman jika neraka ternyata benar-benar ada. Iman seperti itu pada dasarnya masih berpusat pada diri sendiri. Motivasinya bukan kasih kepada Tuhan atau kesadaran akan dosa, melainkan sekadar mencari keuntungan pribadi dan menghindari hukuman.

Alkitab berbicara tentang pertobatan sejati, metanoia, yaitu perubahan hati dan arah hidup. Ketika Roh Kudus bekerja, seseorang mulai membenci dosanya dan rindu hidup menyenangkan Tuhan. Ia bukan menjadi manusia sempurna seketika, tetapi ada arah hidup yang baru. Dahulu ia mencintai dosa dan tidak peduli kepada Tuhan. Sekarang ia jatuh bangun dalam pergumulan, tetapi hatinya mulai mengasihi Kristus.

Itulah sebabnya Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Perbuatan baik bukan syarat keselamatan, melainkan buah keselamatan. Pohon yang hidup akan menghasilkan buah. Demikian juga orang yang sungguh percaya akan menunjukkan perubahan hidup, meskipun tidak sempurna. Ada kerinduan untuk taat, mengampuni, mengasihi, hidup jujur, dan meninggalkan dosa.

Keselamatan bukan sekadar keputusan emosional sesaat, bukan pula hanya mengucapkan doa tertentu. Keselamatan adalah karya anugerah Allah yang menghidupkan hati manusia yang mati secara rohani sehingga ia sungguh-sungguh percaya kepada Kristus. Iman sejati bukan asal percaya. Iman sejati adalah penyerahan diri total kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Dan justru di situlah letak penghiburan terbesar bagi orang percaya. Keselamatan kita tidak bergantung pada kekuatan iman kita, tetapi pada Pribadi yang kita percayai, yaitu Kristus yang setia dan sempurna.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, kami bersyukur karena Engkau memberikan keselamatan oleh anugerah-Mu, bukan karena jasa atau kebaikan kami. Ajarlah kami untuk memiliki iman yang sejati, bukan hanya di pikiran atau di bibir, tetapi iman yang lahir dari hati yang telah diperbarui oleh Roh Kudus. Ampuni jika selama ini kami lebih mencari rasa aman daripada sungguh mengasihi dan mengikuti Engkau. Bentuklah hidup kami agar menghasilkan buah yang memuliakan nama-Mu. Tolong kami untuk bersandar sepenuhnya kepada-Mu dalam hidup dan mati. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar